Sukses

Bukit Asam Buka Pasar Baru untuk Ekspor Batubara

Liputan6.com, Jakarta - PT Bukit Asam Tbk menargetkan ekspor batu bara di 2019 meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. BUMN pertambangan ini juga telah mengincar sejumlah negara sebagai pasar baru dari ekspor produk batu baranya.

Direktur Operasi dan Produksi Bukit Asam, Suryo Eko Hadianto mengatakan, pada tahun lalu dari total produksi batu bara sebesar 24,69 juta ton, sebanyak 56 persennya diperuntukkan bagi pasar domestik. Sedangkan 44 persen untuk pasar ekspor.

Sementara pada tahun ini, lanjut Arifin, perseroan menargetkan ekspor batubara mencapai 14,71 juta ton untuk pasar ekspor. Angka tersebut 51,8 persen dari target produksi batubara di 2019 yang sebesar 28,38 juta ton.

"Target ekspor tahun 2019 memang ada peningkatan," ujar dia di Jakarta, Kamis (25/4/2019).

Menurut Eko, untuk mendukung peningkatan ekspor ini, Bukit Asam mengincar sejumlah negara sebagai pasar baru. Negara-negara tersebut seperti Filipina, Korea Selatan, Hong Kong dan Vietnam.

"Ada beberapa negara tujuan yg baru seperti Filipina, Korea Selatan, Hong Kong, Vietnam. Kemudian kita mulai masuk lagi di pasar Jepang. Memang ada peningkatan yang cukup signifikan di 2019 ini," tandas dia.

2 dari 3 halaman

Menko Darmin Tinjau Pabrik Inalum di Batu Bara

Menteri Koordinator (Menko) Perekonomian Darmin Nasution bersama Gubernur Sumatera Utara, Edy Rahmayadi, meninjau pabrik peleburan aluminium PT Inalum dan Pelabuhan Kuala Tanjung di Kabupaten Batubara. Dalam kunjungan ini, peningkatan produksi dan layanan terus didorong.

Menko Darmin mengharapkan, Inalum yang kini telah menjadi BUMN dapat terus berkembang dan meningkatkan produksi aluminium. Sebagaimana diketahui, perusahaan ini menghasilkan produk berupa Aluminium Ingot, Aluminium Billet dan Aluminium Foundry Alloy.

Pada kunjungan tersebut, Darmin beserta rombongan melihat proses pengolahan aluminium menjadi berbagai produk bahan baku untuk dijadikan berbagai kebutuhan. Termasuk juga hasil produksi hilir, dimana proses reduksi menggunakan alumina, karbon dan listrik sebagai material utama.

Usia mengunjungi pabrik diversifikasi atau peleburan aluminium, Darmin bersama Gubsu Edy Rahmayadi, jajaran Kemenko Perekonomian, Direksi PT Inalum dan PT Pelindo 1 juga meninjau operasional pelabuhan Kuala Tanjung yang berada di dekat lokasi industri.

Menko Ekonomi Darmin Nasution bersama Gubernur Sumatera Utara, Edy Rahmayadi, meninjau pabrik peleburan aluminium PT Inalum di Kabupaten Batubara.

Edy Rahmayadi menyebutkan bahwa Inalum, Pelabuhan Kualatanjung dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei merupakan potensi pengembangan industri dan perekonomian. Karenanya perlu ada peningkatan kapasitas produksi bagi PT Inalum dan pelayanan kepelabuhanan khususnya peti kemas.

"Harus nambah produksinya. Karena sudah ada pelabuhan Kuala Tanjung dan kawasan ekonomi khusus atau KEK Sei Mangke)," ujarnya, Kamis (14/2/2019).

Hadir di antaranya Direktur Utama PT Inalum Budi G Sadikin beserta jajaran dan Jajaran PT Pelindo 1, Bupati Batubara Zahir, Kadis Bina Marga dan Bina Konstruksi Abdul Haris Lubis, Kepala BPBD Sumut Riadil Akhir, Kepala Bappeda Irman dan Staf Ahli Gubernur Elisa Marbun. 

3 dari 3 halaman

Bukit Asam, Pertamina, dan Air Products Bersinergi Bentuk Perusahaan Hilirisasi Batubara

Liquefied Petroleum Gas (LPG) masih menjadi kebutuhan pokok masyarakat Indonesia. Hal ini terlihat dari kebutuhan LPG yang terus meningkat dari tahun ke tahun.

Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Nicke Widyawati, mengatakan bahwa demand LPG di Indonesia bagian barat meningkat 40 persen selama lima tahun terakhir. Khusus pada 2018 saja, demand LPG mencapai 7,3 juta metrik ton. Sayangnya, pemenuhan kebutuhan LPG tersebut masih bergantung pada impor.

"Untuk memenuhi permintaan 7,3 juta metrik ton itu, Indonesia harus mengimpor 5,3 juta metrik ton atau 70 persennya," ujar Nicke, dalam acara Penandatanganan Pokok-Pokok Perjanjian Pembentukan Perusahaan Patungan Hilirisasi Mulut Tambang Batubara PTBA Peranap Riau, di Hotel Hyatt Jakarta, Rabu (16/1/2019).

