Sukses

Cerita Pegawai BRI Bukit Tinggi Rahmat Kurniawan, Antarkan Debitur Kembangkan Usaha

Liputan6.com, Jakarta Kerja keras pasti akan membuahkan hasil. Hal tersebut yang diyakini pengusaha mukena bordir asal Bukit Tinggi, Sumatera Barat, bernama Rima Melati. Perempuan 31 tahun ini mampu mengembangkan bisnis mukena bordir yang penjualannya kini sudah merambah negara tetangga.

Namun selain kerja keras, Rima mengaku modal juga sangat penting. Sebab itu, dia mengatakan bantuan kredit modal usaha ikut memberi andil. Di awal usaha, Rima cuma memiliki modal Rp 10 juta saja. Dengan modal terbatas tersebut tentu saja bisnis mukena bordir yang ia jalankan perkembangannya juga tak maksimal.

Untuk itu, Rima memberanikan diri untuk meminjam dana dari bank. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI menjadi bank yang mau meminjamkan dana kepadanya. Di awal, ia mendapat pinjaman Rp 75 juta.

Pinjaman dari BRI tersebut mampu membuat bisnis Rima berkembang pesat. Karena tak pernah mangkir mencicil angsuran, Rima pun memberanikan diri untuk meminjam kembali ke BRI dengan nilai yang lebih besar. Tak tanggung-tanggung, ia mencari modal Rp 275 juta untuk memperluas usahanya.

Pinjaman berikutnya ke BRI pun disetujui dan mampu membuat usahanya berkembang pesat. Bahkan saat ini, mukena bordir yang dikembangkannya mampu menembus pasar Malaysia dan Singapura. Dengan segala usahanya, tak hanya mengembangkan usaha, Rima juga mampu memutar modal sehingga bisa membeli tanah.

“Sangat terbantu karena kalau tidak ada suntikan dana dari BRI kita tidak akan sampai sekarang. Pada awalnya itu waktu pas itu dikasih sama BRI Rp 75 juta Alhamdulillah lah bisa berkembang bisa kredit mobil sampai selesai,” ujar Rima, Senin (19/4/2021).

Biasanya Rima mengambil Tenor selama 1,5-2 tahun saja, sebab ia merasa mampu untuk membayar angsuran dalam jangka waktu tersebut. Bahkan selama pandemi covid-19 pun ia tidak meminta restrukturisasi atau minta penangguhan waktu kepada BRI.

“Tahap keduanya pinjam Rp 275 juta, mengambilnya 1,5 sampai 2 tahun paling lama. Setelah pinjaman kedua kan masih ingin punya target Alhamdulillah karena pinjaman BRI itu diputar dalam 1 tahun saya bisa beli tanah,” ungkap dia.

Bantuan Pelatihan

Tidak hanya mendapatkan bantuan kredit modal usaha, Rima juga mengaku mendapatkan pembinaan dan pelatihan dari BRI pada saat itu.

Hasil dari pelatihan tersebut, dirinya banyak mendapatkan hal positif, seperti mendapat relasi sesama UMKM dan wawasan baru terkait pengembangan usaha.

“Ada pembinaan dulu di hotel, pembinaan untuk 10.000 UMKM saya diikut sertakan. Itu disampaikan bagaimana pemasaran barang, terus pembinaan kewirausahaan, kita nambah relasi kenalan dengan UMKM yang lain, kemudian bertambahlah sokongan dana untuk maju dari BRI pokoknya banyak manfaatnya,” jelasnya.

Demikian, Perempuan asal Bukittinggi ini berharap usahanya semakin maju dan BRI bisa semakin membimbing para UMKM-UMKM sepertinya agar bisa naik kelas. Di samping itu, Rima juga berharap BRI bisa meliriknya untuk diikutsertakan dalam suatu pameran yang diadakan oleh BRI kelak.

“Pokoknya kalau pun ada kekurangan dana BRI pun selalu membantu jangan patah arah dan semoga pandemi pun cepat berlalu dan kita semakin maju,” pungkasnya.

 

2 dari 3 halaman

Dorong Pemberdayaan Perempuan

Selama ini BRI bukan hanya sekedar pemberi layanan perbankan. Bank BUMN ini juga memiliki fokus untuk membantu pengusaha membesarkan bisnisnya. Termasuk para pengusaha perempuan. 

Seperti diungkapkan, Rahmat Kurniawan (36 tahun), Relationship Manager (RM) BRI Cabang Bukit Tinggi.

Dipastikan, BRI terus mendorong pemberdayaan bagi kaum perempuan dan mendukung perempuan Indonesia untuk berkarya dan memberi inspirasi bagi sesama.

Rahmat berbagi cerita pengalaman terkait tugasnya sebagai PIC bagi nasabah BRI yang meminjam dana untuk modal usaha. Rima Melati merupakan salah satu nasabah perempuan yang berada dalam wilayahnya.

Selain dengan Rima, banyak pengalaman menarik yang dialami Rahmat. Salah satunya bisa mengenal berbagai jenis usaha.

“Kalau pengalaman menariknya kita bisa bertemu dengan masyarakat berbeda-beda dan bermacam jenis usaha. Jadi kita tahu tentang jenis-jenis usaha dari bermacam-macam karakter debitur tersebut,” kata Rahmat kepada Liputan6.com.

Sedikit dia membeberkan tugas daripada PIC, yakni menganalisa kelayakan usaha debitur. Apakah debitur tersebut layak mendapatkan bantuan kredit modal usaha dari BRI atau tidak.

Setelah dianggap layak dan masuk kriteria, kemudian debitur UMKM tersebut dibina dan dimonitor secara berkala.

