Mantap, Ketahanan Ekonomi Indonesia Lebih Baik dari AS dan China

Kondisi ketahanan fundamental ekonomi Indonesia lebih baik dibandingkan negara lain. Hal itu terlihat dari tingkat inflasi yang dialami negara lain yang tinggi.

Diterbitkan 02 Agustus 2022, 12:45 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Suahasil Nazara, mengatakan kondisi ketahanan fundamental ekonomi Indonesia lebih baik dibandingkan negara lain. Hal itu terlihat dari tingkat inflasi yang dialami negara lain yang tinggi.

“Kita lihat di Amerika Serikat pertumbuhan ekonomi sudah sempat negatif yang Q2 nya bahkan 2 kuarter berturut-turut mengalami penurunan dan yang terakhir itu di bawah nol," kata Suahasil dalam Mid Year Economic Outlook 2022, Selasa (2/8/2022).

"Tiongkok kalau dilihat di Q2 ini 0,4 persen, Tiongkok yang kita tahu Biasanya pertumbuhan yaitu ada di level atas sekarang tumbuhnya tipis sekali,” lanjut dia.

Begitupun dilihat dari sisi Consumer confidence index di Amerika Serikat menunjukkan tren yang menurun. Menurutnya, hal itu harus disikapi dengan sangat hati-hati dan Indonesia harus selalu memantau posisi ekonomi negara-negara lain untuk memperkuat ketahanan dan melakukan pengaturan terhadap kebijakan-kebijakan dalam negeri.

Wamenkeu pun membandingkan Indonesia dengan negara-negara lain dalam konteks PDB. Produk Domestik Bruto (PDB) riil Indonesia pada 2021 sudah berada di level sebelum terjadi pandemi Covid-19.

“Kita termasuk yang sudah artinya sudah melewati kondisi 2019, kalau kita lihat level PDB riil Q1 2022 terhadap rata-rata 2019 kita juga sudah di zona yang positif. Lihat bahwa banyak negara peer  grup kita yang masih dibawah belum kembali ke level 2019 kita termasuk negara yang sudah kembali,” katanya.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Inflasi

Dari sisi inflasi, Indonesia inflasinya masih rendah dibandingkan negara lain, yakni Australia diangka 5,1 persen, kemudian negara Argentina dan Turki inflasinya diatas 76 persen. Artinya, kondisi fundamental ekonomi Indonesia masih kuat.

“Inflasi ini akan meningkat angka Indonesia ada di 4,44 persen bulan Juni dan kemarin Badan Pusat Statistik baru mengeluarkan angka 4,9 persen. Jadi, posisi kita belum terlalu berubah karena Australia yang lebih sedikit lebih tinggi dari kita ada di 5,1 persen. Negara-negara lain banyak sekali yang menghadapi inflasi yang lebih tinggi jauh lebih tinggi dari Indonesia,” ungkapnya.

Suahasil mengatakan, stabilitas ekternal Indonesia yakni current account defisit sebagai persentase terhadap PDB Indonesia masih positif.

“Jadi, kita current account surplus  0,3 persen dari PDB. Kalau kita lihat budget defisit budget deficit kita di sekitar 4,6 persen dan bisa dilihat negara-negara yang budget defisit yaitu pembiayaannya itu bahkan bisa ke arah double digit dari PDB nya,” ujarnya.

Menurutnya, Indonesia termasuk  yang sangat moderat. Fundamental ekonominya masih terjaga meskipun defisit di atas 3 persen, tapi Pemerintah terus berusaha menjaga posisi tersebut.

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Inflasi Inti Juli 2022 Naik Dampak Orang Berlomba Beli Mobil

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan angka inflasi Juli 2022 di angka 4,94 persen secara tahunan atau year on year (YoY). Bank Indonesia (BI) tak ingin angka inflasi tersebut terlalu dipermasalahkan.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan, BI melihat bahwa angka inflasi tersebut tidak perlu dikhawatirkan berlebih lantaran laju inflasi inti masih terjaga di bawah 3 persen.

