Sukses

Masa Transisi Blok Rokan Masih Digodok

Liputan6.com, Jakarta - Masa transisi peralihan Blok Rokan masih dimatangkan. Chevron Pacific Indonesia pun siap membantu PT Pertamina (Persero) untuk menjaga produksi di pergantian kontraktor blok tersebut pada 2021.

‎Senior Vice President Policy and Government and Public Affairs Chevron Wahyu Budiarto mengatakan, Chevron dan Pertamina telah melakukan komitmen kerjasama untuk masa transisi peralihan operator Blok Rokan ke Pertamina.

‎"Kita masih sama, fokus kita bagaimana transisi kita di rokan kita kan ada stering commite dengan Pertamina dan SKK. Meeting terus kok," kata Wahyu, di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (4/11/2019).

Menurut Wahyu, Chevron siap membantu Pertamina dalam transisi agar‎ kegiatan produksi minyak berjalan dengan baik sehingga laju penurunan produksi minyak bisa diminimalisir.

‎"Gimana kita membantu Pertamina untuk operasi dengan smooth dan cepat," ujarnya.

Wahyu mengungkapkan,‎ dalam masa transisi nantinya, Chevron akan melakukan transfer data Blok Rokan yang dibutuhkan Pertamina. Dengan begitu setelah 2021 Pertamina tinggal melanjutkan kegiatan produksi yang dilakukan Chevron.

"Fokus kita transisi bekerja dengan mereka agar mereka bisa smooth. apa yang diperlukan. Sekarang bicara data, sehingga nggak usah mulai dari nol. Data yang diperlukan oleh mereka apa saja. Itu yang diskusi," tandasnya.

2 dari 3 halaman

Pencurian Minyak di Blok Rokan Kian Marak dan Secara Profesional

Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menyatakan, pencurian minyak di Blok Rokan dengan melubangi pipa (illegal tapping) semakin marak, menjelang masa peralihan kontrak pada 2021.

Deputi Dukungan Bisnis SKK Migas M Atok Urrahman mengatakan, ‎kegiatan kriminal berupa pencurian minyak dan pencurian kabel sensor di area Blok Rokan yang dioperasikan Chevron Pacific Indonesia semakin marak belakangan ini.

"Ini semakin marak di Chevron. Ada apa ini, lalu pencurian kabel sensor dipotong, beberapa waktu lalu pipa gas kegaruk oleh pihak ketiga,‎" kata Atok, di Kantor SKK Migas, Jakarta, Kamis (24/10/2019).

Menurut Atok, kegiatan pencurian tersebut dilakukan secara profesional, dengan membuat lubang di tanah sepanjang 100 meter‎ untuk melubangi pipa, sehingga pencurian tidak diketahui. Pipa yang dilubangi tersebut mengalirkan minyak ke penampungan produksi minyak siap jual (lifting).

"Itu bikin terowonganya 100 meter dia melobangi pakai pipa 2,5 inch, ini pipa shiping line titik lifting, ini sudah ahli," tutur dia.

‎Pencurian minyak sebenarnya sudah ada di area tersebut, namun belakangan ini terus meningkat.

Dia pun mempertanyakan hal tersebut bisa terjadi, bahkan ada dugaan karena akan adanya peralihan pengolahan Blok Rokan seiring dengan habisnya masa kontrak Chevron pada 2021.

"Saya nggak tau, kenapa semakin marak apa karena akan perlihan?," imbuhnya.

Atok mengungkapkan, pencurian minyak tersebut merugikan negara sebab mengurangi capaian lifting minyak dari Blok Rokan.

Untuk menanggulangi pencurian tersebut, SKK Migas dan Chevron telah meminta bantukan pihak TNI untuk mengamankan area tersebut.

"Saya menemani Presiden Chevron bertemu Pangdam Bukit Barisan, nanti ada pengawas keamanan," tandasnya.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Kementerian ESDM Minta SKK Migas Segera Cari Pembeli Gas Blok Masela
Artikel Selanjutnya
Aksi Bom Bunuh Diri Medan Tak Ganggu Kegiatan Pencarian Migas