Sukses

Rupiah Lesu Awali Pekan Ini Dihantui Resesi Global

Liputan6.com, Jakarta Nilai tukar rupiahmelemah pada awal pekan, seiring turunnya imbal hasil (yield) obligasi Pemerintah Amerika Serikat (AS).

Kurs rupiah pagi ini bergerak melemah dua poin atau 0,02 persen ke posisi 14.945 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya 14.943 per dolar AS.

Pengamat pasar uang Ariston Tjendra mengatakan, nilai tukar rupiah masih berpotensi tertekan terhadap dolar AS hari ini karena sentimen resesi dan Federal Reserve (Fed).

"Yield obligasi AS terlihat menurun drastis, yang artinya banyak pelaku pasar membeli obligasi AS beberapa hari belakangan ini untuk mengamankan nilai aset mereka," ujar Ariston, dikutip dari Antara, Senin (4/7/2022).

Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun sudah bergerak di bawah 3 persen yaitu di kisaran 2,88 persen.

Menurut Ariston, isu resesi menjadi penyebab beralihnya investasi pelaku pasar keuangan ke obligasi AS. Harga aset berisiko termasuk rupiah pun berpotensi dalam tekanan.

"Di tengah kebijakan pengetatan moneter bank sentral dunia ditambah inflasi yang tinggi, risiko resesi meningkat," kata Ariston.

 

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 3 halaman

Suku Bunga Acuan AS

Selain itu, lanjut Ariston, pelaku pasar juga masih mengantisipasi potensi kenaikan suku bunga acuan AS yang agresif oleh bank sentral AS, The Fed.

"Perbedaan yield antara Indonesia dan AS yang menyempit mendorong pasar mencari aman di aset dolar AS dibandingkan rupiah sehingga ini ikut memberikan tekanan ke rupiah," ujar Ariston.

Ariston memperkirakan hari ini rupiah akan bergerak melemah ke arah Rp14.980 per dolar AS hingga Rp15.000 per dolar AS dengan potensi support di level Rp14.900 per dolar AS.

Pada Jumat (1/7) lalu rupiah ditutup melemah 40 poin atau 0,26 persen ke posisi Rp14.943 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp14.903 per dolar AS.

3 dari 3 halaman

BI Klaim Pelemahan Rupiah Tak Seburuk Ringgit Malaysia

Bank Indonesia (BI) mengklaim, pelemahan nilai tukar Rupiah atau Depresiasi masih lebih baik ketimbang sejumlah negara berkembang lainnya di tengah tekanan geopolitik dunia akibat konflik Rusia dan Ukraina.

Tercatat, nilai tukar Rupiah sampai dengan 22 Juni 2022 terdepresiasi sekitar 4,14 secara year to date (ytd).

Gubernur BI Perry Warjiyo bilang, capaian tersebut lebih baik dibandingkan dengan depresiasi mata uang sejumlah negara berkembang kawasan Asia Selatan maupun Asia Tenggara. Seperti India 5,17 persen, Malaysia 5,44 persen, dan Thailand 5,84 persen.

"Depresiasi Rupiah masih lebih baik ketimbang mata uang sejumlah negara berkembang lainnya," ujarnya dalam video konferensi Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bulanan BI - Juni 2022, Kamis (23/6/2022).

Perry menjelaskan, depresiasi Rupiah tersebut sejalan dengan meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global akibat pengetatan kebijakan moneter yang lebih agresif di berbagai negara untuk merespons peningkatan tekanan inflasi dan kekhawatiran perlambatan ekonomi global.

Sementara itu, pasokan valas domestik tetap terjaga dan persepsi terhadap prospek perekonomian Indonesia tetap positif.

Ke depan, Bank Indonesia terus mencermati perkembangan pasokan valas dan memperkuat kebijakan stabilisasi kurs Rupiah sesuai dengan bekerjanya mekanisme pasar dan nilai fundamentalnya untuk mendukung upaya pengendalian inflasi dan stabilitas makroekonomi.

"Hal ini untuk mendukung pemulihan ekonomi nasional," tutupnya.