Liputan6.com, Jakarta: Malam semakin larut. Sebuah kawasan di sudut Kota Jakarta justru baru menggeliat. Mobil-mobil bermacam merek mutakhir mendatangi diskotek atau klub malam di sana. Kupu-kupu malam pun mulai beterbangan. Mereka hinggap menawari jasa agar mendapat rupiah. Ketika ditelusuri Tim Sigi SCTV, baru-baru ini, sebagian pekerja seks komersial tadi bukanlah penduduk asli Jakarta. Mereka datang dari daerah dengan alasan sama: mengadu nasib.
Jakarta memang bak petromak bersangkar emas. Sinarnya menarik untuk didekati laron-laron. Lantaran itulah, siapa saja boleh datang membawa harapan dan mimpi indah. Tapi, tak sedikit juga kecewa akan gemerlap Ibu Kota. Bahkan terjerumus ke lembah hitam. Para pekerja seks komersial (PSK) itu bekerja di diskotek atau klub malam yang bertaburan di Jakarta. Dinas Pariwisata DKI Jakarta menyebutkan, sedikitnya 600 diskotek berdiri di Jakarta. Dan, angka itu bukan mustahil akan melonjak.
Meski dibenci sebagian orang, kehadiran tempat dugem (dunia gemerlap) toh ikut mengisi pundi kas pemerintah daerah. Belum lagi terhitung ribuan pekerja yang terserap. Upaya pemberantasan pelacuran akhirnya cuma slogan. Kepala Sub Dinas Pembinaan Industri Pariwisata Jakarta Arie B. Soedarto mengakui, pengawasan terhadap fasilitas hiburan malam belum optimal lantaran ada konflik kepentingan. "Tapi, kita bukan anjing penjaga yang harus mengawasi setiap titik," kata Arie.
Ketika menelusuri daerah lokalisasi di Jakarta Utara dan Jakarta Barat, Tim Sigi sempat berbincang dengan seorang pelacur bernama Yulia. Dia mengaku sudah tiga tahun beroperasi setelah menjanda. "Kita nyari sendiri, tamu yang mau ditemani," kata Yulia yang tinggal di sebuah kamar berukuran 3 x 3 meter di kawasan Teluk Gong. Dalam semalam satu atau dua tamu bisa dilayani. Dari pekerjaan itu, Yulia mengaku mengantongi Rp 7 juta sampai Rp 8 juta per bulan.
Memang. Tidak semua PSK seperti Yulia mesti bersibuk dulu menjajakan diri di jalanan. Ani--sebut saja begitu--tak perlu repot-repot lantaran sang mucikari yang mencarikan tamu. Gadis berumur 16 tahun itu lalu menemani tamu berkaraoke sampai ke ranjang. Ani mengaku tidak berniat menjadi pelacur. Calo yang mengajak ke Jakarta menawari ia bekerja di restoran. "Ngak taunya malah kerja di diskotek," kata Ani.
Praktik prostitusi terselubung di rumah karaoke diakui kebenarannya oleh Hans, seorang pemilik diskotek di Jakarta. Wanita yang menemani tamu harus fresh dan berusia muda. Sebagian dari para penghibur didatangkan dari Indramayu, Jawa Barat. Lantaran itulah, Indramayu tak hanya dicap penghasil mangga legit, tapi juga pelacur laris manis. Kultur dan pola hidup materialistis serta kemiskinan diyakini pendorong maraknya perdagangan perempuan.
Ironisnya, penilaian negatif seolah dipandang sebelah mata oleh sebagian masyarakat Indramayu. "Di sana [Indramayu], sudah tidak jadi ketersinggungan bagi warga, karena mereka enjoy mengerjakan pekerjaan itu. Pelacuran dianggap pekerjaan biasa," kata Leli, seorang aktivis perempuan di Indramayu. Karena itu, jangan heran, jika mendengar cerita ada orang tua tega menjual anak perempuan demi sesuap nasi.
Untuk membuktikan itu dengan menyamar sebagai mucikari, Tim Sigi pergi ke Desa Terisi, Kabupaten Indramayu. Di sana, Tim Sigi bertemu Sidi, seorang makelar perempuan. Dengan cekatan Sidi menawarkan lima perempuan berumur 15-20 tahun. Lelaki itu bahkan mengaku punya segudang stok. Untuk pasar Jakarta, korban biasanya hanya dirayu akan dipekerjakan di restoran. Lain halnya jika hendak dikirim ke Jepang dan Thailand. Makelar merayu gadis dengan alasan misi kebudayaan.
Tawaran Sidi benar adanya. Wati, seorang perempuan yang mengaku tangan kanan Sidi langsung mengontak kawan-kawannya melalui telepon selular. Tak lama, datang satu remaja bernama Wida. Menurut Sidi, Wida bisa diajak bercinta dulu untuk sekadar uji coba. Namun, transaksi batal. Wida menolak lantaran mengaku belum meminta izin kepada orang tua. Sidi lantas mengajak ke rumah Oji yang mempunyai seorang anak perempuan. Ayu, anak wanita yang disebut-sebut Sidi ternyata sudah dijual Oji seharga Rp 3 juta kepada makelar di Saritem, Bandung. Tragis.