“Sebagai PIC, dari awal kita analisa kelayakan usaha debitur. Jadi ada debitur yang mengajukan kredit ke BRI kita analisa kelayakan usahanya untuk kita berikan kredit dan setelah kredit itu disetujui dan dicairkan kepada debiturnya kita melakukan pembinaan dan monitoring terus secara berkala,” jelas dia.

Ketika monitoring berjalan, selanjutnya diketahui apakah usaha debitur lancar atau sebaliknya menghadapi kendala. Jika mengalami kendala, maka PIC BRI akan mencarikan solusi yang tepat bagi debitur UMKM.

Untuk kriteria kelayakan menerima bantuan kredit modal usaha, Rahmat menyebut tentunya dilihat dari seberapa lama keberlangsungan usaha.

Jika debitur tersebut usahanya berkaitan dengan industri maka PIC akan mengecek hubungan dengan supplier atau rekan bisnisnya untuk memastikan tidak ada masalah atau kesan buruk antar rekan bisnis.

Selain itu, untuk urusan dokumen-dokumen, biasanya PIC BRI akan meminta debitur memenuhi persyaratan seperti izin usaha dan lainnya sebelum debitur itu layak mendapatkan bantuan kredit modal usaha dari BRI.

“Ada sebagian yang sudah ada dokumen-dokumen, ada juga beberapa yang belum memiliki dokumen biasanya untuk UMKM yang baru mereka belum memiliki izin usaha, tapi nanti kita infokan administrasi apa saja yang harus mereka lengkapi. Jadi mereka lengkapi dulu nanti sambil paralel dengan proses di kita nanti kita hitung kelayakannya,” jelas Rahmat.

Hingga kini, pihaknya menangani sekitar 150 debitur UMKM di Bukittinggi. Sejauh ini, respons debitur kepada PIC BRI berjalan dengan baik. Pihaknya selalu berupaya menjalin komunikasi dengan lancar dengan debitur.

“Kita komunikasi terjalin lancar dengan debitur kita, baik itu by phone maupun kunjungan langsung ke tempat nasabahnya,” ujar dia.

Rahmat menyebut, banyak debitur BRI di Bukittinggi yang sudah sukses dan terbantu dengan adanya bantuan kredit modal usaha dari BRI.

Pihaknya selalu menyalurkan program kredit dari Pemerintah seperti KUR dan kredit lainnya dengan baik, agar pihak yang membutuhkan khususnya UMKM di Bukittinggi bisa semakin mengembangkan usahanya.

3 dari 3 halaman

Semua Pengalaman Baik

Bicara pengalaman, Rahmat mengatakan sejauh ini tidak ada pengalaman yang tidak mengenakan. Semuanya berjalan dengan baik terkait penyaluran dan pembayaran debitur perihal kredit modal usaha.

“Kalau sejauh ini sih tidak ada, kita masih menikmati seru banyak pengalaman baru yang kita dapatkan,” ungkapnya.

Rahmat tidak menampik, masih ada sebagian debitur yang mengalami kendala dalam pembayaran pinjaman ke BRI, bukan berarti gagal bayar.

Hal itu dimaklumi, mengingat penjualan debitur UMKM yang berkaitan dengan pariwisata di Bukit Tinggi sedang turun, maka secara otomatis pembayaran kredit mereka juga terhambat.

"Kalau saat ini terkait dengan pandemi covid-19 ini ada beberapa nasabah kita yang terdampak usahanya. Apalagi kalau Bukit Tinggi identik dengan kota wisata, jadi jenis usaha yang berhubungan dengan pariwisata itu turunannya terdampak bahkan sampai saat ini belum pulih,” imbuh Rahmat.

Melihat hal tersebut, PIC BRI berperan melakukan hal-hal yang sesuai dengan anjuran pemerintah, yakni melakukan restrukturisasi penyelamatan kredit debitur UMKM, seperti penundaan angsuran dan penambahan jangka waktu.

Di sisi lain sebelum pandemi covid-19 pihaknya masih bisa leluasa memberikan kredit kepada debitur UMKM. Namun setelah pandemi pihaknya menjadi lebih selektif dalam memberikan kredit.

“Kita lihat UMKM mana yang masih bisa survive dan dalam menghadapi pandemi ini dan yang existing kita terus melakukan pembinaan terus. Kalau pembinaan by phone itu bisa sekali seminggu atau by WhatsApp disesuaikan dengan kondisinya sekarang,” ungkapnya.

Memang sebelum pandemi, biasanya PIC BRI Bukit Tinggi melakukan pelatihan yang dilaksanakan Pemerintah kota maupun oleh BRI sendiri.

“Kita kumpulkan UMKM di satu tempat dan kita hadirkan narasumbernya dan kita bahas tentang keberlangsungan usaha dari pelaku UMKM itu. Namun kalau untuk saat ini pelatihan kita belum ada kita hanya monitoring secara perorangan saja,” ujarnya.

Demikian, Rahmat berharap meskipun semua pihak dihadapkan dengan keadaan yang sulit karena adanya pandemi covid-19. Diyakini, jika proses vaksinasi berjalan dengan lancar dan menyeluruh, maka perekonomian Indonesia bisa bangkit kembali termasuk di Bukittinggi.

“Harapan saya dengan kondisi pandemi ini cepat berakhir dan perekonomian kita kembali stabil khususnya untuk Bukittinggi, karena memang sektor utamanya itu pariwisata. Saya sangat berharap sekali program dari pemerintah vaksinasi ini segera berhasil, jadi kita bisa terbebas dari pandemi ini,” pungkasnya.