Liputan6.com, Jakarta: Usia yang menua bukan alasan untuk berleha-leha. Pedoman ini tampaknya tergambar keras pada sosok Roeslan Abdulgani, tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia. Dengan tubuh tidak sebugar dulu, Cak Roes--sapaan Ruslan--masih mengikuti perkembangan kondisi bangsa lewat surat kabar setiap hari. Untuk mendalami pribadi jebolan Barnard College, Amerika Serikat itu, SCTV bertandang ke kediamannya di Jalan Diponegoro XI, Jakarta Pusat, baru-baru ini.
Sebagai salah satu tokoh yang ikut membangun bangsa, Cak Roes sangat peduli dengan kondisi negara, terutama politik. Ia sangat menyayangkan perpecahan di tubuh DPR saling bertikai karena dikendalikan kepentingan kelompok. Selain itu, partai-partai politik saat ini juga dinilai tidak mampu menyampaikan aspirasi rakyat. "Mestinya partai itu satu awak dengan rakyat dan bukan elite. Elite saat ini kan mengalami krisis moral dan etika," kata Cak Roes.
Cak Roes juga mengkritik program 100 hari yang dilancarkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Cak Roes berpendapat, kondisi negara tidak akan berubah hanya dalam seratus hari. Ia menganggap, program 100 hari itu adalah sikap yang terlalu percaya diri."Kennedy [mendiang Presiden Amerika Serikat] saja a thousand day, nah ini kenapa a hundred day?," ujar mantan Kepala Perwakilan RI di PBB, New York, AS ini.
Saat ini, Cak Roes masih aktif menulis artikel tentang pemikirannya sebagai anggota Dewan Tanda Kehormatan Republik Indonesia. Dia sudah seperti sastrawan besar Sophocles yang pada umur di atas 80 tahun justru menghasilkan karya besar. Tidak dipungkiri, beberapa karya tentang pemikiran Cak Roes mengundang decak kagum sejumlah kalangan. Karya-karyanya antara lain The Bandung Connection (1981) dan Nationalism, Revolution and Guided Democracy in Indonesia (1973).
Semangat muda Cak Roes membuat sosoknya menjadi lebih spesial di mata keluarga. Menurut Putri bungsu Cak Roes, Hafilia, sang ayah kerap kali mengabaikan larangan putrinya untuk naik turun ke perpustakaan pribadi di lantai dua rumahnya. Kendati semangat terus muda, namun tak dipungkiri bila fisik Cak Roes tidak sebaik dulu. Misalnya saja, dia kerap kesulitan membaca, misalnya koran yang hurufnya berukuran kecil. Bila sudah begitu, anak-anak Cak Roes-lah yang kerap membantu sang ayah. Mereka terkadang membawakan kaca pembesar atau meng-copy tulisan dengan mesin fotokopi dengan cetakan diperbesar. Meski telah ditinggalkan Sihwati Nawangwulan, istri tercinta yang wafat 3 tahun silam, Cak Roes tidak kesepian. Ia memiliki lima putra-putri, 10 cucu, dan enam cicit, yang setia menengoknya.
Tanggal 24 November Cak Roes genap berusia 90 tahun. Namun, tidak ada acara khusus untuk merayakan ulang tahunnya. Menurut putra-putri dan orang-orang dekatnya, Cak Roes lebih suka merayakannya dengan menulis pemikiran-pemikirannya.
Banyak filosofi=filosofi unik yang dikemukakan mantan Menteri Luar Negeri dan Sekretaris Jenderal Konferensi Asia-Afrika di Bandung, Jawa Barat itu. Dalam setiap langkahnya, tergambar pengaruh besar sosok ibu dalam diri Cak Roes. Misalnya saja saat Cak Roes berbicara tentang hakikat hidup. Yakni memberi makan pada yang kelaparan, memberi baju pada yang telanjang, dan memberi tongkat pada yang tersesat.(OZI/Retno Pinasti dan Hendro Wahyudi)
Sebagai salah satu tokoh yang ikut membangun bangsa, Cak Roes sangat peduli dengan kondisi negara, terutama politik. Ia sangat menyayangkan perpecahan di tubuh DPR saling bertikai karena dikendalikan kepentingan kelompok. Selain itu, partai-partai politik saat ini juga dinilai tidak mampu menyampaikan aspirasi rakyat. "Mestinya partai itu satu awak dengan rakyat dan bukan elite. Elite saat ini kan mengalami krisis moral dan etika," kata Cak Roes.
Cak Roes juga mengkritik program 100 hari yang dilancarkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Cak Roes berpendapat, kondisi negara tidak akan berubah hanya dalam seratus hari. Ia menganggap, program 100 hari itu adalah sikap yang terlalu percaya diri."Kennedy [mendiang Presiden Amerika Serikat] saja a thousand day, nah ini kenapa a hundred day?," ujar mantan Kepala Perwakilan RI di PBB, New York, AS ini.
Saat ini, Cak Roes masih aktif menulis artikel tentang pemikirannya sebagai anggota Dewan Tanda Kehormatan Republik Indonesia. Dia sudah seperti sastrawan besar Sophocles yang pada umur di atas 80 tahun justru menghasilkan karya besar. Tidak dipungkiri, beberapa karya tentang pemikiran Cak Roes mengundang decak kagum sejumlah kalangan. Karya-karyanya antara lain The Bandung Connection (1981) dan Nationalism, Revolution and Guided Democracy in Indonesia (1973).
Semangat muda Cak Roes membuat sosoknya menjadi lebih spesial di mata keluarga. Menurut Putri bungsu Cak Roes, Hafilia, sang ayah kerap kali mengabaikan larangan putrinya untuk naik turun ke perpustakaan pribadi di lantai dua rumahnya. Kendati semangat terus muda, namun tak dipungkiri bila fisik Cak Roes tidak sebaik dulu. Misalnya saja, dia kerap kesulitan membaca, misalnya koran yang hurufnya berukuran kecil. Bila sudah begitu, anak-anak Cak Roes-lah yang kerap membantu sang ayah. Mereka terkadang membawakan kaca pembesar atau meng-copy tulisan dengan mesin fotokopi dengan cetakan diperbesar. Meski telah ditinggalkan Sihwati Nawangwulan, istri tercinta yang wafat 3 tahun silam, Cak Roes tidak kesepian. Ia memiliki lima putra-putri, 10 cucu, dan enam cicit, yang setia menengoknya.
Tanggal 24 November Cak Roes genap berusia 90 tahun. Namun, tidak ada acara khusus untuk merayakan ulang tahunnya. Menurut putra-putri dan orang-orang dekatnya, Cak Roes lebih suka merayakannya dengan menulis pemikiran-pemikirannya.
Banyak filosofi=filosofi unik yang dikemukakan mantan Menteri Luar Negeri dan Sekretaris Jenderal Konferensi Asia-Afrika di Bandung, Jawa Barat itu. Dalam setiap langkahnya, tergambar pengaruh besar sosok ibu dalam diri Cak Roes. Misalnya saja saat Cak Roes berbicara tentang hakikat hidup. Yakni memberi makan pada yang kelaparan, memberi baju pada yang telanjang, dan memberi tongkat pada yang tersesat.(OZI/Retno Pinasti dan Hendro Wahyudi)