Sukses

Lonjakan Kasus Corona di AS Bikin Bursa Saham Asia Tergelincir

Liputan6.com, Jakarta - Bursa Saham di Asia melemah pada Senin pagi. Ini dorong oleh lonjakan jumlah kasus virus corona di Amerika Serikat (AS).

Dikutip dari CNBC, Senin (22/6/2020), indeks saham Nikkei 225 di Jepang tergelincir 0,6 persen karena saham pembuat robot Fanuc turun lebih dari 2 persen.

Indeks Topix diperdagangkan 0,36 persen lebih rendah. Kemudian, Kospi Korea Selatan juga turun 0,6 persen. Sedangkan di Australia, S&P/ASX 200 turun 0,43 persen.

Secara keseluruhan, indeks MSCI Asia ex-Jepang diperdagangkan 0,29 persen lebih rendah.

Investor memantau reaksi pasar terhadap meningkatnya jumlah kasus virus corona di AS, dengan lebih dari 30 ribu infeksi baru seperti dilaporkan pada Jumat dan Sabtu pekan lalu dengan total harian tertinggi sejak 1 Mei. Ini menurut data yang dikumpulkan oleh Universitas Johns Hopkins.

Sementara itu, seorang pejabat mengatakan pada Minggu kemarin bahwa ibukota China, Beijing, mampu menyaring hampir 1 juta orang per hari untuk virus korona, menurut Reuters. Perkembangan itu datang di belakang sekelompok infeksi baru-baru ini yang ditemukan di kota.

2 dari 4 halaman

IHSG Diramal Terkoreksi Sepanjang Pekan Ini

Sementara di Indonesia, Direktur PT Anugrah Mega Investama Hans Kwee memprediksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) akan cenderung terkoreksi sepanjang pekan ini.

"IHSG kami perkirakan berpeluang konsolidasi melemah dengan support di level 4.900 sampai 4.821 dan resistance di level 4.970 sampai 5.018," ujar Hans Kwee dikutip dari Antara, Senin (22/6/2020)

Hans menuturkan, beberapa sentimen yang mungkin mempengaruhi pergerakan IHSG pada pekan ini adalah investor masih memperhatikan gelombang kedua pandemi COVID-19.

Peningkatan kasus di Amerika dan negara Afrika menimbulkan kekhawatiran terjadinya gelombang kedua. Ketika ekonomi aktif kembali, ternyata terjadi semakin banyak infeksi yang memudarkan harapan ekonomi akan cepat pulih pada Juli-September setelah suram pada April-Juni.

Harapan akan pemulihan ekonomi yang cepat, pudar setelah pernyataan Gubernur Federal Reserve Jerome Powell dan ekonom IMF Gita Gopinath. Data ekonomi akan mendapat perhatian pelaku pasar.

"Data penjualan ritel yang membaik membuat optimisme pasar, tetapi ketika angka pengangguran di bawah harapan pasar membawa sentimen negatif bagi pasar. Perkembangan data ekonomi akan sangat mempengaruhi pergerakan pasar saham," kata Hans.

Selain itu, pasar menanti stimulus besar-besaran dari Uni Eropa yang diperkirakan di sepakati di Juli.

3 dari 4 halaman

Sentimen Positif

Sementara itu, obat dexamethasone mengurangi kematian pasien COVID-19 yang dirawat di rumah sakit hingga sepertiga. Hal tersebut menjadi sentimen positif bagi pasar.

Sedangkan tensi Geopolitik Asia yang memanas juga menjadi perhatian pelaku pasar.

"Konflik Korea Utara dan Korea Selatan serta India dan China menjadi perhatian pelaku pasar," ujar Hans.

Dari dalam negeri, banyak sentimen positif diantaranya penurunan bunga acuan oleh Bank Indonesia dan pemberian rating "overweight" atas saham-saham di Indonesia oleh JP Morgan.

Overweight adalah rekomendasi yang memprediksi aset-aset investasi di negara tersebut akan meningkat melebihi saham atau aset lain yang menjadi patokannya.

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: