Sukses

Investor Asing Beli Saham, IHSG Menguat 4 Persen dalam Sepekan

Liputan6.com, Jakarta - Gerak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mampu bergerak perkasa selama sepekan. Ini didorong ada potensi pembicaraan antara Amerika Seriakt (AS) dan China terkait perdagangan.

Mengutip laporan PT Ashmore Assets Management Indonesia, Sabtu (14/7/2018), IHSG menguat 4,4 persen dari posisi 5.694 pada Jumat 6 Juli 2018 menjadi 5.944 pada Jumat 13 Juli 2018.

Penguatan IHSG didorong saham kapitalisasi besar yang masuk indeks saham LQ45 dengan menanjak 4,7 persen. Saham kapitalisasi besar lebih perkasa dibandingkan saham kapitalisasi kecil. Saham kapitalisasi kecil hanya menguat 2,5 persen.

Investor asing pun catatkan aksi beli saham di pasar saham pada pekan ini. Tercatat aksi beli investor asing sebesar USD 15 juta atau sekitar Rp 215,45 miliar (asumsi kurs Rp 14.363 per dolar Amerika Serikat).

Di pasar surat utang atau obligasi, indeks BINDO mendaki 0,8 persen. Imbal hasil obligasi pemerintah bertenor 10 tahun pun berada di posisi 7,5 persen. Investor asing catatkan aksi beli USD 267 juta atau sekitar Rp 3,83 triliun di obligasi.

Sejumlah sentiment eksternal dan internal pengaruhi pasar keuangan global termasuk bursa saham Indonesia. Dari eksternal, Ashmore menyoroti perkembangan terbaru perang dagang.

Pemerintahan AS di bawah pimpinan Presiden Donald Trump mengumumkan daftar lebih dari 6.000 barang impor China senilai USD 200 miliar yang dikenakan tarif 10 persen. Ini menambah kekhawatiran perang dagang.

Menjelang akhir pekan ini, para pejabat China dan AS telah meningkatkan prospek melanjutkan pembicaraan tentang perdagangan antara kedua negara setelah Trump meningkatkan tekanan dengan mengumumkan putaran besar potensi tarif terbaru.

Dari data ekonomi AS menunjukkan tingkat inflasi di AS naik tipis menjadi 2,9 persen pada Juni 2018 dari 2,8 persen pada Mei. Angka inflasi ini sesuai harapan pasar. Inflasi itu tertinggi sejak Februari 2012 . Kenaikan inflasi didorong harga minyak dan bensin.

Terakhir kali inflasi berada di atas 2,9 persen pada Desember 2011 ketika mencapai tiga persen. Tingkat inflasi inti tahunan AS yang tidak termasuk barang seperti makanan dan energi naik menjadi 2,3 persen pada Juni 2018 dari 2,2 persen pada bulan sebelumnya. Ini sejalan dengan harapan pasar, dan tertinggi sejak Januari 2017.

Defisit perdagangan AS menyempit menjadi USD 43,1 miliar pada Mei 2018 dari revisi sebelumnya USD 46,1 miliar. Angka ini di bawah harapan pasar sebesar USD 43,7 miliar. Ini jarak terkecil sejak Oktober 2016.

Sedangkan defisit dengan China melonjak 18,7 persen menjadi USD 33,2 miliar pada Mei dari April 2018 di posisi USD 28 miliar.

Kesenjangan perdagangan dengan Meksiko naik 18,8 persen menjadi USD 6,7 miliar dari posisi April 2018 sebesar USD 5,7 miliar. Kemudian dengan Kanada melonjak 86,2 persen menjadi USD 1,5 miliar. Sementara itu, defisit perdagangan menyempit dengan Uni Eropa dan Jepang.

Sementara itu, China mencatatkan surplus perdagangan meski mengecil menjadi USD 41,61 miliar pada Juni 2018 . Pada Mei 2018, China catatkan surplus perdagangan USD 42,79 miliar. Surplus di atas konsensus pasar sebesar USD 27,9 miliar meski ada perang dagang antara AS dan China. Impor naik 14,1 persen dan ekspor naik 11,3 persen. China catatkan surplus dengan AS, yang merupakan pasar ekspor terbesar China ke posisi USD 28,97 miliar pada Juni.

Kemudian bank sentral Kanada menaikkan suku bunga 25 basis poin menjadi 1,5 persen pada 11 Juli 2018. Ini sejalan dengan harapan pasar. Bank sentral Kanada sudah menaikkan suku bunga sebanyak dua kali dan akan kembali naik hingga capai 2,5 persen.

Dari dalam negeri, Pemerintah Indonesia menyepakati perjanjian awal dalam bentuk Head of Agreement dengan Freeport McMoran Inc. Ini langkah akuisisi 51 persen saham di PT Freeport Indonesia.

Sebelumnya kepemilikan saham pemerintah Indonesia di Freeport Indonesia sebesar 9,36 persen. PT Indonesia Asahan Aluminium atau Inalum akan membayar USD 3,5 miliar untuk kepemilikan Rio Tinto di Freeport Indonesia.

 

1 dari 2 halaman

Aksi Beli Investor Asing Stabil

Lalu apa yang perlu dicermati ke depan?

Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) catatkan kinerja mingguan terbaik sejak 2016. IHSG menguat 4,4 persen dari periode 30 Desember 2016 sebesar 5,4 persen. Penguatan IHSG terjadi di tengah ketegangan global yang meningkat akibat perang dagang.

Imbal hasil obligasi juga reli dengan imbal hasil obligasi bertenor 10 tahun tercatat 7,5 persen. Ini dapat menunjukkan pasar telah mempertimbangkan skenario lebih buruk dari yang diharapkan dan sekarang kembali ke Indonesia.

Aliran dana investor asing: volume rendah atau nyata lalukan aksi beli?

Aksi beli investor asing pada pekan ini cenderung stabil terutama dekati akhir pekan. Penyebaran dan pemilihan saham yang dibeli baik unggulan dan kapitalisasi kecil merata.

"Kami anggap arus dana investor asing menjadi investor aktif untuk mencari valuasi saham menarik," tulis analis PT Ashmore Assets Management.

Ashmore melihat aksi jual investor asing cukup besar di Indonesia di antara pasar ASEAN. Aksi jual investor asing termasuk yang terbesar di Indonesia yang terbesar kedua.

Apakah pergerakan IHSG masih stabil?

Ashmore melihat volatilitas masih relatif tinggi melihat data historis. Selain itu belum menunjukkan tanda stabil. Perang dagang sedang berlangsung dan belum melihat kecenderungan mereda. Ada kabar kemungkinan pembicaraan antara AS dan China bisa positif dampaknya hanya jangka pendek.

"Kami masih melihat ketegangan perang dagang hingga Oktober 2018 kecuali ada bantahan kuat dari Kongres AS,” tulis analis Ashmore.

Ashmore melihat, pasar saham masih menjadi pilihan hingga akhir tahun. Rilis laporan kinerha keuangan akan menjadi katalis untuk pasar saham ke depan.

 

Saksikan video pilihan di bawah ini:

 

Artikel Selanjutnya
Investor Asing Beli Saham, IHSG Mendaki 36,20 Poin
Artikel Selanjutnya
Sektor Saham Pertambangan Dorong IHSG Naik ke 5.923,39