Sukses

BRI Ingatkan Nasabah Bahaya Begal Rekening: Jangan Pernah Sebar Data Pribadi

Liputan6.com, Jakarta - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau Bank BRI kembali mengingatkan nasabah soal penyebaran informasi yang tidak benar alias hoaks. Beredar penipuan dengan modus social engineering atau soceng mengatasnamakan Bank BRI  yang berujung pencurian data pribadi hingga menguras kantong rekening.

Modus yang juga sering disebut begal rekening ini masih marak terjadi dilakukan sejumlah oknum, utamanya melalui akun media sosial hingga nomor WhatsApp (WA).

"Pernah gak dapat chat WA dari seseorang yang mengatasnamakan BRI? Nah, wajib banget buat selalu berhati-hati terhadap informasi palsu (HOAX) yang mengatasnamakan BRI karena BRI tidak pernah melakukan Pembaharuan Layanan Tarif Baru melalui chat pribadi kepada nasabah," tulis BRI dalam pesan tertulis, Minggu (26/6/2022).

"Akibat kurang awas, saldo rekening bisa terkuras. Waspada modus social engineering agar transaksi perbankanmu selalu aman."

Dijelaskan BRI, social engineering merupakan sebuah teknik memperoleh informasi rahasia/penting dengan cara menipu atau memanipulasi korban.

Social engineering umumnya dilakukan melalui telepon, media sosial dan internet. Tapi, bisa juga saat bertemu langsung.

Oleh karenanya, BRI meminta kepada seluruh pengguna bank untuk waspada terhadap setiap email, WhatsApp, telepon, alamat web atau tautan, dan akun yang mengatasnamakan BRI.

"Hal lain yang ngga kalah penting yaitu pastikan tidak memberikan data pribadi kepada siapapun termasuk petugas BRI seperti PIN, User ID, Password, kode OTP, kode CVV/CVC, dan M-Token," imbuh BRI.

"Pastikan hanya menghubungi Contact BRI 14017/ 1500017, Sabrina 0812-12-14017 atau akun resmi social media BRI yang terverifikasi (centang biru/hijau)."

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 3 halaman

Penipuan Soceng Marak, OJK Jabarkan 4 Modus Pembobolan Rekening Lewat Social Engineering

Otoritas Jasa keuangan (OJK) meminta kepada masyarakat untuk mewaspadai penipuan dengam modus social engineering alias soceng. Modus yang juga disebut dengan begal rekening ini bisa menguras isi tabungan nasabah.

Modus penipuan soceng sangat viral di media sosial. Banyak nasabah bank yang melaporkan bahwa mereka kehilangan puluhan hingga ratusan juta rupiah karena peipuan modus social engineering.

Hanya dalam 5 menit para begal rekening ini mampu menguras habis uang nasabah di rekening bank dengan memanfaatkan kelengahan dan ketidaktahuan nasabah.

Nah, agar nasabah perbankan tak masuk dalam jeratan soceng, OJK pun kemudian mewanti-wanti dengan menjabarkan 4 modus soceng yang lagi marak.

Dikutip dari keterangan tertulis OJK, Jumat (17/6/2022), berikut rinciannya:

1. Info Perubahan Tarif Transfer Bank

Penipu berpura-pura sebagai pegawai bank dan menyampaikan informasi perubahan tarif transfer bank kepada korban. Penipu meminta korban mengisi link formulir yang meminta data pribadi seperti PIN, OTP dan password.

2. Tawaran menjadi Nasabah Prioritas

Penipu menawarkan iklan upgrade menjadi nasabah prioritas dengan segudang rayuan promosi. Penipu akan meminta korban memberikan data pribadi seperti Nomor Kartu ATM, PIN, OTP, Nomor CVV/CVC, dan password.

 

3 dari 3 halaman

3. Akun Layanan Konsumen Palsu

Akun media sosial palsu yang mengatasnamakan bank. Akun biasanya muncul ketika ada nasabah yang menyampaikan keluhan terkait layanan perbankan. Pelaku akan menawarkan bantuan untuk menyelesaikan keluhannya dengan mengarahkan ke website palsu pelaku atau meminta nasabah memberikan data pribadinya.

4. Tawaran Menjadi Agen Laku Pandai

Penipu penawaran jasa menjadi agen laku pandai bank tanpa persyaratan rumit. Penipu akan meminta korban mentrasnfer sejumlah uang untuk mendapatkan mesin EDC.

OJK menekankan, dalam menjalankan transaksi, petuga sbank tidak akan meminta atau menanyakan password, PIN, MPIN, OTP atau data pribadi.

Cek selalu keaslian telepon dan akun media sosial, email dan website bank.