Warga Gunung Sitoli Kekurangan Air Bersih

Pascagempa berkekuatan 8,7 skala Richter, 28 Maret silam, warga Kota Gunung Sitoli, Kabupaten Nias, Sumatra Utara, kesulitan memperoleh air bersih. PDAM setempat menurunkan enam mobil tangki air.

oleh Liputan6Diterbitkan 06 April 2005, 14:48 WIB
Liputan6.com, Gunung Sitoli: Korban gempa bumi di Kota Gunung Sitoli, Kabupaten Nias, Sumatra Utara, kesulitan memperoleh air bersih untuk minum dan memasak. Salah satu pengungsi yang bernama Anton Halawa kepada SCTV, Rabu (6/4), mengaku selama sepekan ini terpaksa mengambil air di parit dan memecahkan pipa perusahaan air minum.

Perusahaan daerah air minum Kota Gunung Sitoli mendistribusikan air bersih dengan menerjunkan enam unit mobil tangki air. Tiap tangki memiliki kapsitas 4.000 liter. Warga antusias menyambut pendistribusian bantuan air yang baru pertama kali dilakukan ini. Mereka mendatangi lokasi pembagian air bersih dengan membawa ember atau jeriken.

Pelabuhan Gunung Sitoli dipadati warga sejak beberapa hari terakhir. Tak hanya warga Gunung Sitoli, penduduk dari luar Gunung Sitoli juga ada di sana.

Yanti, warga Sibolga, mengaku memiliki keluarga di Kota Gunung Sitoli yang juga menjadi korban gempa dahsyat itu. Dia sengaja datang karena komunikasi terputus dan ingin melihat keluarga secara langsung. Yanti datang tidak dengan tangan kosong. Dia membawa bantuan, berupa beras dan mi instan. Menurut Yanti, hal ini dilakukan karena melihat penanganan yang dilakukan Satuan Koordinasi Pelaksana (Satkorlak) Penanggulangan Bencana Sumatra Utara masih kurang sempurna.

Ibu muda ini tergerak saat mengetahui informasi soal bantuan yang kurang optimal dan merata. Tayangan televisi juga menunjukkan nasib korban gempa yang memprihatinkan. "Kami putra-putri Nias melakukan apa saja yang bisa kita perbuat," kata Yanti.

Kepala Badan Informasi dan Komunikasi (Infokom) Sumatra Utara RE Nainggolan mengaku pihaknya telah mendistribusikan bahan makanan, khususnya beras, sekitar 300 ton. Nainggolan juga mengakui pendistribusian bantuan tidak merata karena jalur darat hampir lumpuh. Untungnya perbaikan jalur darat sudah selesai pada 4 April silam. Kendati demikian, pihaknya telah berkoordinasi dengan TNI Angkatan Udara dalam mengirimkan bantuan ke wilayah yang sulit dijangkau. Nainggolan berharap tanggap darurat selesai dua pekan mendatang [baca: Satkorlak Nias Mengakui Distribusi Bantuan Tersendat].(DNP/Tim Liputan 6 SCTV)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya