Liputan6.com, Jakarta: Terpilihnya Paul Wolfowitz sebagai presiden Bank Dunia memunculkan harapan positif bagi Indonesia. Sebagai mantan Duta Besar Amerika Serikat di Indonesia, Wolfowitz diharapkan memiliki perhatian dan dapat memahami kondisi Indonesia dalam hal alokasi dana dan kebijakan Bank Dunia. Ia pun dikenal sebagai tokoh yang memiliki keinginan untuk mengentaskan kemiskinan di negara negara berkembang. Pandangan ini disampaikan pengamat ekonomi Umar Juoro di Jakarta, baru-baru ini.
Paul Wolfowitz yang kini menjadi Deputi Menteri Pertahanan AS terpilih menjabat Presiden Bank Dunia, 31 Maret silam. Namun tokoh yang diisukan sebagai arsitek Perang Irak itu baru resmi menjalankan tugasnya awal Juni nanti [baca: Paul Wolfowitz Terpilih Menjadi Kepala Bank Dunia].
Umar Juoro berpendapat, Indonesia akan terbantu memperbaiki perekonomian pasca-Tsunami. Sebab sejak awal, Wolfowitz sudah terlibat dalam membantu para korban Tsunami. Ia juga bisa membantu menarik investor-investor dari luar. "Bencana alam Tsunami di Aceh, ia sangat concern sekali," ungkap Umar.
Pandangan lain disampaikan pengamat ekonomi dari Institute for Economic and Financial Development (Indef), Fadil Hasan. Ia menilai Wolfowitz tidak bisa diharapkan akan membuat Bank Dunia lebih memperhatikan Indonesia, termasuk kemungkinan memperoleh keringanan dalam membayar utang pinjaman. Pengangkatan Wolfowitz merupakan bagian dari politik dan misi tertentu Presiden AS George Walker Bush. Meski tujuannya sama, yakni untuk menghapuskan kemiskinan di dunia, cara yang akan ditempuh Wolfowitz kemungkinan besar tidak akan cocok dengan Indonesia.
Terpilihnya Wolfowitz pun sebenarnya diprotes negara-negara Eropa. Wolfowitz dianggap tidak layak memimpin lembaga yang mengurus proyek pendanaan di negara-negara berkembang itu. Alasannya Wolfowitz adalah arsitek kunci Perang Afghanistan dan Irak. Selain itu, Eropa khawatir Wolfowitz akan mengubah kebijakan World Bank sesuai dengan prioritas pemerintahan George Walker Bush yang konservatif dan ingin memaksakan demokrasi serta reformasi di berbagai negara.(DEN/Nastiti Lestari dan Noviar Jamal)
Paul Wolfowitz yang kini menjadi Deputi Menteri Pertahanan AS terpilih menjabat Presiden Bank Dunia, 31 Maret silam. Namun tokoh yang diisukan sebagai arsitek Perang Irak itu baru resmi menjalankan tugasnya awal Juni nanti [baca: Paul Wolfowitz Terpilih Menjadi Kepala Bank Dunia].
Umar Juoro berpendapat, Indonesia akan terbantu memperbaiki perekonomian pasca-Tsunami. Sebab sejak awal, Wolfowitz sudah terlibat dalam membantu para korban Tsunami. Ia juga bisa membantu menarik investor-investor dari luar. "Bencana alam Tsunami di Aceh, ia sangat concern sekali," ungkap Umar.
Pandangan lain disampaikan pengamat ekonomi dari Institute for Economic and Financial Development (Indef), Fadil Hasan. Ia menilai Wolfowitz tidak bisa diharapkan akan membuat Bank Dunia lebih memperhatikan Indonesia, termasuk kemungkinan memperoleh keringanan dalam membayar utang pinjaman. Pengangkatan Wolfowitz merupakan bagian dari politik dan misi tertentu Presiden AS George Walker Bush. Meski tujuannya sama, yakni untuk menghapuskan kemiskinan di dunia, cara yang akan ditempuh Wolfowitz kemungkinan besar tidak akan cocok dengan Indonesia.
Terpilihnya Wolfowitz pun sebenarnya diprotes negara-negara Eropa. Wolfowitz dianggap tidak layak memimpin lembaga yang mengurus proyek pendanaan di negara-negara berkembang itu. Alasannya Wolfowitz adalah arsitek kunci Perang Afghanistan dan Irak. Selain itu, Eropa khawatir Wolfowitz akan mengubah kebijakan World Bank sesuai dengan prioritas pemerintahan George Walker Bush yang konservatif dan ingin memaksakan demokrasi serta reformasi di berbagai negara.(DEN/Nastiti Lestari dan Noviar Jamal)