Sukses

Kisah Martha Tilaar, Bekas TKW yang Kaya Raya Berkat Jamu

Liputan6.com, Jakarta - Kisah inspiratif seorang Martha Tilaar dimulai ketika ia tinggal di Amerika Serikat selama lima tahun demi mewujudkan mimpinya untuk bisa sekolah di Beauty Academy.

Berawal menjadi tenaga kerja wanita (TKW), pada saat itu Martha melihat peluang akibat semakin sibuknya ibu rumah tangga di Amerika sehingga tidak sempat untuk mengurus anak-anaknya, dari situlah ia berpikir untuk mnjadi baby sitter. Gaji yang ia dapatkan langsung ditabung untuk membiayai sekolahnya di Negeri Paman Sam.

Akhirnya Martha Tilaar bisa mulai menempuh pendidikan di Beauty Academy, Amerika Serikat (AS). Keinginan untuk sekolah di luar negeri semata-mata untuk semakin meyakinkan pemikirannya jika ingin sukses maka harus dimulaidi luar negeri. Oleh karenanya, dia tidak memilih Indonesia sebagai tempatnya menuntut ilmu kecantikan.

Pemikiran tersebut tiba-tiba berubah ketika dosennya di akademi tersebut menyuruhnya membuat paper sebagai syarat kelulusannya mengenai The Indigenous Make Up of Your Country  (make up khas negara asal).

Di situ Martha merasa takut dan shock karena ia tidak mengerti apapun mengenai kebudayaan Indonesia hingga akhirnya Ia dibantu oleh seorang temannya untuk mempelajari make up Indonesia.

Hampir saja Martha tidak bisa lulus karena ini tapi ia hanya bisa berdoa kepada Tuhan dan berjanji jika lulus maka Ia akan pulang ke Indonesia dan menerapkan ilmu yang ia dapatkan mengenai kecantikan di Indonesia.

2 dari 2 halaman

Rintis bisnis dari garasi

Rintis bisnis dari Garasi

Setelah lulus Martha memenuhi janjinya untuk pulang ke Indonesia dan mulai merintis usaha kecil-kecilannya yang berawal dari garasi berukuran 4x6 meter, namun hal itu tidak mulus ia lalui.

Mendapat ejekan dari orang lain yang menganggap ia adalah orang gila yang ingin cepat kaya dan berkaitan erat dengan mistis karena ia menjual ramuan herbal dan jamu sembari menjalankan salonnya yang ternyata tidak laku di lingkungannya.

Hingga akhirnya ia memanfaatkan letak rumahnya di Jakarta yang dekat dengan komplek kedutaan besar berbagai negara dengan menitipkan brosurnya kepada loper Koran. Ia tidak bisa memasang iklan langsung di koran karena tidak adanya biaya.

Namun dengan cara itu justru dia menjadi langganan para istri pejabat kedutaan besar, dari situ perlahan-lahan bisnis Martha berjalan ditambah lagi dimuatnya cerita hidupnya di buku seorang penulis bernama Jhonnys Beet pada halaman 202-203.

Tidak sampai di situ, Martha juga tetap fokus pada bisnis jamunya yang juga ikut mendunia karena dengan jamu yang ia olah bisa mematahkan vonis 4 dokter profesional yang telah meyatakan bahwa Martha tidak akan bisa hamil, sekalipun bisa bayinya kemungkinan lahir dengan cacat. Pada usia 41 tahun Martha bisa melahirkan 2 anak yang sempurna dan cerdas.

Dari situ pula ia semakin fokus dengan bisnis jamunya sampai ke Belanda untuk mempelajari spesies jamu di Tex Herbarium, hingga ia diminta untuk menulis resep jamu dalam Bahasa Inggris.

Berkat kerja kerasnya, Martha kini menjadi pengusaha sukses dengan merek dagang Sariayu. Produk Sariayu tidak hanya dipakai di Indonesia tapi juga sudah mendunia.

Selain sukses dalam bisnis, Martha juga sukses dalam program kemanusiaan The Global Compact di mana ia bisa membina semua anak-anak pedesaan yang hendak dijual oleh keluarganya menjadi sarjana dan sukses. Hingga pihak NJO Paris menyatakan bahwa Martha mampu menjadi sosok ideal founder The Global Impact untuk PBB.

Dari kisah ini kita belajar bahwa siapapun dan darimanapun Anda berasal tidak menghalangi untuk bisa sukses. Jika seorang “bakul jamu” saja bisa sukses, mengapa kita tidak?

(Nabila)