Liputan6.com, Jakarta: Kepala Bagian Reserse Kriminal Polri Komisaris Jenderal Polisi Suyitno Landung menyatakan, ada kemungkinan aktivis hak asasi manusia Munir meninggal karena diracun. "Dalam tubuh almarhum terdapat arsenik atau logam yang melampaui batas kewajaran. Namun, tidak bisa ditentukan kapan almarhum mengkonsumsi itu," kata Suyitno di Markas Besar Polri di Jakarta, Jumat (12/11).
Pernyataan Suyitno itu dikatakan setelah menerima Suciwati--istri almarhum Munir--yang datang ditemani sejumlah aktivis dari Imparsial. Rombongan yang datang sekitar jam 10.00 WIB ini mendatangi Mabes Polri untuk melihat secara langsung hasil otopsi jenazah Munir.
Hadir di antaranya Direktur Operasional Imparsial Rusdi Marpaung dan Koordinator Badan Pekerja Komisi untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (Kontras) Usman Hamid. Tampak pula beberapa aktivis Imparsial lainnya yakni Emmy Hafidz, Bini Buchori, dan Smita Notosusanto.
Berita tentang kematian Munir yang meninggal karena racun diketahui setelah Polri menerima hasil otopsi yang dikirimkan dari Belanda lewat Departemen Luar Negeri. Hasil otopsi ini disampaikan pada Polri karena isinya dinilai tidak otentik dan sangat teknis. Demikian disampaikan Juru Bicara Deplu Marty Natalegawa.
Deplu juga bermaksud mengirimkan perwakilannya ke Belanda bersama tim gabungan dari Polri untuk mengambil hasil otopsi asli. Diharapkan, hasil otopsi asli ini dapat membantu penyelidikan pihak kepolisian untuk mengusut kematian Munir. "Kita juga mengadakan konsultasi dengan pihak-pihak terkait di Belanda," kata Marty.
Selain itu Deplu juga tidak dapat mengumumkan isi hasil otopsi jasad Munir, serta mengabarkan hasil otopsi pada pihak keluarga almarhum. Marty juga menepis anggapan bahwa Deplu berniat menghalang-halangi keingintahuan keluarga Munir. Dia menjelaskan, hal itu dilakukan karena secara prosedural, Deplu tidak memiliki kewenangan untuk itu.
Pernyataan Deplu ini terkait dengan permintaan Suciwati agar hasil otopsi jenazah suaminya diserahkan langsung kepada keluarganya. Ia juga meminta pemerintah tidak menunda penyerahan dokumen hasil otopsi itu [baca: Keluarga Almarhum Munir Meminta Hasil Otopsi].(OZI/Wirawan Kartono dan Muhamaddan)
Pernyataan Suyitno itu dikatakan setelah menerima Suciwati--istri almarhum Munir--yang datang ditemani sejumlah aktivis dari Imparsial. Rombongan yang datang sekitar jam 10.00 WIB ini mendatangi Mabes Polri untuk melihat secara langsung hasil otopsi jenazah Munir.
Hadir di antaranya Direktur Operasional Imparsial Rusdi Marpaung dan Koordinator Badan Pekerja Komisi untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (Kontras) Usman Hamid. Tampak pula beberapa aktivis Imparsial lainnya yakni Emmy Hafidz, Bini Buchori, dan Smita Notosusanto.
Berita tentang kematian Munir yang meninggal karena racun diketahui setelah Polri menerima hasil otopsi yang dikirimkan dari Belanda lewat Departemen Luar Negeri. Hasil otopsi ini disampaikan pada Polri karena isinya dinilai tidak otentik dan sangat teknis. Demikian disampaikan Juru Bicara Deplu Marty Natalegawa.
Deplu juga bermaksud mengirimkan perwakilannya ke Belanda bersama tim gabungan dari Polri untuk mengambil hasil otopsi asli. Diharapkan, hasil otopsi asli ini dapat membantu penyelidikan pihak kepolisian untuk mengusut kematian Munir. "Kita juga mengadakan konsultasi dengan pihak-pihak terkait di Belanda," kata Marty.
Selain itu Deplu juga tidak dapat mengumumkan isi hasil otopsi jasad Munir, serta mengabarkan hasil otopsi pada pihak keluarga almarhum. Marty juga menepis anggapan bahwa Deplu berniat menghalang-halangi keingintahuan keluarga Munir. Dia menjelaskan, hal itu dilakukan karena secara prosedural, Deplu tidak memiliki kewenangan untuk itu.
Pernyataan Deplu ini terkait dengan permintaan Suciwati agar hasil otopsi jenazah suaminya diserahkan langsung kepada keluarganya. Ia juga meminta pemerintah tidak menunda penyerahan dokumen hasil otopsi itu [baca: Keluarga Almarhum Munir Meminta Hasil Otopsi].(OZI/Wirawan Kartono dan Muhamaddan)