Sukses

Ekonom: Inflasi Oktober 2022 Makin Terkendali Sudah Sesuai Prediksi

Liputan6.com, Jakarta Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat angka inflasi Oktober 2022 sebesar 5,71 persen. Ini memang mengalami penurunan dibanding inflasi September 2022, yang tembus 5,95 persen.

Pengamat Ekonomi dari Indonesia Strategic and Economic Action Ronny P Sasmita, mengatakan  kenaikan harga komoditas pokok sudah memasuki pola yang cukup normal, sehingga inflasi Oktober lebih rendah dibanding September 2022.

"Sesuai proyeksi saya, inflasi di bulan Oktober lebih rendah dibanding bulan September yang tercatat 1,17 persen month to month. Karena efek kenaikan harga-harga komoditas pokok akibat kenaikan harga BBM lebih banyak terjadi di bulan September. Jadi efek lanjutannya di bulan Oktober tidak terlalu signifikan," kata Ronny kepada Liputan6.com, Selasa (1/11/2022).

Artinya, kontributor kenaikan harga di bulan Oktober jauh lebih kecil ketimbang September. Dengan kata lain, keseimbangan antara permintaan dan penawaran (demand supply) untuk sementara waktu mulai terbentuk.

"Fluktuasi komoditas seperti cabe, telur, dan daging, akan menjadi pendorong inflasi. Hanya angkanya saya yakin tidak terlalu signifikan," ujarnya.

Di sisi lain, secara moneter, menurut dia, peran kenaikan suku bunga dua kali sejak September sudah mulai terasa. Dimana supply dan velocitas uang beredar mulai pelan-pelan melambat yang berkontribusi menekan permintaan.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 3 halaman

Inflasi Oktober 2022

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat inflasi Oktober 2022 mencapai 5,71 persen secara tahunan atau year on year (YoY). Itu melemah dibanding laju inflasi per September 2022 lalu, yang tembus 5,95 persen. 

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Setianto mengatakan, berdasarkan pantauannya dan tim di 90 kota, laju inflasi Oktober 2022 memang terlihat mulai melemah.

Sektor transportasi jadi penyumbang terbesar, dimana inflasinya mencapai 16,03 persen dengan andil 1,92 persen. 

Diikuti makanan, minuman dan tembakau dengan angka inflasi 6,76 persen dan andil 1,72 persen, lalu perawatan pribadi dan jasa lainnya dengan laju inflasi 5,41 persen, dan andil 0,34 persen.

Setianto mengatakan, inflasi sektoral tersebut tidak lepas dari kenaikan harga BBM yang terjadi sejak periode awal September 2022, meskipun beberapa produk seperti Pertamax turun harga di Oktober 2022.     ReplyForward

3 dari 3 halaman

Efek Harga BBM Naik, Inflasi Masih Terasa hingga Oktober 2022

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, kenaikan harga BBM jenis Pertalite dan Solar pada 3 September 2022 lalu masih memberikan dampak cukup besar terhadap laju tingkat inflasi Oktober 2022.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Setianto mengatakan, angka inflasi Oktober 2022 yang sebesar 5,71 persen memang mengalami pelemahan dibanding inflasi September 2022, yang tembus 5,95 persen.

"Untuk inflasi tahunan ini, kalau dilihat dari 2 bulan pasca penyesuaian harga BBM, tekanan inflasi komponen harga yang diatur pemerintah memang masih cukup tinggi. Ini didorong oleh kenaikan harga bensin, bahan bakar rumah tangga, dan tarif angkutan dalam kota," ujarnya, Selasa (1/11/2022).

Setianto menyebut, komponen harga yang diatur pemerintah mengalami inflasi tahunan sebesar 13,28 persen di Oktober 2022. Ini sama dengan kondisi September 2022 dengan andil 2,35 persen. "Ini akibat kenaikan BBM di tanggal 3 September yang lalu," imbuhnya.

Untungnya, laju inflasi bisa direm oleh komponen harga bergejolak, yang angkanya turun dari 9,02 persen di September 2022 menjadi 7,19 persen di Oktober 2022.

"Bisa dilihat harga bergejolak mengalami penurunan dari bulan-bulan sebelumnya. Ini yang meredam kenaikan inflasi tahunan kita. Disebabkan penurunan beberapa harga komoditas pangan," kata Setianto.

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS