Sukses

Menko Darmin: Rupiah Menguat, Semua Belum Bisa Dianggap Tenang

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mengalami penguatan signifikan dalam sepekan. Bila berdasarkan kurs Kurs Referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah telah menguat 8,07 persen selama sepekan.

Rupiah sempat berada di posisi Rp 14.709 per dolar Amerika Serikat (AS) pada 2 Oktober 2015 menjadi Rp 13.521 per dolar AS pada Jumat 9 Oktober 2015, dan menjadi mata uang yang paling perkasa di kawasan Asia Pasifik.

Melihat fenomena ini, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengaku bukan berarti ekonomi Indonesia langsung membaik. Ia meminta semua pihak untuk tidak berpuas diri.

"Jadi ini jangan dilihat semua akan tetap positif, nanti akan ada rapat pada AS lagi apa akan berubah kebijakan di sana, semua akan berubah lagi. Jadi semua belum bisa dianggap tenang, tidak boleh begitu," kata Darmin seperti yang ditulis, Sabtu (10/10/2015).

Untuk itu, meski kurs mengalami perbaikan, pemerintah tetap harus bekerja untuk meningkatkan daya saing Indonesia dan membuat kebijakan yang konsisten untuk memudahkan investasi di Indonesia.

Ini menjadi salah satu alasan bagi pemerintah untuk tetap merencanakan peluncuran paket kebijakan jilid IV yang akan diumumkan minggu depan.

‎"Yang membaik baru kurs, yang kita perlukan kegiatan ekonomi meningkat supaya perlambatannya ekonomi tidak keterusan lagi. Lebih bagus lagi kalau bisa balik meningkat, jadi ini semua masih memerlukan perbaikan iklim usaha, penyederhanaan aturan‎," papar Darmin.

‎Seperti diketahui, Bank Indonesia (BI) mengungkapkan rupiah menjadi mata uang yang paling perkasa di kawasan Asia Pasifik dilihat dari tingkat penguatannya.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara mengungkapkan selama sepekan ini, rupiah telah menguat 4,3-4,4 persen. Ini paling tinggi jika dibandingkan negara kawasan Asia.

"Ini kalau di lihat sampai Jumat ini, Ringgit Malaysia itu 3,4 persen, Korea 1,2 persen, Taiwan 1,2 persen dan Bath Thailand itu malah hanya 0,4 persen," kata Mirza.

Mirza mengatakan, penguatan rupiah itu memang dipengaruhi sentimen global. Bank sentral Amerika Serikat atau The Federal Reserve (The Fed) mengindikasikan untuk menunda kenaikan suku bunganya mengingat data-data tenaga kerja AS yang belum sesuai harapan.

Namun demikian, kondisi itu lebih ditambahkan dengan aksi pemerintah Indonesia yang mengeluarkan berbagai paket kebijakan ekonomi yang sudah dikeluarkan hingga jilid III. Paket kebijakan itu mempermudah investasi asing untuk menanamkan modalnya di Indonesia.‎ (Yas/Ahm)*

Loading