Tim Sigi lalu memburu Ayu ke Bandung. Ayu ternyata mudah ditemui. Wanita berparas manis itu cukup terkenal di lokalisasi Saritem. Setelah menyewa sebuah kamar seharga Rp 10 ribu, Ayu baru berani menceritakan kisah pahitnya. Dia mengaku rela digadaikan asal keluarga di kampung bisa makan. Menurut Ayu, bapaknya datang tiga bulan sekali untuk mengambil uang. "Bapak nengok sekalian ambil uang," kata Ayu, termenung.
Cerita Ayu mungkin cuma secuil potret buram gadis Indramayu. Sebab, perdagangan perempuan di kabupaten yang mempunyai luas 204.011 hektare itu memang susah diberantas. Tengok saja bertaburannya warung remang-remang di sana. Menurut data Dinas Ketentraman dan Ketertiban Pemkab Indramayu, jumlahnya lebih dari 600 warung. Sebanyak 78 warung di antaranya ada di Desa Cangkingan, sekitar 30 menit dari Kota Indramayu.
Kedai-kedai minum di Desa Cangkingan sudah disulap bak diskotek. Meski temaram, musik tarling terdengar kencang mengiringi insan berjoget. Kala menyusuri sejumlah kedai, Tim Sigi kerap ditawari berkencan. Para pelacur itu berani dikontrak mulai dari harga standar sampai harga tinggi. Bahkan, seorang PSK bernama Yuni berani di-booking Rp 20 juta selama sebulan.
Fakta lainnya, bukan cuma pelacuran terselubung yang terungkap, aksi pemerasan juga sering terjadi. Saat mencoba menyewa PSK di kedai lain, Tim Sigi dipaksa membayar botol bir yang disuguhkan. Padahal botol tersebut belakangan diketahui sudah kosong. Bukti transaksi prostitusi dan pemerasan di warung remang-remang disangkal warga setempat. Bantahan boleh jadi dilontarkan lantaran keberadaan kedai minum ikut memutar roda perekonomian desa.
Sementara Kepala Kepolisian Resor Indramayu Ajun Komisaris Besar Polisi Johni Soeroto mengakui mencium sinyalemen tadi. Namun, Johni tidak akan menindak jika pemilik warung memang benar sekadar menjual minuman. Sejauh ini, sedikitnya 70 pemilik warung diproses ke meja hijau. Mereka terbukti menyelewengkan pendirian kedai minum untuk ajang prostitusi.(KEN)
Jakarta memang bak petromak bersangkar emas. Sinarnya menarik untuk didekati laron-laron. Lantaran itulah, siapa saja boleh datang membawa harapan dan mimpi indah. Tapi, tak sedikit juga kecewa akan gemerlap Ibu Kota. Bahkan terjerumus ke lembah hitam. Para pekerja seks komersial (PSK) itu bekerja di diskotek atau klub malam yang bertaburan di Jakarta. Dinas Pariwisata DKI Jakarta menyebutkan, sedikitnya 600 diskotek berdiri di Jakarta. Dan, angka itu bukan mustahil akan melonjak.
Meski dibenci sebagian orang, kehadiran tempat dugem (dunia gemerlap) toh ikut mengisi pundi kas pemerintah daerah. Belum lagi terhitung ribuan pekerja yang terserap. Upaya pemberantasan pelacuran akhirnya cuma slogan. Kepala Sub Dinas Pembinaan Industri Pariwisata Jakarta Arie B. Soedarto mengakui, pengawasan terhadap fasilitas hiburan malam belum optimal lantaran ada konflik kepentingan. "Tapi, kita bukan anjing penjaga yang harus mengawasi setiap titik," kata Arie.
Ketika menelusuri daerah lokalisasi di Jakarta Utara dan Jakarta Barat, Tim Sigi sempat berbincang dengan seorang pelacur bernama Yulia. Dia mengaku sudah tiga tahun beroperasi setelah menjanda. "Kita nyari sendiri, tamu yang mau ditemani," kata Yulia yang tinggal di sebuah kamar berukuran 3 x 3 meter di kawasan Teluk Gong. Dalam semalam satu atau dua tamu bisa dilayani. Dari pekerjaan itu, Yulia mengaku mengantongi Rp 7 juta sampai Rp 8 juta per bulan.
Memang. Tidak semua PSK seperti Yulia mesti bersibuk dulu menjajakan diri di jalanan. Ani--sebut saja begitu--tak perlu repot-repot lantaran sang mucikari yang mencarikan tamu. Gadis berumur 16 tahun itu lalu menemani tamu berkaraoke sampai ke ranjang. Ani mengaku tidak berniat menjadi pelacur. Calo yang mengajak ke Jakarta menawari ia bekerja di restoran. "Ngak taunya malah kerja di diskotek," kata Ani.