Menurutnya, kondisi tersebut disebabkan oleh dua faktor. Masalah keterbatasan bahan baku dan pembangunan infrastruktur untuk memproduksi gas.

Guna mengatasi masalah tersebut dan mengurangi impor bahan baku LPG, PT Bukit Asam Tbk (PTBA), Pertamina, dan Air Products and Chemicals Inc., membuat sebuah terobosan baru. Mereka sepakat mendirikan perusahaan patungan yang bergerak di bidang bisnis pengolahan batubara dan produk turunan batubara.

Mereka menjalin kerjasama hilirisasi batubara menjadi Dimethylether (DME) sebagai pengganti bahan baku LPG. Kesepakatan ini telah tertuang dalam Nota Kesepakatan kerjasama yang dilakukan oleh ketiga perusahaan di Allentown, Amerika Serikat, pada 7 November 2018.

Selanjutnya, pada Rabu (16/1/2019), ketiga perusahaan tersebut menandatangani Pokok-Pokok Perjanjian Pembentukan Perusahaan Patungan Hilirisasi Mulut Tambang Batubara PTBA Peranap Riau. Penandatanganan dilakukan oleh Direktur Utama PTBA Arviyan Arifin, Nicke Widyawati, serta Chairman, President & CEO Air Products and Chemicals Inc. Seifi Ghasemi. Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Rini Soemarno, turut menyaksikan prosesi ini.

Arviyan Arifin menjelaskan, proyek ini akan menghasilkan DME sebagai pengganti LPG. Nantinya akan tersedia DME 20 persen dengan campuran LPG 80 persen, DME 50 persen dan LPG 50 persen, serta DME 100 persen.

Teknologi gasifikasi

DME itu sendiri diproduksi melalui teknologi gasifikasi. Teknologi ini akan mengubah batubara menjadi syngas yang kemudian akan diproses menjadi produk akhir. Produksinya akan dilakukan di pabrik hilirisasi batubara yang terletak di Mulut Tambang Batubara Peranap, Riau. Tambang ini memiliki kapasitas produksi 1,4 juta ton DME per tahun dengan kebutuhan batubara 9,2 juta ton per tahun.  Uji coba DME 20%, 50%, dan 100% oleh Dirut PT Bukit Asam, Dirut Pertamina, serta Chairman, President & CEO Air Products and Chemicals Inc."Keberadaan industri ini bisa menghilangkan impor. Hilirisasi yang dilakukan PTBA ini diperkuat dengan total sumber daya sebesar 8,3 miliar ton dan total cadangan batubara sebesar 3,3 miliar ton," ucap Arviyan, dalam acara sama.

Ia menjelaskan, dalam kerjasama tersebut PTBA berperan sebagai investor dan supplierbatubara dari area tambang Peranap ke perusahaan patungan. Setelah menjadi produk akhir, Pertamina yang juga berperan sebagai investor akan membelinya.

Sementara itu, Air Products and Chemicals Inc. mengoptimalisasi teknologi pengolahan batubara menjadi syngas kemudian DME. Sheifi Ghasemi mengaku senang dapat terlibat dalam kerjasama ini.

"Air Products yakin Indonesia bisa tumbuh pesat di masa depan karena memiiki lebih dari 260 juta penduduk yang pekerja keras dan inovatif. Sumber daya alam kalian juga sangat melimpah, termasuk batubara. Jadi, merupakan hal natural bila Air Products terlibat dan berinvestasi dalam kerjasama ini. Kami juga melihat banyak peluang kerja sama lain di masa depan," kata dia, di tempat sama.

Rini Soemarno juga turut mendukung kerjasama tersebut. Dirinya berharap dapat terjalin lebih banyak joint venture seperti ini di masa depan.

"Ini bagaikan dream come true. Indonesia harus tetap mengembangkan industri hilirisasi batubara bukan hanya dalam rangka mengurangi impor tapi juga dalam mengembangkan ekspor," ujar Rini.

Sebagai informasi, proses pembentukan perusahaan patungan tersebut sedang berada pada tahap feasibility study yang rencananya akan selesai pada Februari. Selanjutnya, baru didirikan perusahaan patungan dan beberapa bulan kemudian akan dioperasikan pabriknya.

Nicke mengatakan, selama proses tersebut, Pertamina akan mulai memperkenalkan DME ke masyarakat. Akan disosialisasikan bahwa masyarakat tak perlu mengganti kompor untuk menikmati DME, cukup sedikit mengubah pengaturan kompor. Pertamina juga menjamin harga DME akan jauh lebih murah dibandingkan LPG karena tidak perlu mengimpor bahan baku.

 

Loading
Artikel Selanjutnya
PLN Ingin Harga Batu Bara Khusus Kelistrikan Diperpanjang
Artikel Selanjutnya
Harga Acuan Batu Bara dan Emas Naik