Sukses

Siap Siap Ekonomi Melemah, Konflik China - Taiwan Pengaruhi Ekspor Indonesia

Liputan6.com, Jakarta - Pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal II 2022 tercatat 5,44 persen. Pelonggaran aktivitas masyarakat oleh pemerintah menjadi salah satu penyebab pertumbuhan ekonomi Indonesia

Direktur Center of Economics and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menilai, pertumbuhan ekonomi di kuartal selanjutnya akan lebih berat dari yang dibayangkan. Alasannya, tantangan yang harus dihadapi Indonesia bertambah lagi yaitu adanya ketegangan atau konflik China - Taiwan.

Kondisi geopolitik ini diperkirakan berdampak lebih buruk bagi Indonesia ketimbang konflik yang sudah geopolitik lain yang sudah ada yaitu antara Rusia dengan Ukraina.

"Konflik China dan Taiwan diperkirakan memperburuk rantai pasok yang menimbulkan pelemahan sisi investasi langsung," kata Bhima saat dihubungi merdeka.com, Jakarta, Jumat (5/8/2022).

Dampak lebih lanjut ketegangan baru ini bagi Indonesia karena Taiwan berada di tengah konflik China dan Amerika Serikat (AS) yang lebih luas. Dua negara raksasa ini memiliki kaitan terhadap tujuan ekspor tradisional Indonesia masing-masing 21 persen dan 11 persen dari total ekspor.

"Artinya, 32 persen atau sepertiga ekspor Indonesia terancam, dan menurunkan surplus neraca dagang," kata Bhima.

Secara geografis, posisi Taiwan juga berada di Asia yang berarti statusnya lebih berpengaruh dibanding Ukraina-Rusia. Selain itu, persepsi investasi di kawasan Asia akan dipengaruhi kelanjutan konflik di Taiwan.

Selain itu, langkah China memberi sanksi ke Taiwan menambah panjang deretan negara yang melakukan proteksi ekspor pangan. Mengingat setelah sebelumnya ada 30 negara yang lakukan hal serupa dengan berbagai alasan.

Di sisi lain, kondisi ini menjadi kesempatan baru bagi Indonesia untuk penetrasi ekspor makanan jadi, buah buahan dan sayuran ke Taiwan. Sejauh ini ekspor sayuran ke Taiwan cukup besar.

"Indonesia juga memiliki keunggulan kompetitif dalam bahan baku makanan minuman dan makanan jadi," kata dia.

Hanya saja, secara risiko jika Taiwan dan China jadi mengalami perang dagang maka eskalasi konflik akan mempengaruhi pasokan semiconductor. Sehingga penjualan mobil di Indonesia bisa tertekan.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 3 halaman

Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II 2022 Tembus 5,44 Persen

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2022 tembus 5,44 persen secara tahunan (year on year/YoY) dibandingkan kuartal I pada 2021 sebelumnya.

"Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2022 bila dibandingkan dengan triwulan I 2022 tumbuh 3,72 persen. Bila dibandingkan kuartal II 2021, tumbuh 5,44 persen," terang Kepala BPS Margo Yuwono dalam sesi teleconference, Jumat (5/8/2022).

Secara kumulatif, Margo mengatakan, ekonomi Indonesia di sepanjang semester I 2022 ini sukses tumbuh 5,23 persen dibandingkan dengan semester I 2021.

Merujuk pada catatan peristiwa domestik, capaian tersebut berhasil diperoleh karena adanya mobilitas yang makin tinggi dibanding periode-periode sebelumnya.

"Untuk mobilitas terjadi kenaikan penumpang untuk seluruh moda transportasi. Rilis BPS sebelumnya disampaikan, selama Q2 ini penumpang transportasi tumbuhnya sangat signifikan, baik secara q2q maupun secara YoY," imbuhnya. 

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

3 dari 3 halaman

Kebijakan

Dari sisi pemerintah dan Bank Indonesia, juga berupaya bagaimana melakukan kebijakan untuk meminimkan dampak tekanan global terhadap indonesia.

"Pertama, subsidi dan bantuan sosial, realisasinya pada triwulan 2 meningkat cukup tajam. Secara YoY meningkat 11,24 persen untuk subsidi energi, dan bansos meningkat 56,17 persen," papar Margo.

Pada sisi moneter, Bank Indonesia juga masih menahan kenaikan suku bunga acuan di level 3,5 persen. Sehingga itu memberikan dampak kondusif terhadap pelaku usaha.

"Daya beli masyarakat masih tumbuh juga dengan mempertimbangkan inflasi, khususnya inflasi inti. Inflasi inti masih terjaga meski ada kenaikan. Itu menggambarkan daya beli makin baik, inflasi inti 2,63 persen di akhir Juni 2022," tuturnya.

Reporter: Anisyah Al Faqir

Sumber: Merdeka.com