Penjarahan Banyak Terjadi di Banda Aceh

Pusat pertokoan di Kota Banda Aceh, Nanggroe Aceh Darussalam, masih sepi. Sebagian toko beserta barang dagangannya telah hancur. Sedangkan isi dagangan di dalam toko yang masih tegak berdiri banyak dijarah warga.

oleh Liputan6Diterbitkan 30 Januari 2005, 20:47 WIB
Liputan6.com, Banda Aceh: Roda perekonomian di Kota Banda, Nanggroe Aceh Darussalam, hingga Ahad (30/1) petang, belum pulih. Kawasan pertokoan masih tampak lengang. Sebagian besar toko di pusat kota rusak berat akibat guncangan gempa dan terjangan Tsunami pada 26 Desember silam. Bila pun ada bangunan toko yang masih tegak berdiri, tempat usaha itu umumnya terbengkalai.

Selain fisik bangunan yang rusak, sebagian isi barang dagangan juga banyak yang hanyut terseret gelombang Tsunami. Sementara para pemilik toko lebih memilih untuk meninggalkan toko dan pergi mengungsi. Sementara sisa toko yang masih berdiri, sebagian pintunya tampak rusak karena dibuka secara paksa [baca: Di Banda Aceh, Baru Dua Pasar Buka].

Di beberapa sudut pertokoan, beberapa warga terlihat mengais-ngais puing bekas reruntuhan toko dan bangunan yang rusak. Mereka mencari sisa barang-barang yang masih dipakai yang tercecer di sekitar lokasi. Namun, sedikitnya aparat keamanan menjaga lokasi dimanfaatkan sebagian orang untuk membawa barang yang ada di dalam toko.

Kondisi tak jauh berbeda dijumpai di Aceh Utara. Sejumlah pertokoan tampak terbengkalai. Namun Kepala Kepolisian Resor Kota Aceh Utara Ajun Komisaris Besar Polisi Eko Daryanto membantah telah terjadi penjarahan di berbagai kawasan di wilayah hukumnya. Apalagi, pihaknya telah mengerahkan sekitar 680 personel yang disebar untuk menjaga keamanan dan ketertiban. Upaya ini membuahkan hasil. Buktinya, hingga saat ini, sekitar 61 orang yang diduga mencuri atau menjarah telah ditangkap.(JUM/Tim Liputan 6 SCTV)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya