Liputan6.com, Jakarta: Pemerintah Indonesia dan Singapura sepakat mempererat persahabatan dan secara aktif membahas perjanjian ekstradisi antarkedua negara. Demikian salah satu bahasan pertemuan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Senin (8/11). Lee juga dijadwalkan menemui Wakil Presiden Jusuf Kalla di Istana Wapres, Selasa besok.
PM Lee Hsien Loong tiba di Istana Merdeka sekitar pukul 15.30 WIB yang disambut langsung oleh Presiden Yudhoyono. Kedua kepala pemerintahan itu mengadakan pertemuan empat mata sekitar 30 menit yang dilanjutkan dengan pertemuan bilateral delegasi kedua negara. Dalam kesempatan itu, SBY dan Lee mengangkat isu pelanggaran batas wilayah laut, masalah ekstradisi, penambangan, dan ekspor pasir laut. "Kami berdua setuju untuk tetap aktif membahas isu-isu penting tersebut," kata SBY yang diamini Lee.
Lebih lanjut, menurut Lee, pertemuan itu akan membuka mata para investor yang selama ini enggan berinvestasi karena menganggap hubungan antara Indonesia-Singapura buruk. "Bila kita mencoba untuk menyelesaikan masalah melalui media pers, hasilnya selain memperumit jawaban juga akan menjauhkan para investor yang selalu memperhatikan hubungan antarkedua negara," tambah Lee.
Boleh jadi, jika perjanjian ekstradisi itu segera diteken, Singapura tak lagi menjadi tempat favorit untuk pelarian para pengusaha bermasalah. Salah satu pengusaha yang baru-baru ini memanfaatkan Singapura sebagia tempat pelarian adalah Adrian Herling Waworuntu, tersangka kasus pembobolan Bank Negara Indonesia sebesar Rp 1,7 miliar [baca: Teka-Teki Jejak Adrian Waworuntu di Negeri Seberang]. Namun, Adrian akhirnya berhasil dibekuk Polri.(YAN/Mikotoro dan Yudi Wibowo)
PM Lee Hsien Loong tiba di Istana Merdeka sekitar pukul 15.30 WIB yang disambut langsung oleh Presiden Yudhoyono. Kedua kepala pemerintahan itu mengadakan pertemuan empat mata sekitar 30 menit yang dilanjutkan dengan pertemuan bilateral delegasi kedua negara. Dalam kesempatan itu, SBY dan Lee mengangkat isu pelanggaran batas wilayah laut, masalah ekstradisi, penambangan, dan ekspor pasir laut. "Kami berdua setuju untuk tetap aktif membahas isu-isu penting tersebut," kata SBY yang diamini Lee.
Lebih lanjut, menurut Lee, pertemuan itu akan membuka mata para investor yang selama ini enggan berinvestasi karena menganggap hubungan antara Indonesia-Singapura buruk. "Bila kita mencoba untuk menyelesaikan masalah melalui media pers, hasilnya selain memperumit jawaban juga akan menjauhkan para investor yang selalu memperhatikan hubungan antarkedua negara," tambah Lee.
Boleh jadi, jika perjanjian ekstradisi itu segera diteken, Singapura tak lagi menjadi tempat favorit untuk pelarian para pengusaha bermasalah. Salah satu pengusaha yang baru-baru ini memanfaatkan Singapura sebagia tempat pelarian adalah Adrian Herling Waworuntu, tersangka kasus pembobolan Bank Negara Indonesia sebesar Rp 1,7 miliar [baca: Teka-Teki Jejak Adrian Waworuntu di Negeri Seberang]. Namun, Adrian akhirnya berhasil dibekuk Polri.(YAN/Mikotoro dan Yudi Wibowo)