Sukses

Data Ekonomi RI Mengecewakan, Rupiah Melemah

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terdepresiasi hingga ke level 13.333 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (10/5/2016). Kondisi ini terjadi seiring terseretnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang menyentuh 4.763 dan hantaman sentimen negatif data ekonomi makro Indonesia.

Pengamat Valas Farial Anwar mengungkapkan, pelemahan kurs rupiah dipicu beberapa faktor internal terutama melesetnya realisasi pertumbuhan ekonomi di kuartal I 2016. Pemerintah dan banyak pengamat ekonomi memprediksi ekonomi Indonesia bertumbuh lebih dari 5 persen. Namun faktanya, hanya mampu tumbuh 4,92 persen. 

"Data pertumbuhan ekonomi kuartal I tidak seperti apa yang diharapkan pasar dan ekonom. Itupun lebih didominasi konsumsi, bukan pengeluaran pemerintah karena belum terlihat untuk pembangunan infrastruktur," ujar Farial saat dihubungi Liputan6.com, Jakarta, Selasa (10/5/2016).

Faktor lain, kata Farial, paket kebijakan ekonomi dari jilid 1 sampai 12 belum berjalan. Hal ini menimbulkan kekecewaan di kalangan pengusaha maupun investor karena ekspektasi yang awalnya positif seketika berubah menjadi negatif sehingga berdampak buruk bagi kurs Rupiah dan portofolio investasi saham.

"Karena kecewa dengan realisasi yang belum terlihat dari paket kebijakan, dan pertumbuhan ekonomi berpengaruh terhadap kurs maupun sahamnya," terangnya.

Selain itu, tambah Farial, saat ini terjadi arus balik investor asing di pasar modal. Arus modal keluar tersebut mengakibatkan IHSG jatuh ke level 4.750. Yang terjadi, investor menjual saham untuk mendapatkan rupiah, lalu dijual ke dalam bentuk mata uang dolar AS.

"Jadi indeksnya jatuh, dolarnya naik karena investor keluar melihat prospek ekonomi negara, industri perdagangan. Kalau prospek bagus, investor bisa dapat untung, tapi kalau jelek ya rugi," paparnya.

Kondisi tersebut mengerek penguatan dolar AS. Dolar AS terapresiasi terhadap hampir seluruh mata uang di dunia ketika realisasi pertumbuhan ekonomi China lebih buruk dari sebelumnya sehingga berdampak pelemahan pasar dagang di Asia.

Sentimen lainnya yang mendorong penguatan dolar AS yakni kabar soal Inggris yang berniat keluar dari zona Euro. Serta pernyataan The Fed bahwa ada potensi kenaikan suku bunga acuan di tahun ini.

"Jadi orang lebih memilih memegang dolar AS karena dianggap aman ketika ada krisis. Karena keluarnya Inggris akan berdampak besar terhadap Eropa dan negara lain yang tergabung di dalamnya," jelasnya.

Mirisnya lagi, kata Farial, harga komoditas belum beranjak menguat. Hal ini tercermin dari penurunan harga emas dan komoditas lain. Imbasnya pada kinerja ekspor Indonesia karena lebih dari 50 persen, ekspor Negara ini didominasi komoditas.

Dia berharap, ada perbaikan ekonomi Indonesia di kuartal II dan III ini dari pengeluaran pemerintah. Pasalnya Farial menilai, kondisi ekonomi Negara ini tidak akan separah tahun lalu.

"Sebab faktor pengganggunya seperti ketidakpastian kenaikan suku bunga AS sudah tidak ada lagi. Jadi kalau IHSG sudah pada bottom 4.700, investor akan buyback lagi seiring perbaikan ekonomi di kuartal II dan III. Investor akan tukar dolar ke rupiah untuk beli saham lagi," tandas Farial.