Sukses

Ekonomi RI Kuartal II Diramal Tumbuh 5,07 Persen

Liputan6.com, Jakarta Ekonom memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada pada kisaran 5,05 persen sampai 5,07 persen di kuartal II-2017. Penopang produk domestik bruto (PDB) pada periode tersebut masih berasal dari konsumsi rumah tangga dan pengeluaran pemerintah.

"Pertumbuhan  ekonomi kuartal II ini diperkirakan mencapai 5,07 persen dibanding kuartal II-2016 (year on year/yoy)," kata ekonom dari PT Bank Permata Tbk, Josua Pardede, saat dihubungi Liputan6.com di Jakarta, Senin (7/8/2017).

Proyeksi tersebut lebih tinggi dari kuartal I-2017 yang tercatat sebesar 5,01 persen (yoy). Menurut Josua, kinerja ekonomi kuartal II-2017 yang diramal 5,07 persen didorong meningkatnya permintaan domestik, terutama konsumsi rumah tangga, serta konsumsi dan investasi pemerintah.

Josua menjelaskan, peningkatan konsumsi rumah tangga pada kuartal II di tahun ini terindikasi dari impor barang konsumsi yang tumbuh 14,5 persen (yoy) daripada kuartal I yang tercatat 4,8 persen (yoy).

Selain itu, pertumbuhan uang beredar (M1) menunjukkan tren peningkatan dari 14,2 persen (yoy) pada kuartal I menjadi 17,8 persen (yoy) pada kuartal II tahun ini.

"Tapi data penjualan otomotif pada kuartal II terjadi perlambatan penjualan mobil tumbuh negatif 5,6 persen (yoy) dari kuartal sebelumnya tumbuh positif 6,2 persen (yoy); sementara laju penjualan motor tercatat -10,9 persen (yoy) dari kuartal sebelumnya -6,8 persen (yoy)," terang Josua.

Josua lebih jauh menjelaskan, indikator proxy dari konsumsi rumah tangga, seperti penjualan ritel dan indeks kepercayaan konsumen pada kuartal II secara rata-rata meningkat dibandingkan kuartal sebelumnya.

Peningkatan konsumsi rumah tangga, meskipun terbatas, masih dipengaruhi oleh faktor musiman Idul Fitri, serta liburan sekolah pada akhir kuartal II. "Secara keseluruhan, konsumsi rumah tangga diperkirakan tumbuh sekitar 5,0 persen," tuturnya.

Josua menambahkan, konsumsi pemerintah pada kuartal II juga cenderung solid karena terindikasi dari penyaluran bantuan pangan nontunai pemerintah pada Juni yang lalu.

Selain itu, konsumsi pemerintah masih ditopang oleh akselerasi belanja pemerintah dengan peningkatan belanja pegawai, dan belanja barang yang signifikan.

Selain konsumsi rumah tangga dan pemerintah, investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) pada kuartal II diperkirakan Josua masih tumbuh positif sebesar 4,8 persen.

Akan tetapi, hal itu melambat dari kuartal sebelumnya, terindikasi dari penjualan semen yang terkontraksi -1,2 persen (yoy) pada kuartal II dari tumbuh positif 2,0 persen (yoy) pada kuartal I.

Sementara, impor barang modal pada kuartal II juga tumbuh terkontraksi negatif 2,3 persen (yoy) dari kuartal sebelumnya yang tumbuh positif 6,5 persen (yoy).

Josua memproyeksikan, pertumbuhan ekspor pada kuartal II-2017 diperkirakan sedikit melemah, terindikasi dari kinerja pertumbuhan ekspor nonmigas yang melambat menjadi 6,8 persen (yoy) dari kuartal sebelumnya yang tumbuh 21,8 persen (yoy).

"Ekspor diperkirakan tumbuh 7,0 persen di kuartal II ini," paparnya.

Dari sisi sektoral, sektor manufaktur masih berkontribusi paling besar pada perekonomian Indonesia, tapi pertumbuhan sektor pengolahan diperkirakan masih sekitar 4-5 persen (yoy).

Laju pertumbuhannya diperkirakan masih lebih rendah dibandingkan sektor jasa seperti informasi dan komunikasi, serta jasa keuangan yang diperkirakan mencatat laju pertumbuhan paling tinggi dibandingkan sektor lainnya. Kontribusi dari kedua sektor tersebut relatif kecil kurang dari 5 persen dari perekonomian.

Sementara itu, ekonom INDEF, Bhima Yudhistira Adhinegara, memproyeksikan pertumbuhan ekonomi di kuartal II-2017 tumbuh 5,05 persen (yoy).

"Momentum Lebaran dinilai tidak bisa mendongkrak konsumsi rumah tangga secara signifikan," tegasnya.

Indikator lainnya, diakui Bhima, adalah lesunya penjualan ritel. Pertumbuhan indeks penjualan riil Bank Indonesia per Mei tumbuh 4,3 persen (yoy). Angka itu lebih rendah dibandingkan periode yang sama sebelumnya sebesar 13,6 persen (yoy).

"Dari sisi industri manufaktur diprediksi masih tumbuh terbatas di bawah 4,5 persen. Diharapkan ada dorongan pertumbuhan dari sisi investasi dan ekspor nonmigas," pungkas Bhima.

Loading