Liputan6.com, Nias Selatan: Belum semua daerah korban gempa di Nias, Sumatra Utara, Senin silam, sudah terjamah bantuan. Kota Teluk Dalam, Nias Selatan, misalnya. Hingga Sabtu (2/4), bantuan kemanusiaan belum dapat mencapai kota terbesar kedua di Pulau Nias itu. Rusaknya sejumlah ruas jalan yang menuju kota tersebut menjadi salah satu penyebab tersendatnya penyaluran bantuan. Gempa berkekuatan 8,7 skala Richter juga menghancurkan rumah-rumah penduduk di sana [baca: Nias Berduka].
Menurut pejabat pemerintah setempat, sejauh ini puluhan jenazah berhasil ditemukan. Sementara para korban yang menderita luka-luka kini dirawat seorang dokter asal Amerika Serikat yang kebetulan berada di wilayah tersebut saat gempa terjadi. Dokter yang tak diketahui identitasnya ini memperkirakan, jumlah korban masih akan terus bertambah seiring dengan upaya evakuasi.
Bertambahnya korban gempa juga terjadi di Kota Sibolga. Sedikitnya dua rumah sakit di kota itu hingga kini masih merawat pasien dari Nias. Rumah Sakit Umum (RSU) Ferdinand Lumban Tobing hingga kini masih merawat 28 pasien--lima di antaranya anak-anak. Umumnya korban menderita luka patah tulang dan luka memar parah di wajah akibat tertimpa reruntuhan bangunan. Di RS Pandan, masih terdapat 30 korban yang menjalani rawat inap. Di tempat itu, semua pasien, baik dewasa maupun anak-anak, ditempatkan dalam satu ruang.
Para korban gempa bumi ini umumnya dikirim tim evakuasi dari Perserikatan Bangsa-Bangsa. Selama dirawat, para pasien juga tak akan dikenai biaya perawatan dan pembelian obat. Bahkan, beberapa korban yang menderita luka parah secara gratis dirujuk ke rumah sakit yang ada di Medan.
Kota Sibolga memang termasuk wilayah yang tak parah terkena gempa. Selain arus korban, Kota Sibolga menjadi tempat tujuan para pengungsi dari Nias. Hari ini, ratusan warga memadati Pelabuhan Gunung Sitoli. Mereka hendak mengungsi ke Kota Sibolga dan Medan terkait isu adanya gempa besar pada 5 April mendatang. Namun, sejauh ini belum dapat dijamin kebenaran kabar tersebut.
Di sisi lain, warga yang menjadi korban gempa 28 Maret silam hingga kini membutuhkan banyak bantuan untuk kebutuhan sehari-hari. Yang paling utama adalah kebutuhan air bersih. Pascagempa, air dari perusahaan air minum setempat sudah tak mengalir lagi. "Air sumur juga enggak ada. Itulah kesulitan kami," ujar Mirna, seorang warga.(ORS/Tim Liputan 6 SCTV)
Menurut pejabat pemerintah setempat, sejauh ini puluhan jenazah berhasil ditemukan. Sementara para korban yang menderita luka-luka kini dirawat seorang dokter asal Amerika Serikat yang kebetulan berada di wilayah tersebut saat gempa terjadi. Dokter yang tak diketahui identitasnya ini memperkirakan, jumlah korban masih akan terus bertambah seiring dengan upaya evakuasi.
Bertambahnya korban gempa juga terjadi di Kota Sibolga. Sedikitnya dua rumah sakit di kota itu hingga kini masih merawat pasien dari Nias. Rumah Sakit Umum (RSU) Ferdinand Lumban Tobing hingga kini masih merawat 28 pasien--lima di antaranya anak-anak. Umumnya korban menderita luka patah tulang dan luka memar parah di wajah akibat tertimpa reruntuhan bangunan. Di RS Pandan, masih terdapat 30 korban yang menjalani rawat inap. Di tempat itu, semua pasien, baik dewasa maupun anak-anak, ditempatkan dalam satu ruang.
Para korban gempa bumi ini umumnya dikirim tim evakuasi dari Perserikatan Bangsa-Bangsa. Selama dirawat, para pasien juga tak akan dikenai biaya perawatan dan pembelian obat. Bahkan, beberapa korban yang menderita luka parah secara gratis dirujuk ke rumah sakit yang ada di Medan.
Kota Sibolga memang termasuk wilayah yang tak parah terkena gempa. Selain arus korban, Kota Sibolga menjadi tempat tujuan para pengungsi dari Nias. Hari ini, ratusan warga memadati Pelabuhan Gunung Sitoli. Mereka hendak mengungsi ke Kota Sibolga dan Medan terkait isu adanya gempa besar pada 5 April mendatang. Namun, sejauh ini belum dapat dijamin kebenaran kabar tersebut.
Di sisi lain, warga yang menjadi korban gempa 28 Maret silam hingga kini membutuhkan banyak bantuan untuk kebutuhan sehari-hari. Yang paling utama adalah kebutuhan air bersih. Pascagempa, air dari perusahaan air minum setempat sudah tak mengalir lagi. "Air sumur juga enggak ada. Itulah kesulitan kami," ujar Mirna, seorang warga.(ORS/Tim Liputan 6 SCTV)