"Inflasi inti masih sangat rendah, bahkan lebih rendah dari perkiraan Bank Indonesia. Pada bulan Juli, inflasi inti 2,86 persen lebih rendah dari perkiraan Bank Indonesia, sekitar 2,99 persen," beber Perry, dalam konferensi pers hasil rapat berkala Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), Senin (1/8/2022) sore.

Senada, Direktur Eksekutif sekaligus Kepala Departemen Komunikasi BI, Erwin Haryono, memperkuat pernyataan tersebut. Dia menyebut inflasi inti pada Juli 2022 terjaga rendah sebesar 0,28 persen (mtm), sebagaimana inflasi inti pada Juni 2022 yang sebesar 0,19 persen (mtm).

"Peningkatan tersebut terutama dipengaruhi oleh inflasi komoditas mobil dan sewa rumah, yang didorong kenaikan mobilitas masyarakat," jelas Erwin dalam keterangan tertulis, Selasa (2/8/2022).

"Peningkatan lebih lanjut tertahan oleh deflasi komoditas emas perhiasan seiring dengan pergerakan harga emas global," imbuhnya.

Secara tahunan, inflasi inti Juli 2022 masih terjaga rendah sebesar 2,86 persen (yoy), meski sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan inflasi pada bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 2,63 persen (yoy).

"Terjaganya inflasi inti tersebut didukung oleh konsistensi kebijakan Bank Indonesia dalam menjaga ekspektasi inflasi," ujar Erwin.

Sri Mulyani: Inflasi Indonesia Tak Setinggi Thailand, India dan Filipina

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati angkat bicara soal laju inflasi pada Juli 2022 yang mencapai 4,94 persen secara tahunan atau year on year (YoY). Angka tersebut melonjak dari bulan sebelumnya (Juni 2022), dimana inflasi menyentuh posisi 4,35 persen YoY.

Inflasi sebesar 4,94 persen cenderung masih lebih terkendali dibanding guncangan yang terjadi pada negara-negara yang selevel dengan Indonesia. Dalam hal ini, ia menyebut beberapa negara seperti Thailand, India dan Filipina.

"Dengan angka tersebut, dibandingkan dengan negara-negara selevel dengan Indonesia seperti Thailand yang sudah mengalami inflasi hingga 7,7 persen, India di 7 persen, dan Filipina di 6,1 persen, maka inflasi Indonesia yang 4,94 persen year on year masih relatif moderat," papar Sri Mulyani saat konferensi pers hasil rapat KSSK, Senin (1/8/2022).

Menurut dia, laju inflasi domestik memang menunjukan tren meningkat, disebabkan karena sisi penawaran seiring dengan kenaikan harga-harga komoditas dunia, dan juga ada gangguan pasokan di domestik.

"Meskipun inflasi headline meningkat, inflasi inti atau core inflasi tetap terjaga pada tingkat 2,86 persen year on year. Hal ini didukung oleh konsistensi kebijakan Bank Indonesia dalam menjaga ekspektasi inflasi indonesia," ungkap Sri Mulyani.

Sri Mulyani pun tak memungkiri, inflasi pada komponen bergejolak atau volatile food mengalami kenaikan akibat lonjakan harga pangan global, hingga juga terganggunya pasokan akibat cuaca.

Sementara, inflasi pada kelompok kelompok harga diatur pemerintah (administered prices) juga mengalami kenaikan, dipengaruhi oleh kenaikan harga tiket angkutan udara.

Namun, Sri Mulyani menimpali, tekanan inflasi akibat kenaikan harga energi di tingkat global tidak tertransmisikan ke dalam negeri pada kelompok administered price, harga minyak gas dan listrik.

"Ini merupakan hasil kebijakan pemerintah untuk mempertahankan harga jual energi di domestik melalui kenaikan subsidi listrik dan energi BBM dan LPG yang dialokasikan oleh APBN," ujar Sri Mulyani.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6