Sukses

Peka Lihat Peluang Bisnis, Perempuan Ini Jual Kombucha di Tengah Pandemi Covid-19

Liputan6.com, Jakarta - Ide bisnis baru bisa muncul dari siapa saja dan kapan saja. Dimana ide tersebut bisa memanfaatkan peluang yang ada. Salah satu yang mampu memanfaatkan peluang tersebut adalah Delphine Rachel (28). Ia menjual kombucha dengan merek jualan “Dee Parfait”.

Untuk diketahui, Kombucha adalah teh jamur yang berasal dari Asia Timur dan tersebar ke Jerman melalui Rusia sekitar pergantian abad ke-20. 

“Aku mulai usaha itu baru Agustus 2020, sekitar 4 bulanan. Awal tahun sebelum Corona aku dikasih tahu dokter aku punya autoimun, tapi dokternya bilang belum terlalu parah, jadi tidak dikasih obat cukup disarankan jaga pola makan saja dan harus diperbanyak konsumsi probiotik,” kata Delphine kepada Liputan6.com, Minggu (22/11/2020). Autoimun merupakan suatu penyakit ketika sistem kekebalan tubuh menyerang sel-sel sehat.

Delphine pun kemudian mulai mencari makanan dan minuman yang cocok untuk dirinya yang autoimun. Biasanya orang yang terkena autoimun disarankan untuk mengkonsumsi minuman probiotik seperti yogurt, kefir, kimchi, dan kombucha. Namun karena ia tidak terlalu suka mengkonsumsi susu jadi ia memilih untuk mengkonsumsi kombucha.

Kebetulan sang Kakek biasanya membuat kombucha, sehingga ia tidak kesusahan dalam mencari minuman probiotik. Setelah dikonsumsi secara pribadi, kemudian ia mencari informasi terkait manfaat lain dari kombucha, ternyata tak hanya bermanfaat untuk penyembuhan autoimun saja.

Ia menjelaskan kombucha adalah minuman teh yang difermentasikan yang membuat minuman ini masuk ke kategori minuman probiotik yang bagus untuk pencernaan dan juga detox tubuh. Selain itu kombucha juga bisa menurunkan kadar kolesterol dan gula dalam darah dan dapat menurunkan berat badan juga.

“Saya mikir kalau gitu daripada saya simpan untuk diri sendiri mending saya coba untuk dibisniskan dan share kepada orang lain. Semenjak itu, aku mulai usaha dibantu kakek ikut memproduksi agar rasa kombuchanya stabil,” ungkapnya.

Akhirnya dengan modal sekitar Rp 1 juta, ia memberanikan diri untuk memulai usaha Kombucha. Ia menerapkan sistem Pre Order (PO) yang dibuka setiap 1-2 minggu sekali, dalam sebulan dirinya bisa membuka PO hingga 3-4 kali, dan sekali PO ia mampu menjual 20-30 botol atau dalam sebulan bisa menjual 100 botol.

Untuk harga 1 kombuchanya sangat bervariasi, mulai dari varian 250 ml dijual Rp 35 ribu bahkan ia memberikan diskon beli 3 hanya Rp 100 ribu, selanjutnya varian 500 ml Rp 65 ribu, dan varian 1 liter Rp 130 ribu, demikian omzet yang dihasilkan Delphine Rp 1.250.000 per bulan.

Untuk saat ini varian menu minuman probiotik yang tersedia tidak banyak, diantaranya almond mylk The OG, Kombucha (green tea, Bay Leaf, and Moringa Leaf), dan probiotik turmeric. Kendati begitu, saat ini dirinya sedang mengembangkan varian jahe, kunyit dan serai namun belum di publish.

Lebih lanjut ia menjelaskan Kombucha buatannya itu berasal dari resep sang kakek yang sudah sekitar 40 tahun membuat Kombucha. Untuk membuat kombucha diperlukan “Scoby” dalam proses fermentasinya.

Untuk informasi SCOBY adalah “jamur” Kombucha yang bertugas mem-fermentasi gula pada teh manis menjadi Teh Kombucha. SCOBY sendiri merupakan singkatan dari “Symbiotic Culture Of Bacteria and Yeasts”.

“Nah scoby yang dipakai itu umurnya sudah lumayan lama sehingga fermentasinya sudah stabil jamurnya, kalau aku melakukan riset lagi jamur yang umurnya tidak stabil dan fermentasinya gagal maka itu akan menjadi gula bukan akan menjadi sehat. Karena untuk membuat kombucha itu memerlukan banyak gula untuk membuat bakterinya tetap hidup,” jelasnya.

 

2 dari 3 halaman

Cara Jualan

Kata Perempuan yang berdomisili di Jakarta ini menyebutkan usahanya masih berjalan secara online melalui media sosial Instagram @dee.parfait dan pemesanan melalui WhatsApp. Kemudian untuk penjualan Kombucha sendiri sudah dijual ke Bekasi, Bandung, dan tentunya Jakarta.

Delphine pun berharap ke depannya ia bisa memasukkan produk minumannya ke toko offline, serta bisa berkolaborasi dengan toko online lainnya. Ia percaya dengan kolaborasi maka suatu usaha akan semakin berkembang.

Namun untuk urusan memiliki toko offline sendiri, untuk saat ini ia belum terpikirkan. Hanya saja jika ia berkesempatan memiliki dapur yang luas dan layak seperti di Everplate, maka dirinya bisa semangat untuk bereksperimen mengembangkan usahanya, tidak hanya di bidang minuman saja.

“Kebetulan aku ada beberapa ide untuk ekspansi, dan di Jakarta itu tinggal dengan Kakek dan tempatnya agak kurang membantu untuk aku berkembang dan bereksperimen, kalau aku dapat kitchen aku bisa lebih eksperimen lagi,” ungkap perempuan 28 tahun ini.

Demikian ia berpesan kepada generasi cuan, agar tidak mudah menyerah dan harus bisa berkompetisi di tengah masa pandemi ini. Lantaran banyak pelaku usaha baru yang memulai bisnis, jadikanlah itu sebuah tantangan.

Selain itu jangan takut untuk mencoba memberanikan diri untuk berusaha, dan pastikan harus memiliki konsep yang matang dalam berusaha.

“Memang harus punya konsep yang matang banget dan jangan takut untuk memulai usaha baru, meskipun banyak kompetitor tapi kita pastinya punya sesuatu yang spesial,” pungkasnya.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: