Liputan6.com, Gowa: Lima desa yang ada di sepanjang aliran Sungai Jeneberang di Kecamatan Tinggi Moncong, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, terisolir akibat longsoran lumpur Gunung Bawakaraeng yang terbawa hujan. Lumpur itu menutup hubungan dengan dunia luar.
Kelima desa yang terisolir adalah Jonjo, Manimbahoi, Bontotene, Bulutana, dan Parigi. Selain menutup jalan penghubung antardesa, lumpur juga menggenangi sawah dan perkebunan warga. Akibatnya warga desa kesulitan ke luar desa dan melakukan kegiatan pertanian. Warga berharap pemerintah setempat bisa membuka jalan agar kehidupan mereka tak lagi terisolir. Jalan sulit dilalui dengan berjalan kaki apalagi menggunakan kendaraan.
Sebelumnya ratusan sawah dan kebun milik warga di delapan desa di Kecamatan Parangloe dan Kecamatan Manuju, Kabupaten Gowa, Sulsel juga terkena lumpur sisa longsoran Gunung Bawakaraeng. Timbunan lumpur mengakibatkan petani terancam gagal panen yang sedianya dilakukan dalam satu atau dua bulan mendatang [baca: Ratusan Hektare Sawah di Gowa Terendam Lumpur]. (MAK/Iwan Taruna)
Kelima desa yang terisolir adalah Jonjo, Manimbahoi, Bontotene, Bulutana, dan Parigi. Selain menutup jalan penghubung antardesa, lumpur juga menggenangi sawah dan perkebunan warga. Akibatnya warga desa kesulitan ke luar desa dan melakukan kegiatan pertanian. Warga berharap pemerintah setempat bisa membuka jalan agar kehidupan mereka tak lagi terisolir. Jalan sulit dilalui dengan berjalan kaki apalagi menggunakan kendaraan.
Sebelumnya ratusan sawah dan kebun milik warga di delapan desa di Kecamatan Parangloe dan Kecamatan Manuju, Kabupaten Gowa, Sulsel juga terkena lumpur sisa longsoran Gunung Bawakaraeng. Timbunan lumpur mengakibatkan petani terancam gagal panen yang sedianya dilakukan dalam satu atau dua bulan mendatang [baca: Ratusan Hektare Sawah di Gowa Terendam Lumpur]. (MAK/Iwan Taruna)