Studi Sebut Perubahan Iklim Ancam Pangan Asia Tenggara

Gelombang panas dan perubahan pola hujan menjadi ancaman bagi pertanian.

oleh Pebrianto Eko WicaksonoDiterbitkan 07 November 2026, 06:07 WIB
Ilustrasi perubahan iklim (AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Perubahan iklim diproyeksikan menekan produksi sejumlah tanaman pangan utama di Asia Tenggara. Padi, jagung, dan tebu diperkirakan mengalami penurunan hasil produksi dalam dua dekade mendatang akibat meningkatnya suhu, gelombang panas, serta perubahan pola curah hujan.

Studi ASEAN Agri Climate Impact Twenty yang dirilis Badan Pangan Singapura bersama Universitas Nasional Singapura memperkirakan produksi padi di kawasan Asia Tenggara rata-rata turun 3 hingga 5 persen pada periode 2025–2044. Sementara itu, produksi jagung diproyeksikan berkurang 5 hingga 6 persen dan tebu sekitar 1 hingga 4 persen.

Di sisi lain, produksi singkong diperkirakan meningkat hingga 16 persen. Adapun produksi kedelai berpotensi tumbuh 11 hingga 13 persen.

Meski demikian, peningkatan proyeksi produksi sejumlah komoditas tersebut bukan berarti tanaman-tanaman itu terbebas dari risiko perubahan iklim.

"Proyeksi rata-rata yang lebih baik untuk beberapa tanaman pertanian tidak berarti tanaman-tanaman tersebut terbebas dari risiko-risiko terkait iklim. Produksi tetap dapat dipengaruhi oleh variabilitas kondisi iklim pada tahun tertentu termasuk panas ekstrem, curah hujan tinggi, atau kekeringan pada tahun dengan kondisi yang tidak menguntungkan," urai laporan tersebut, dikutip dari Antara, Sabtu (7/11/2026).

Studi itu juga menemukan bahwa fenomena El Nino yang sangat kuat berpotensi menurunkan rata-rata produksi tanaman di seluruh kawasan Asia Tenggara hingga sekitar 10 persen.

Sistem pertanian padi dan pertanian tadah hujan disebut menjadi sektor yang lebih rentan terhadap dampak fenomena tersebut.

Secara keseluruhan, Asia Tenggara diperkirakan menghadapi peningkatan suhu, gelombang panas yang lebih sering dan berlangsung lebih lama, serta pola curah hujan yang semakin tidak menentu.

Perubahan kondisi iklim tersebut berpotensi mengganggu ketersediaan air untuk pertanian, mengubah jadwal tanam, hingga menekan hasil panen. Kondisi ini menjadi tantangan bagi ketahanan pangan kawasan, terutama bagi negara-negara yang bergantung pada produksi pertanian dan sistem irigasi yang rentan terhadap perubahan iklim.

 

 

 

 

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya