Sukses

Nekat Banting Setir Saat Mapan, Andi Taufan Pilih Buka Amartha

Liputan6.com, Jakarta - Keberhasilan Amartha menjadi perusahaan yang menghubungkan antara pengusaha mikro dengan investor tak lepas dari kerja keras Andi Taufan. Sebelum bisa berada di posisinya saat ini, jatuh bangun harus dirasakan oleh laki-laki berusia 30 tahun ini.

Lelaki lulusan School of Business and Management, Institut Teknologi Bandung dan Public Adminstration, Harvard University ini tidak pernah memiliki tujuan untuk menjadi entrepreneur.

Namun siapa sangka? Kini kariernya justru melambung tinggi dan sukses menjadi CEO & Founder Amartha.

Taufan mengawali kariernya di IBM, perusahaan Teknologi Informasi (TI) berbasis di New York, Amerika Serikat dan merupakan perusahaan multinasional. Perusahaan IBM sendiri merupakan perusahaan yang menjadi dambaan banyak anak muda di dunia.

Saat masih bekerja di IBM, perusahaannya mendapat proyek kelapa sawit. Dia mendapat tugas keliling ke luar daerah dan ke luar kota dan mengunjungi kebun-kebun sawit.

Dari sana, dia melihat ketimpangan masyarakat pinggiran. Dia bahkan menemui dan berbincang dengan ibu-ibu di pedesaan tersebut.

Dia sempat bertanya apa yang menjadi penghambat masyarakat di sana untuk maju. Dan hasil yang didapatnya, tak jauh dari persoalan modal. Sejak dari sanalah ada sesuatu yang menguggah hatinya.

Pada tahun 2009, dia memilih mundur dari IBM meski orang tuanya semula tak setuju dengan keputusan nekatnya tersebut. Hingga pada akhirnya, orang tuanya memberikan restu atas keputusan yang dipilih anaknya.

Akhirnya, pada tahun 2010, Taufan mulai membuka Lembaga Keuangan Mikro dengan misi menghubungkan pelaku usaha di pedesaan yang kesulitan mendapat modal usaha. Dia memulainya dengan memberikan pinjaman ke pedesaan.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

2 dari 2 halaman

Warung Nasi

Awalnya, dia memberikan pinjaman kepada satu orang yang membuka usaha warung nasi, dari sana semakin banyak orang yang ingin meminjam uangnya lagi. Namun hal itu tidak berlangsung lama, dia harus mengalami kegagalan.

"Saya mulai kasih pinjam ke satu orang. Mereka berterima kasih karena jika pinjaman bank keliling dikenai bunga. Dari sana, pengusaha warung nasi itu ngundang saya lagi untuk datang karena banyak yang ingin ikut meminjam modal. Namun, mungkin karena saya naif, ternyata itu tidak berlangsung lancar. Karena mereka tidak bisa balikin hutangnya karena ada keluarga yang sakit atau ada usaha lain," ungkap Andi Taufan, saat menjadi salah satu pembicara Entrepreneurs Wanted! di Sasana Budaya Ganesha, Institut Teknologi Bandung, Senin (18/12/2017).

Dari sana, Taufan belajar dari kegagalannya dan kembali bangkit. "Dari sana saya belajar bahwa memberikan pembiayaan di pedesaan jangan hanya modal dan kepercayaan saja. Akhirnya, saya belajar dari internet, bagaimana cara mau ngasih pinjaman yang baik, bagaimana mengatasi kredit macet, hingga akhirnya saya bekerja sama dengan ibu-ibu yang mau nalangin modal dahulu dan akhirnya berhasil," ujarnya.

"Awalnya bikin Lembaga Keuangan Mikro dengan modal Rp 15 juta, di mana Rp 500 ribu per orang. Satu tahun jalan bisa dapat seribu orang. Modalnya dari orang tua teman-teman pas kuliah. Bertahap dari sana, saya mulai ke bank-bank dan hingga akhirnya dapat Rp 5 miliar. Namun untuk lebih dari itu Rp 5 miliar, bank menyarankan untuk ada fix aset," katanya.

Pada tahun 2015, saat internet sedang berkembang dan saat perusahaan miliknya sudah berjalan selama 5 tahun, Taufan akhirnya memilih untuk membuat platform online.

Perusahaan Amartha kini sukses tumbuh menjadi fintech peer to peer lending untuk menghubungkan langsung pengusaha mikro dengan pemodal secara online. Bahkan kini Amartha tercatat telah menyalurkan belasan miliar dan sebanyak 3.000 orang telah bergabung.

"Kalau mau buka bisnis atau berkarya, modal memang penting, namun punya passion, precision, dan misinya juga penting," tutupnya.