Sukses

Tanpa Digital, Resesi Imbas Covid-19 Bisa Lebih Dalam

Liputan6.com, Jakarta - Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran Bank Indonesia, Erwin Haryono menyebutkan format digital menjadi hal yang mutlak dalam situasi pandemi covid-19.

Menurutnya, tren digitalisasi ini menolong Indonesia dari resesi yang lebih dalam. Dimana masyarakat masih memiliki opsi untuk melakukan transaksi digital saat ada kebijakan PSBB. Sehingga roda perekonomian masih dapat berputar.

“Apabila kita tidka punya format digital itu kemudian kita mneghadapi pandemi, saya yakin resesi yang sekarang akan lebih dalam lagi,” ujar dia dalam media briefing penutupan Pekan Fintech Nasional 2020, Rabu (25/11/2020).

Erwin menambahkan, sebelum pandemi pemerintah memang telah menggalakkan digitalisasi. Namun diakui memang belum diimplementasikan secara menyeluruh. Sampai pada momentum pandemi ini, mendorong terwujudnya akselerasi digital.

“Yang sudah ditunjukkan di masa pandemi ini bahwa ekonomi keuangan digital itu merupakan sebuah alternatif economy activities yang real,” kata Erwin.

Bahkan, Erwin mengungkapkan berdasarkan perkiraan Temasek, ekonomi digital ini akan tumbuh lebih besar usai pandemi covid-19. Di sisi lain, Erwin menyebutkan digitalisasi ini juga bisa dimanfaatkan untuk inklusi keuangan. Dimana masih ada banyak masyarakat yang belum bisa mengakses perbankan (unbankable).

“Kita masih punya puluhan juta orang yang unbanking, kita masih punya 69 juta UMKM, yang kalau kita tidak siapkan mereka akan menjadi loser pada saat era digital masuk. Mereka tidak boleh jadi loser karena merekalah tulang punggung nya. So , jangan kasih kendor,” pungkas dia.

2 dari 3 halaman

Pertumbuhan Ekonomi Bisa Sampai 5 Persen di 2021, Ini Kuncinya

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2021 diperkirakan masih akan mengalami tantangan yang berat. Sebab, masih ada ketidakpastian yang tinggi terkait kelangsungan pandemi Covid-19.

Kepala Ekonom BCA David Sumual mengatakan, kinerja sektor riil pada dua bulan terakhir terlihat stagnan. Padahal sebelumnya mengalami perbaikan yang cukup signifikan setelah penurunan terdalamnya pada kuartal II/2020.

David menilai, pemulihan ekonomi akan sangat bergantung pada kecepatan eksekusi vaksinasi Covid-19 pada tahun depan.

"Kalau (vaksinasi) bisa di semester I, akan mempercepat pemulihan di tahun depan. Kalau tertunda hingga semester II, lalu kasus Covid-19 tinggi, lalu PSBB on dan off, pemulihan akan terkendala," jelas dia dalam Webinar INDEF - Proyeksi Ekonomi Indonesia 2021, Rabu (18/11/2020).

Tingginya kasus Covid-19 yang dibarengi tarik ulur PSBB terjadi di DKI Jakarta memengaruhi prospek pemulihan ekonomi di daerah lainnya. Sebab, kontribusi DKI Jakarta terhadap PDB mencapai sekitar 16 persen dan kontribusi terhadap total tabungan atau dana pihak ketiga (DPK) nasional mencapai 55 persen.

"Jika distribusi vaksin bisa selesai di semester I tahun depan, komoditas pulih, dan aturan turunan omnibus law bisa selesai dan bisa dieksekusi, kita berharap GDP growth kita bisa ke arah 4 sampai 5 persen," ujar dia.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Direktur Institute For Development of Economics and Finance (INDEF) Eko Listiyanto menyebutkan hal serupa. Dimana kunci utama pemulihan ekonomi adalah penanganan pandemi Covid-19.

Namun, Eko memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2021 hanya akan mencapai kisaran 2,5 -3 persen. Hal ini merujuk pada sektor riil yang pada tahun depan diperkirakan masih berjalan sekitar 50 persen dari kapasitasnya.

“Indonesia terlihat pemulihan sudah terjadi, tapi belum kembali seperti tahun lalu,” kata dia.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: