Sukses

Minim Sentimen, Laju IHSG Cenderung Mendatar Pekan Ini

Liputan6.com, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan mendatar dengan kecenderung tertekan pada perdagangan saham sepekan depan. Lantaran, sentimen penggerak IHSG relatif sepi.

Analis PT Recapital Asset Management Kiswoyo Adi Joe menyebut, sejumlah sentimen penggerak IHSG telah dirilis. Sebutnya, data ekonomi inflasi.

"IHSG cenderung flat turun," kata dia kepada Liputan6.com, Jakarta, Senin (8/1/2018).

Dia melanjutkan, saat ini pelaku pasar tengah menanti kebijakan Bank Indonesia (BI) terkait suku bunga. Meski demikian, dia memperkirakan suku bunga BI 7 days reverse repo (7DRR) tetap. Kemudian, pelaku pasar juga menunggu data pertumbuhan ekonomi nasional.

"Pertumbuhan ekonomi, tapi itu masih lama," sambungnya.

Kiswoyo memperkirakan IHSG berada pada support 6.250. Kemudian, resistance pada level 6.450. Saham-saham yang berkaitan dengan infrastruktur bisa dikoleksi oleh pelaku pasar.

Kiswoyo merekomendasikan PT Adhi Karya Tbk (ADHI), PT Wijaya Karya Tbk (WIKA), PT PP Tbk (PTPP), dan PT Waskita Karya Tbk (WSKT).

Sebagai tambahan, kapitalisasi pasar di Bursa Efek Indonesia (BEI) mengalami kenaikan 0,11 persen ke posisi Rp 7.060,81 triliun dari posisi di akhir tahun lalu sebesar Rp 7.052,38 triliun. Namun, IHSG turun tipis 0,03 persen menjadi 6.353,73 dari posisi akhir penutupan perdagangan tahun 2017 sebesar 6.355,65.

1 dari 2 halaman

IHSG

Sebelumnya, laju IHSG terus bergerak perkasa pada akhir pekan lalu meski sempat turun pada awal perdagangan saham.

Pada penutupan perdagangan saham, Jumat 5 Januari 2018, IHSG naik 61,41 poin atau 0,98 persen ke posisi 6.353,73. Indeks saham LQ45 menguat 1,21 persen ke posisi 1.080,15. Seluruh indeks saham acuan menghijau.

Ada sebanyak 216 saham menguat sehingga mendorong IHSG ke zona hijau. 122 saham melemah. 124 saham lainnya diam di tempat. IHSG sempat berada di level tertinggi 6.353,73 dan terendah 6.278,72.

Transaksi perdagangan saham cukup ramai menjelang akhir pekan ini. Total frekuensi perdagangan saham 326.306 kali dengan volume perdagangan 11 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 6,5 triliun. Investor asing melakukan aksi beli Rp 339,69 miliar. Posisi dolar Amerika Serikat (AS) berada di kisaran Rp 13.409.

Secara sektoral, sebagian besar sektor saham menghijau kecuali sektor saham pertanian turun 0,60 persen. Sektor saham tambang naik 3,01 persen, dan mengangkat sektor ini catatkan performa terbaik. Disusul sektor saham barang konsumsi menguat 1,71 persen dan sektor saham manufaktur mendaki 1,41 persen.

Saham-saham yang catatkan penguatan antara lain saham PNBS naik 14,49 persen ke posisi Rp 79, saham DOID melonjak 9,79 persen ke posisi Rp 785, dan saham FINN menguat 9,52 persen ke posisi Rp 115 per saham.

Sedangkan saham-saham yang tertekan antara lain saham MABA melemah 24,50 persen ke posisi Rp 570 per saham, saham PSSI tergelincir 14,53 persen ke posisi Rp 200, dan saham SMDR turun 4,98 persen ke posisi Rp 458 per saham.

Bursa saham Asia sebagian besar menguat kecuali indeks saham Singapura turun 0,44 persen. Indeks saham Hong Kong Hang Seng menguat 0,25 persen, indeks saham Korea Selatan Kospi menanjak 1,26 persen, indeks saham Jepang Nikkei menguat 0,89 persen, indeks saham Shanghai mendaki 0,18 persen dan indeks saham Taiwan menanjak 0,29 persen.

"IHSG masih minim sentimen. Lebih kepada rebalancing. IHSG mencari saham-saham yang berpotensi naik. IHSG masih cenderung konsolidasi," ujar Analis PT Binaartha Sekuritas Reza Priyambada saat dihubungi Liputan6.com.

Ia menambahkan, penguatan IHSG juga didorong dari sentimen ekternal. Hal itu didorong dari bursa saham Asia cenderung positif. "Sentimen lebih banyak kepada Asia. Bursa Asia masih melanjutkan aksi beli," kata Reza.

Artikel Selanjutnya
Rupiah Sempat Tembus 13.800 per Dolar AS, IHSG Turun Terbatas
Artikel Selanjutnya
IHSG Naik Terbatas di Awal Sesi Perdagangan