Sukses

BI Prediksi Ekonomi RI Tumbuh 5,1 Persen di Kuartal III

Liputan6.com, Jakarta Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal-III 2019 tidak berbeda jauh pada pertumbuhan tahun lalu, yakni berada di kisaran 5,1 persen.

Salah satu faktor pendorong pertumbuhan tersebut, disumbang dari konsumsi rumah tangga.

"Masih sama 5,1 persen. Ada beberapa aspek konsumsi masih bagus khususnya konsumsi swasta, rumah tangga," kata Perry saat ditemui di Kompleks, Masjid BI, Jakarta, Jumat (20/9/2019).

Perry mengatakan, konsumsi rumah tangga dikuartal III-2019 ini memang masih cukup bagus. Ditambah lagi, harga-harga pada sejumlah sektor terkendali dan bantuan sosial juga cukup menjaga konsumsi rumah tangga.

"Jadi kami perkirakan kuartal III 5,1 persen," tandas dia.

Asal tahu saja, pertumbuhan ekonomi di kuartal III-2018 yang dirilis Pusat Statistik (BPS) mencapai sebesar 5,17 persen. Angka ini jauh lebih tinggi jika dibandingkan periode sama tahun lalu hanya 5,06 persen.

Reporter: Dwi Aditya Putra

Sumber: Merdeka.com

2 dari 2 halaman

Antisipasi BI Hadapi Memanasnya Perang Dagang AS-China

Bank Indonesia (BI) terus memperkuat strategi operasi moneter untuk mendukung upaya menjaga kecukupan likuiditas dan meningkatkan efisiensi pasar uang. Ini demi memperkuat transmisi bauran kebijakan yang akomodatif.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, pelonggaran kebijakan BI dilakukan melihat risiko ketegangan hubungan dagang AS-China yang berlanjut. Panasnya perang dagang telah membawa ketidakpastian pasar keuangan global yang tetap tinggi.

"Selain itu kenaikan tarif dagang oleh AS dan Tiongkok yang terus berlangsung makin menurunkan volume perdagangan dan pertumbuhan ekonomi dunia. Perekonomian AS tumbuh melambat akibat penurunan ekspor dan investasi nonresidensial," ujar dia di Jakarta, Kamis (19/9/2019).

Sebab itu, dia mengatakan, BI akan melanjutkan untuk menempuh bauran kebijakan akomodatif. Caranya dengan memangkas suku bunga, perlonggar makroprudensial, sistem pembayaran, dan operasi moneter.

Selain memangkas suku bunga acuan, BI juga menurunkan uang muka (down payment/DP) melalui skema loan to value (LTV) pada kredit properti seperti KPR hingga kendaraan bermotor.

Relaksasi ini dilakukan untuk menjaga stabilitas eksternal sekaligus upaya menopang pertumbuhan ekonomi.

"Perekonomian dunia yang melambat mendorong komoditas global kembali menurun. Kondisi ini direspons banyak negara yang melakukan stimulus fiskal dan melonggarkan kebijakan moneter," ujarnya.

Dia menegaskan jika BI sejak awal tahun memang sudah mengarahkan kebijakan untuk mendorong momentum pertumbuhan ekonomi. "Langkah ini kita perkuat sebagai antisipasi terhadap perang dagang AS-Tiongkok," kata dia.

Loading
Artikel Selanjutnya
Ekonomi Digital Jadi Senjata Tarik Investor Asing ke Indonesia
Artikel Selanjutnya
Luhut Yakin Indonesia Bakal Jadi Negara dengan Perekonomian Terbesar di Dunia