Sukses

Curhat Bos RNI Soal Gula Lokal Lebih Mahal dari Impor

Liputan6.com, Jakarta - Saat ini, produksi gula lokal yang bersumber dari petani tebu dinilai sudah kalah saing dengan gula rafinasi yang mayoritas berasal dari impor.

Kalah saing tersebut lebih diwujudkan dengan lebih mahalnya produksi gula lokal yang saat ini berkisar di harga Rp 8.500 per kilogram, jika dibandingkan dengan gula-gula rafinasi yang rata-rata Rp 8.000 per kilogram.

Sejatinya, gula rafinasi diperuntukkan bagi industri sementara gula putih lokal untuk konsumsi masyarakat.

Direktur Utama PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) Ismed Hasan Putro mengatakan ada bebera faktor yang menyebabkan harga gula lokal justru lebih mahal dibandingkan gula impor.

"Pertama ini gula kita berbasiskan perkebunan, kedua tentu over head cost tinggi, ketiga pabrik gula kita ini mayoritas sudah usia uzur kurang produktif," jelas Ismed saat ditemui di kantornya, Kamis (26/6/2014).

Ismed mencontohkan dengan penetapan harga jual gula oleh Kementerian Perdagangan sebesar Rp 8.500 per kilogram hal itu menjadikan dua pabrik gula milik BUMN yaitu milik RNI dan PTPBN tidak dapat berkeMbang.

"Sementara pabrik gula PTPN dan RNI tidak bisa investasi karena harga gula tidak menguntungkan, sekarang 8% pertumbuhan cost itu karena UMR dan kenaikan investasi, sementara harga gula naik hanya 1%, jadi tidak masuk," jelasnya.

Untuk itu Ismed meminta kepada pemerintah dalam hal ini kepada Kementerian Perdagangan dan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian untuk membuat kebijakan yang lebih pro dengan petani lokal.

Jika tidak, Imed khawatir ke depan akan terjadi kelangkaan petani tebu mengingat sudah tidak menguntungkannya menanam tebu yang mana sebagai bahan baku pembuatan gula.

"Dulu 2008 Pak JK membuat kebijakan melarang gula impor, dan dangan begitu nyatanya menguntungkan untuk petani tebu dan industri gula nasional. Sekarang itu Kementerian Perdagangan dan Men Equin diharapkan mengikuti kembali hal itu," pungkas Ismed. (Yas/Nrm)

Loading