Sukses

Tips untuk Keluarga Baru Supaya Punya Rumah dan Sekolahkan Anak

Liputan6.com, Jakarta - Bagi Anda yang keluarga baru tentu saja memiliki keinginan untuk memiliki rumah idaman sekaligus bisa menyekolahkan anak di tempat terbaik. Namun, keinginan tersebut seolah akan sulit tercapai mengingat pendapatan yang dimiliki sangat pas-pasan.

Perencana Keuangan Mike Rike Sutikno mengatakan, perlunya perencanaan yang matang untuk menggapai keinginan itu semua. Dia menuturkan, untuk menggapai itu semua mesti dilakukan secara bertahap.

Mike menerangkan, misalnya sebuah keluarga baru memiliki pendapatan total Rp 10 juta. Dia bilang, keluarga tersebut mesti menghimpun dana darurat atau emergency fund di tahun pertamanya. Dana ini hanya boleh dikeluarkan untuk keperluan yang sangat mendesak.

"Setahun pertama ngumpulin emergency fund, fokus," kata dia.

Dia bilang, untuk membentuk dana tersebut bisa dilakukan dengan cara menghemat pengeluaran. Caranya, mau tidak mau mesti tinggal bersama mertua. "Satu tahun pertama emergency fund dulu tinggal pondok mertua indah nggak apa-apalah setahun," kata dia.

Kemudian, dia menuturkan baru mencari dana untuk mengumpulkan uang muka rumah atau down payment (DP). Caranya beragam, dengan menyisihkan sebagian penghasilan untuk disisihkan ke instrumen investasi seperti reksadana. Namun hal itu juga berisiko karena permintaan masyarakat akan properti terus naik.

Dia bilang, hal itu bisa disiasati dengan mencari dana talangan atau utang. Setelah mendapat dana talangan baru mengajukan kredit pemilikan rumah atau KPR.

"Tahun pertama sambil ngumpulin emergency fund ngumpulin DP, habis itu KPR pasti punya murah," jelas dia.

Dia mengatakan, idealnya porsi konsumsi sebanyak 70 persen dari pendapatan keluarga. Namun, kalau bisa porsi itu ditekan supaya sisanya bisa digunakan untuk tabungan anak.

"Sekitar 60 persen kalau bisa 40 persen investasi. Cicilan 30 persen kalau KPR, 10 persen nabung (untuk anak), jadi relevan kan. 10 persen nabung keluarga muda mesti KPR-lah," tutur dia.

Memang, ujar dia, untuk memperoleh rumah dan menyekolahkan anak tergantung dari gaya hidup sebuah keluarga. Dia mengatakan, untuk memperoleh itu semua mesti mengorbankan gaya hidup mewah. (Amd/Ndw)