Presiden Membantah Berkonfrontasi dengan Malaysia

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membantah hubungan Indonesia-Malaysia memburuk menyusul klaim sepihak Malaysia atas Ambalat. Dua kompi pasukan Marinir dan satu kompi pasukan TNI AD berjaga di Pos Sei Pancang.

oleh Liputan6Diterbitkan 08 Maret 2005, 20:07 WIB
Liputan6.com, Sebatik: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan hubungan Indonesia dan Malaysia tidak dalam keadaan konfrontasi, menyusul klaim sepihak Malaysia atas Ambalat. SBY mengatakan itu saat meninjau pos penjagaan TNI di Sei Pancang yang berada di Pulau Sebatik, Kalimantan Timur, Selasa (8/3).

Presiden SBY menambahkan, saat ini pemerintah Indonesia dan Malaysia sedang berunding agar menghasilkan solusi terbaik mengenai krisis Ambalat ini. Pada kesempatan itu, Presiden Yudhoyono juga meminta personel TNI dan Polri yang bertugas di Sebatik bersikap profesional dan berdisiplin tinggi [baca: Soal Ambalat, Presiden SBY Mengontak PM Malaysia].

Sebatik adalah sebuah pulau yang sebagian wilayahnya dimiliki Indonesia dan sebagian lagi dimiliki Malaysia. Dalam kunjungan ini, Presiden Yudhoyono melihat kesiapan TNI Angkatan Laut dalam menjaga perbatasan Indonesia-Malaysia. Pos Sei Pancang dijaga dua kompi pasukan Marinir dan satu kompi pasukan TNI Angkatan Darat.

Presiden SBY tiba di Sei Pancang pada pukul 11.00 WITA. Yudhoyono didampingi tiga kepala staf TNI serta Menteri Koodinator Politik, Hukum, dan Keamanan Widodo Adi Sutjipto. Turut pula Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro, Menteri Perhubungan Hatta Rajasa, dan Gubernur Kaltim Suwarna Abdul Fatah.

Di sejumlah daerah terjadi demonstrasi menentang klaim Malaysia atas perairan Ambalat. Di Pontianak, Kalimantan Barat, ratusan warga dan mahasiswa berunjuk rasa di depan Kantor Konsulat Malaysia. Mereka membakar bendera Negeri Jiran dan poster Perdana Menteri Malaysia Datuk Seri Abdullah Ahmad Badawi. Masyarakat Kalbar mengatakan perang kepada Malaysia bila negara tersebut menguasai perairan Ambalat.

Massa melanjutkan aksi ke Markas Komando Resor Militer 121. Di hadapan Komandan Korem Kolonel Infanteri Bambang Budi, massa menyatakan siap mendukung TNI. Pada kesempatan itu, Bambang mengatakan ada oknum dari Malaysia yang menggeser 12 patok sejauh 50 hingga 200 meter dari 857 KM panjang perbatasan Kalbar dengan Negeri Jiran. Hal ini dilakukan mereka untuk mencuri kayu di hutan Kalbar.

Aksi serupa terjadi di Makassar, Sulawesi Selatan. Sekitar seratus relawan yang tergabung dalam Front Makassar Gempur Malaysia membakar bendera Malaysia. Dalam orasinya, Panglima Tertinggi FMGM Dasad Latif Mengungkapkan, pembakaran bendera Malaysia terpaksa dilakukan karena negara itu memandang remeh kedaulatan Indonesia.

Di Jakarta, ratusan simpatisan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) serta sekelompok massa Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia (PPMI) berunjuk rasa di depan Kedutaan Besar Malaysia. Mereka menuntut pemerintah Malaysia tidak semena-mena mencaplok kedaulatan wilayah negara lain dan segera mencabut klaim atas Blok Ambalat. Pengunjuk rasa mengusung keranda jenazah sebagai simbol kesiapan bangsa Indonesia merebut Blok Ambalat sampai mati.

Ratusan anggota Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia di Jember, Jawa Timur, berunjuk rasa di Kantor DPRD setempat. Mereka mendesak pemerintah Indonesia menggunakan jalan perang dengan Malaysia jika jalan diplomatik untuk menyelesaikan kasus Ambalat gagal dicapai. Massa menilai Malaysia sering mengusik Indonesia terutama masalah tenaga kerja Indonesia dan batas perairan.

Sementara puluhan mahasiswa dari elemen Front Aksi Mahasiswa Jatim dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Surabaya memprotes Malaysia dengan cara menginjak-injak dan membakar bendera Negeri Jiran. Mereka mendesak pemerintah Indonesia memutuskan hubungan diplomatik dengan Malaysia serta bertindak tegas menyikapi konflik di Ambalat.

Sejumlah anggota Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Kedokteran Airlangga dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya membuka Posko Ganyang Malaysia (Pogam). Sebanyak 236 orang mendaftarkan diri menjadi relawan. Satu di antara mereka adalah ibu-ibu berusia 49 tahun. Menurut Koordinator Pogam Yusuf Putra, sukarelawan ini akan dibagi menjadi tiga divisi, yakni medis, logistik, dan pembantu umum.

Aksi menentang klaim Malaysia atas perairan Ambalat tak hanya di Tanah Air. Puluhan mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Universiti Kebangsaan Malaysia. Mereka mengatakan siap berjuang mempertahankan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kendati demikian, mereka meminta pemerintah Indonesia dan Malaysia saling menahan diri dan tidak terprovokasi dalam menyelesaikan kasus Ambalat. Mereka mendorong kedua negara itu mengedepankan penyelesaian konflik melalui jalur diplomatik dan tidak lewat kekuatan bersenjata.

Tekad yang sama diungkapkan sekitar 500 TKI ilegal yang saat ini bersembunyi di hutan Selangor, Malaysia. Para pekerja ilegal ini mengaku siap membela Tanah Air [baca: TKI Ilegal Siap Membela Tanah Air].(DNP/Tim Liputan 6 SCTV)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya