Sukses

Harga Emas Kehilangan Kemilau di Akhir Pekan

Liputan6.com, New York - Harga emas dunia melemah di akhir pekan, menuju penurunan mingguan terbesar dalam 2,6 bulan. Penurunan dipicu penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan imbal hasil obligasi.

Melansir laman Reuters, Sabtu (24/2/2018), harga emas di pasar spot turun 0,2 persen ke posisi US$ 1.328,74 per ounce.

Sementara harga emas berjangka AS untuk April turun US$ 2,40, atau 0,2 persen ke posisi US$ 1.330,30 per ounce.

Harga emas di pasar spot telah merosot 1,4 persen minggu ini, menjadi penurunan mingguan terbesar sejak awal Desember, setelah gagal mempertahankan dorongan singkatnya di posisi di atas US$ 1.360 per ounce pada Jumat lalu.

"(Baru-baru ini) tingkat tertinggi multi tahun dalam hasil pasti merupakan faktor untuk logam hari ini, "kata Mike O'Donnell, ahli strategi pasar di RJO Futures.

Harga emas mendapatkan tekanan berat pada minggu ini seiring pulihnya greenback dan ekspektasi bahwa Bank Sentral Amerika Serikat (AS) akan terus melanjutkan kebijakan kenaikan suku bunganya pada tahun ini.

Kebijakan ini akan membuat emas yang tidak memberikan imbal hasil menjadi kurang diminati.

Kenaikan imbal hasil obligasi AS telah menempatkan dolar di jalur kenaikan mingguan terbesar kedua tahun ini. Pasar saham AS juga menguat setelah mencatat kerugian tajam baru-baru ini.    

Pelemahan euro turut menekan emas. "Kelemahan lebih dalam emas dan euro bisa menjadi awal dari tren baru dan harus berhati-hati," kata Friedberg Mercantile dari Sholom GroupSanik.   

Di pasar emas fisik, pedagang mengatakan pembelian teredam usai berlangsungnya perayaan Imlek.

Sementara harga paladium meningkat 0,8 persen menjadi US$ 1.046,60 per ounce. Harga perak turun 0,6 persen ke posisi US$ 16,51 per ounce, menuju penurunan 0,9 persen secara mingguan.

Harga platinum naik 0,2 persen ke posisi US$ 995,80 per ounce, tapi secara mingguan turun 0,6 persen.

1 dari 2 halaman

Dolar AS Keok Bikin Harga Emas Naik

Harga emas dunia naik terimbas dari pelemahan dolar Amerika Serikat (AS). Sentimen lainnya yang mengangkat harga emas, yakni inflasi AS dan komitmen The Fed menyesuaikan suku bunga acuan.

Mengutip Reuters, Jumat (23/2/2018), harga emas di pasar spot menguat 0,6 persen menjadi US$ 1.331,56 per ounce. Namun selama sepekan, masih turun 1,2 persen.

Harga emas berjangka untuk kontrak pengiriman April mengalami kenaikan 60 sen atau 0,1 persen ke angka US$ 1.332,70 per ounce.

Sementara harga perak ikut terkerek naik 0,6 persen ke US$ 16,58 per ounce, dan platinum menguat 0,7 persen pada harga US$ 993,50 atau naik dari level terendah selama seminggu sebesar US$ 980 per ounce.

Kenaikan harga emas dipengaruhi pelemahan indeks dolar AS terhadap mata uang utama. Di pasar uang, mata uang Yen Jepang terhadap dolar AS menguat.

"Kami melihat mata uang utama lebih tinggi daripada dolar AS," kata President of World Markets di EverBank, Chris Gaffney.

Harga emas diperkirakan tetap akan menguat karena terimbas hasil rapat Bank Sentral AS atas kenaikan inflasi dan tetap komitmen menaikkan suku bunga acuan.

"FOMC (The Federal Open Market Committee) yakin ekonomi AS akan menguat dan target inflasi akan tercapai," ujar analis Commerzbank, Carsten Fritsch.

Artikel Selanjutnya
Dolar AS Keok Bikin Harga Emas Naik
Artikel Selanjutnya
Harga Emas Antam Betah di Posisi Rp 637 Ribu per Gram