Praktik prostitusi terselubung di rumah karaoke diakui kebenarannya oleh Hans, seorang pemilik diskotek di Jakarta. Wanita yang menemani tamu harus fresh dan berusia muda. Sebagian dari para penghibur didatangkan dari Indramayu, Jawa Barat. Lantaran itulah, Indramayu tak hanya dicap penghasil mangga legit, tapi juga pelacur laris manis. Kultur dan pola hidup materialistis serta kemiskinan diyakini pendorong maraknya perdagangan perempuan.
Ironisnya, penilaian negatif seolah dipandang sebelah mata oleh sebagian masyarakat Indramayu. "Di sana [Indramayu], sudah tidak jadi ketersinggungan bagi warga, karena mereka enjoy mengerjakan pekerjaan itu. Pelacuran dianggap pekerjaan biasa," kata Leli, seorang aktivis perempuan di Indramayu. Karena itu, jangan heran, jika mendengar cerita ada orang tua tega menjual anak perempuan demi sesuap nasi.
Untuk membuktikan itu dengan menyamar sebagai mucikari, Tim Sigi pergi ke Desa Terisi, Kabupaten Indramayu. Di sana, Tim Sigi bertemu Sidi, seorang makelar perempuan. Dengan cekatan Sidi menawarkan lima perempuan berumur 15-20 tahun. Lelaki itu bahkan mengaku punya segudang stok. Untuk pasar Jakarta, korban biasanya hanya dirayu akan dipekerjakan di restoran. Lain halnya jika hendak dikirim ke Jepang dan Thailand. Makelar merayu gadis dengan alasan misi kebudayaan.
Tawaran Sidi benar adanya. Wati, seorang perempuan yang mengaku tangan kanan Sidi langsung mengontak kawan-kawannya melalui telepon selular. Tak lama, datang satu remaja bernama Wida. Menurut Sidi, Wida bisa diajak bercinta dulu untuk sekadar uji coba. Namun, transaksi batal. Wida menolak lantaran mengaku belum meminta izin kepada orang tua. Sidi lantas mengajak ke rumah Oji yang mempunyai seorang anak perempuan. Ayu, anak wanita yang disebut-sebut Sidi ternyata sudah dijual Oji seharga Rp 3 juta kepada makelar di Saritem, Bandung. Tragis.
Tim Sigi lalu memburu Ayu ke Bandung. Ayu ternyata mudah ditemui. Wanita berparas manis itu cukup terkenal di lokalisasi Saritem. Setelah menyewa sebuah kamar seharga Rp 10 ribu, Ayu baru berani menceritakan kisah pahitnya. Dia mengaku rela digadaikan asal keluarga di kampung bisa makan. Menurut Ayu, bapaknya datang tiga bulan sekali untuk mengambil uang. "Bapak nengok sekalian ambil uang," kata Ayu, termenung.
Cerita Ayu mungkin cuma secuil potret buram gadis Indramayu. Sebab, perdagangan perempuan di kabupaten yang mempunyai luas 204.011 hektare itu memang susah diberantas. Tengok saja bertaburannya warung remang-remang di sana. Menurut data Dinas Ketentraman dan Ketertiban Pemkab Indramayu, jumlahnya lebih dari 600 warung. Sebanyak 78 warung di antaranya ada di Desa Cangkingan, sekitar 30 menit dari Kota Indramayu.
Kedai-kedai minum di Desa Cangkingan sudah disulap bak diskotek. Meski temaram, musik tarling terdengar kencang mengiringi insan berjoget. Kala menyusuri sejumlah kedai, Tim Sigi kerap ditawari berkencan. Para pelacur itu berani dikontrak mulai dari harga standar sampai harga tinggi. Bahkan, seorang PSK bernama Yuni berani di-booking Rp 20 juta selama sebulan.
Fakta lainnya, bukan cuma pelacuran terselubung yang terungkap, aksi pemerasan juga sering terjadi. Saat mencoba menyewa PSK di kedai lain, Tim Sigi dipaksa membayar botol bir yang disuguhkan. Padahal botol tersebut belakangan diketahui sudah kosong. Bukti transaksi prostitusi dan pemerasan di warung remang-remang disangkal warga setempat. Bantahan boleh jadi dilontarkan lantaran keberadaan kedai minum ikut memutar roda perekonomian desa.
Sementara Kepala Kepolisian Resor Indramayu Ajun Komisaris Besar Polisi Johni Soeroto mengakui mencium sinyalemen tadi. Namun, Johni tidak akan menindak jika pemilik warung memang benar sekadar menjual minuman. Sejauh ini, sedikitnya 70 pemilik warung diproses ke meja hijau. Mereka terbukti menyelewengkan pendirian kedai minum untuk ajang prostitusi.(KEN)