Sukses

Harga Bawang Terus Melonjak, Pedagang Sulit Dapat Untung

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Direktorat Jenderal Hortikultura menggelar operasi pasar bawang merah dan bawang putih di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta. Upaya ini dilakukan untuk menstabilkan harga kedua komoditas tersebut yang terus melonjak di pasaran.

Kenaikan harga ini turut dikeluhkan Manulang (33), seorang pedagang bawang merah di Pasar Induk Kramat Jati. Dia mengatakan, harga jual bawang putih terus naik sejak beberapa pekan terakhir.

"Sekarang harganya Rp 30 ribu (per kg), udah semingguan. Sebelumnya macem-macem. Pernah Rp 10 ribu, (pekan) kemarin Rp 20 ribu," ungkap dia kepada Liputan6.com, Jumat (5/4/2019).

Dia juga menyatakan, hanya mengambil sedikit untung dalam bisnis ini. Sebab, ia mendapat 1 kg stok bawang putih dari pihak bandar Rp 28 ribu, atau lebih murah Rp 2 ribu.

Ungkapan senada dilontarkan Yeni (27), seorang pendagang bawang merah di pasar yang sama. Menurut kabar yang didapatkannya, produksi bawang merah saat ini memang sedang tipis.

"Sekarang lagi Rp 35 ribu (per kg). Udah mau dua minggu. Pernah paling Rp 15 ribu, terus Rp 25 ribu. (Penyebabnya?) Kurang tau sih. Kalau kedengarannya sih panennya yang berkurang," jelasnya kepada Liputan6.com.

Di sisi lain, seorang pedagang bawang putih bernama Fikri (23) mengucapkan, produk bawang putih bulat selama satu pekan terakhir dijualnya Rp 30 ribu per kg.

"Dapat dari bandar Rp 25 ribu, dijual Rp 30 ribu. Sudah satu mingguan. Sebelumnya bermacam-macam. Bisa Rp 23 ribu per kg, Rp 22 ribu, naik terus," tutur dia kepada Liputan6.com

Seorang pedagang lain bernama Yuli (32) bahkan menerangkan, harga jual bawang putih sempat menyentuh angka Rp 18 ribu per kg.

"Sebelumnya bisa Rp 18 ribu. Tapi sekarang saya jualnya bawang putih bulat Rp 26 ribu (per kg), kalau yang cutting Rp 40 ribu (per kg)," ujar dia kepada Liputan6.com.

 

2 dari 3 halaman

Tiket Pesawat, Bawang Putih dan Bawang Merah Penyebab Inflasi Maret

Sebelumnya, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kecuk Suhariyanto mengatakan, kenaikan tarif tiket pesawat menyumbang inflasi sebesar 0,03 persen. Sehingga secara keseluruhan kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan menyumbang inflasi sebesar 0,02 persen sepanjang Maret 2019.

"Untuk kelompok transportasi dan jasa keuangan menyumbang inflasi sebesar 0,02 persen. Komoditas yang memberikan andil tarif angkutan udara sebesar 0,03 persen," ujar Suhariyanto di Kantornya, Jakarta, pada Senin 1 April 2019.

Suhariyanto mengatakan, sejak awal tahun tarif angkutan udara mengalami kenaikan yang tidak biasa. Hal tersebut menyebabkan beberapa daerah di Indonesia mengalami inflasi seperti Ambon.

"Angkutan udara mengalami kenaikan yang tidak biasa. Kalau saya bisa simpulkan, Inflasi Maret 2019 sebesar 0,11 persen. Penyebab utamanya bawang merah, bawang putih dan tarif angkutan udara," jelasnya.

Suhariyanto berharap pemerintah dapat mengendalikan harga tiket pesawat agar tidak mengakibatkan gejolak pengeluaran yang cukup besar. Mengingat saat ini, Kemenhub baru saja menerbitkan aturan baru soal pengaturan batas bawah tarif.

"Tarif angkutan udara menjadi perhatian, karena mengalami kenaikan yang tidak biasa. Tetapi kita berharap dapat segera stabil, apalagi saat ini Kementerian Perhubungan sudah mengeluarkan aturan tarif bawah tiket pesawat," tandasnya.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: