Liputan6.com, Yogyakarta: Yogyakarta sejak lama dikenal sebagai salah satu pusat kebudayaan di Pulau Jawa. Karena itu tak asing jika provinsi ini memiliki berbagai jenis barang hasil kreasi tangan-tangan terampil. Di antaranya adalah batik, gerabah, ukiran, hingga lukisan. Berbagai sentra kerajinan ini tersebar di pelosok Yogyakarta yang juga berjuluk Kota Budaya.
Batik, misalnya. Para pelancong yang berkunjung ke Yogaykarta dapat dengan mudah memperoleh kain yang menjadi ciri khas Indonesia ini. Tengok saja kawasan Malioboro. Hingga saat ini, ada puluhan toko menjual produk yang digemari warga lokal dan dihargai turis mancanegara itu. Bahkan, beberapa tempat memberikan layanan kursus membatik dengan jenjang mulai satu hari hingga dua bulan.
Salah satu ciri batik adalah gambar atau lebih dikenal dengan sebutan motif yang tradisional. Beberapa di antaranya adalah motif garuda, parang, dan lereng. Namun terkadang motif tersebut dipadukan dengan bentuk yang lebih modern seperti ikan. Pembuatannya sendiri memakan waktu antara dua hingga enam bulan. Barang tekstil ini biasanya dibanderol berbeda-beda tergantung pada kerumitan motif dan jenis bahan.
Selain batik, Yogyakarta juga dikenal dengan produk gerabahnya. Salah satu sentranya adalah Desa Kasongan, Kecamatan Bantul, Kabupaten Bantul. Di tempat yang hanya berjarak 20 menit dari Yogyakarta ini, pengunjung bisa memperoleh gerabah dengan harga yang cukup miring. Sepasang patung keramik berukuran kecil bisa dibawa pulang dengan membayar Rp 80 ribu. Kendati demikian, kualitas barang Desa Kasongan bersaing dengan produk gerabah lain. Bahkan, keramik dari daerah ini diekspor ke Australia dan Eropa.
Yogyakarta juga menjadi primadona para peminat seni lukis yang kerap berburu hingga ke pelosok desa. Kanvas-kanvas berisi goresan kuas yang indah bisa dengan mudah ditemukan di Kampung Seni Nitiprayan yang tak jauh dari Kasongan. Kampung ini memiliki nama besar sebagai "Kawah Candradimuka" bagi para pelukis ternama seperti Made Sukadana dan Entang Triwarsa. Kampung Seni Nitiprayan juga sering digunakan sebagai tempat pergelaran berbagai kegiatan seni seperti teater dan tari.
Saat dikunjungi SCTV, pelukis yang berada di kampung itu adalah Yogi Setiawan. Pria jebolan Institut Seni Indonesia, Yogayakarta, ini memamerkan karyanya di sebuah galeri. Dengan gaya karikatur ia menuangkan pandangannya tentang isu-isu terhangat di Tanah Air atau dunia. Salah satunya adalah lukisan berjudul Rekonsiliasi alias Warok yang menggambarkan tingkah laku para politikus dunia saat ini seperti Presiden Amerika Serikat George Walker Bush dan Saddam Hussein.
Dari ketiga tempat itu, ternyata untuk memperoleh barang seni yang berkualitas tinggi tidak melulu ditukar dengan harga selangit. Dengan berburu ke beberapa pelosok Yogyakarta, peminat batik, gerabah maupun lukisan bisa membeli kesenangannya dengan harga murah.(TOZ/Asti Megasari dan Effendi Kassah)
Batik, misalnya. Para pelancong yang berkunjung ke Yogaykarta dapat dengan mudah memperoleh kain yang menjadi ciri khas Indonesia ini. Tengok saja kawasan Malioboro. Hingga saat ini, ada puluhan toko menjual produk yang digemari warga lokal dan dihargai turis mancanegara itu. Bahkan, beberapa tempat memberikan layanan kursus membatik dengan jenjang mulai satu hari hingga dua bulan.
Salah satu ciri batik adalah gambar atau lebih dikenal dengan sebutan motif yang tradisional. Beberapa di antaranya adalah motif garuda, parang, dan lereng. Namun terkadang motif tersebut dipadukan dengan bentuk yang lebih modern seperti ikan. Pembuatannya sendiri memakan waktu antara dua hingga enam bulan. Barang tekstil ini biasanya dibanderol berbeda-beda tergantung pada kerumitan motif dan jenis bahan.
Selain batik, Yogyakarta juga dikenal dengan produk gerabahnya. Salah satu sentranya adalah Desa Kasongan, Kecamatan Bantul, Kabupaten Bantul. Di tempat yang hanya berjarak 20 menit dari Yogyakarta ini, pengunjung bisa memperoleh gerabah dengan harga yang cukup miring. Sepasang patung keramik berukuran kecil bisa dibawa pulang dengan membayar Rp 80 ribu. Kendati demikian, kualitas barang Desa Kasongan bersaing dengan produk gerabah lain. Bahkan, keramik dari daerah ini diekspor ke Australia dan Eropa.
Yogyakarta juga menjadi primadona para peminat seni lukis yang kerap berburu hingga ke pelosok desa. Kanvas-kanvas berisi goresan kuas yang indah bisa dengan mudah ditemukan di Kampung Seni Nitiprayan yang tak jauh dari Kasongan. Kampung ini memiliki nama besar sebagai "Kawah Candradimuka" bagi para pelukis ternama seperti Made Sukadana dan Entang Triwarsa. Kampung Seni Nitiprayan juga sering digunakan sebagai tempat pergelaran berbagai kegiatan seni seperti teater dan tari.
Saat dikunjungi SCTV, pelukis yang berada di kampung itu adalah Yogi Setiawan. Pria jebolan Institut Seni Indonesia, Yogayakarta, ini memamerkan karyanya di sebuah galeri. Dengan gaya karikatur ia menuangkan pandangannya tentang isu-isu terhangat di Tanah Air atau dunia. Salah satunya adalah lukisan berjudul Rekonsiliasi alias Warok yang menggambarkan tingkah laku para politikus dunia saat ini seperti Presiden Amerika Serikat George Walker Bush dan Saddam Hussein.
Dari ketiga tempat itu, ternyata untuk memperoleh barang seni yang berkualitas tinggi tidak melulu ditukar dengan harga selangit. Dengan berburu ke beberapa pelosok Yogyakarta, peminat batik, gerabah maupun lukisan bisa membeli kesenangannya dengan harga murah.(TOZ/Asti Megasari dan Effendi Kassah)