Sukses

Bos Alibaba Ungkap Profesi Bergaji Besar di Masa Depan

Liputan6.com, Jakarta - Jack Ma, pendiri perusahaan raksasa Alibaba mengungkap beberapa tantangan yang akan dihadapi oleh para pencari kerja di masa depan. Menurutnya, dalam waktu 30 tahun mendatang, kecerdasan buatan atau artificial intelligence akan mengalahkan kemampuan manusia, sehingga bukan tidak mungkin akan banyak lapangan pekerjaan yang hilang karena hal ini.

Jack mengatakan, mereka yang bisa mengikuti perkembangan teknologi akan mampu menjadi sukses dan kaya. Namun nasib bertolak belakang harus rela didapat bagi orang-orang yang tidak mawas akan hal ini.

"Era baru akan segera datang. Lapangan pekerjaan akan makin berkurang. Mereka yang tidak bisa mengikuti hal ini harus siap menerima kenyataan pahit masa depan," ujar Jack seperti dikutip dari CNBC, Senin (26/6/2017).

Untuk itu, di tengah kemajuan teknologi yang amat pesat ini, Jack Ma menghimbau untuk fokus pada profesi yang berbasiskan data. Menurutnya, profesi dengan pekerjaan utama menganalisis data akan mampu sukses dan mendapat gaji besar di masa depan.

"Dunia akan penuh dengan data. Saya pikir, ini merupakan awal dari periode data," kata Jack.

Lebih lanjut Jack Ma menceritakan, bahwa Alibaba kini memiliki banyak sekali catatan data dari penggunanya. Keseluruhan data tersebut, menurut Jack, bisa digunakan untuk meneliti pola dan memprediksi tren masa depan.

"Menurut saya, keberadaan data akan sangat vital bagi keberlangsungan hidup di masa depan. Nantinya semua hal akan serba terhubung," pungkas Jack.

Jack Ma bukanlah pebisnis pertama yang menekankan pentingnya kemampuan analisis. CEO Space X dan Tesla Elon Musk kini sedang memutahirkan proyek teknologi yang bisa menghubungkan otak manusia dengan komputer. Nantinya, teknologi ini bisa membantu kemampuan proses data otak manusia yang tergolong rendah.

Bos Alibaba Jack Ma merupakan salah satu orang terkaya di Asia, dan berada di posisi 14 di dunia berdasarkan indeks Bloomberg Billionaires. Kekayaan bersih Jack Ma naik US$ 8,5 miliar pada 2017 menjadi US$ 41,8 miliar.

Tonton Video Menarik Berikut Ini:

 

Loading