Sukses

IHSG Ditutup di 4.622,59, Level Terendah dalam 1,5 Tahun

Liputan6.com, Jakarta - Meskipun sempat melaju di zona hijau pada awal perdagangan, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya berlabuh di zona merah pada perdagangan Selasa (11/8/2015). Pelaku pasar lebih memilih untuk menahan akumulasi saham.

Pada penutupan perdagangan saham, IHSG melemah tajam 126,35 poin (2,66 persen) ke level 4.622,59. Indeks saham LQ45 turun 3,32 persen ke level 781,11. Seluruh indeks saham acuan tertekan pada perdagangan hari ini. Level tersebut merupakan level terendah dalam 18 bulan terakhir. Tercatat, IHSG sempat berada di level 4.620 pada 28 Ferbuari 2014 lalu.

Ada sebanyak 241 saham melemah sehingga menyeret IHSG ke zona merah. Akan tetapi, 58 saham menghijau dan 85 saham lainnya diam di tempat. Transaksi perdagangan saham hari ini cukup ramai. Total frekuensi perdagangan saham sekitar 219.840 kali dengan volume perdagangan 5,34 miliar saham. Nilai transaksi harian saham sekitar Rp 4,33 triliun.

Secara sektoral, sepuluh sektor saham tertekan. Sektor saham yang tertekan paling dalam adalah sektor industri dasar yang turun 4,90 persen. Lalu disusul sektor saham aneka industri yang tergelincir 4,86 persen, dan sektor saham manufaktur merosot 3,76 persen.

Berdasarkan data RTI, investor asing masih melanjutkan aksi jual. Investor asing melakukan aksi jual bersih sekitar Rp 500 miliar. Sedangkan pemodal lokal melakukan aksi beli bersih sekitar Rp 500 miliar.

Saham-saham yang menggerakkan indeks saham dan mencatatkan keuntungan antara lain saham PTIS naik 24,66 persen ke level Rp 910 per saham, saham KOBX mendaki 22,58 persen ke level Rp 152 per saham, dan saham GEMS menanjak 15,60 persen ke level Rp 1.445 per saham.

Saham-saham berkapitalisasi besar pun cenderung tertekan. Saham ETWA turun 18,79 persen ke level Rp 121 per saham, saham IIKP melemah 18,33 persen ke level Rp 980 per saham, dan saham BRAM susut 15,79 persen ke level Rp 4.000 per saham.

Kepala Riset NH Korindo Securities, Reza Priyambada mengatakan, IHSG terkoreksi karena belum ada sentimen pendorong indeks saham. Ia menilai, pelaku saham memilih untuk menahan akumulasi saham.

"Pelaku pasar lebih memilih untuk stay away dari pasar sehingga membuat IHSG akan kehilangan momentum kenaikannya," kata dia.