Dari Bank Digital Favorit hingga Kolaps, Apa yang Salah dengan Ueno Bank Paraguay?

Ekspansi bank digital Ueno berakhir dengan pengambilalihan regulator. Dugaan kredit kepada pihak terafiliasi menjadi sorotan.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 06 November 2026, 15:30 WIB
Unjuk rasa warga memprotes pemerintah dan Ueno Bank di Asuncion, Paraguay, Rabu (4/11/2026). Bank Sentral Paraguay mengambil alih Ueno Bank akibat krisis solvabilitas. (AP Photo/Jorge Saenz)

Liputan6.com, Jakarta - Pertumbuhan pesat bank digital tidak selalu menjamin kondisi keuangan yang sehat. Kasus Ueno Bank Paraguay memperlihatkan bagaimana ekspansi agresif sebuah lembaga keuangan dapat berakhir dengan keruntuhan ketika muncul persoalan tata kelola dan pengawasan.

Dalam waktu kurang dari lima tahun, Ueno berkembang dari perusahaan pembiayaan yang kurang dikenal menjadi salah satu bank digital paling populer di Paraguay.

Setelah memperoleh izin perbankan pada 2023, Ueno gencar menarik nasabah melalui berbagai promosi, termasuk cashback untuk pembelian kebutuhan sehari-hari.

Dikutip dari AP News, Jumat (6/11/2026), ekspansi Ueno Bank juga terlihat dari jaringan yang berkembang menjadi lebih dari 70 lokasi, sponsor tim nasional sepak bola Paraguay, hingga pemasangan merek di stadion utama negara tersebut.

Ueno bahkan mengklaim lebih dari 60 persen penduduk dewasa Paraguay telah menjadi nasabah.

Namun, di balik pertumbuhan tersebut, muncul persoalan serius. Pemeriksaan regulator menemukan dugaan praktik pemberian kredit berisiko kepada perusahaan yang memiliki hubungan dengan pemilik bank.

Kredit kepada Pihak Terafiliasi Jadi Sorotan

Seorang pengunjuk rasa membentangkan tiruan uang Dolar AS bergambar Presiden Paraguay Santiago Pena saat berunjuk rasa memprotes pemerintah dan Ueno Bank di Asuncion, Paraguay, Rabu (4/11/2026). Bank Sentral Paraguay mengambil alih Ueno Bank akibat krisis solvabilitas. (AP Photo/Jorge Saenz)

Persoalan Ueno Bank mulai mencuat setelah pemeriksa bank sentral menemukan pola pemberian kredit berisiko kepada pihak internal pada Juni.

Mengutip laporan surat kabar Paraguay, ABC Color, bank tersebut diduga menyalurkan pinjaman dalam jumlah besar kepada perusahaan yang berkaitan dengan pemiliknya.

Sejumlah pinjaman disebut melampaui batas yang diperbolehkan aturan dan tidak didukung agunan yang cukup untuk menutup potensi kerugian.

Pemeriksaan lanjutan juga menemukan dokumentasi kredit yang tidak memadai serta pengeluaran yang secara keliru dicatat sebagai aset.

Setelah laporan keuangan dikoreksi, modal Ueno ternyata turun hingga kurang dari separuh ketentuan minimum. Regulator kemudian mengambil alih bank tersebut.

Persoalan pengawasan turut menjadi perhatian karena Presiden Santiago Peña menunjuk Carlos Carvallo, mantan pimpinan Financiera Ueno, perusahaan pendahulu Ueno Bank, untuk memimpin bank sentral Paraguay.

Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai independensi pengawasan terhadap lembaga keuangan yang memiliki hubungan dengan lingkaran kekuasaan.

Ketika Pertumbuhan Tidak Diimbangi Tata Kelola

Masyarakat menggelar aksi unjuk rasa di hadapan kepolisian guna memprotes pemerintah dan Ueno Bank di Asuncion, Paraguay, Rabu (4/11/2026). Bank Sentral Paraguay mengambil alih Ueno Bank akibat krisis solvabilitas. (AP Photo/Jorge Saenz)

Keruntuhan Ueno Bank menjadi pengingat mengenai pentingnya keseimbangan antara ekspansi bisnis dan pengelolaan risiko dalam industri perbankan digital.

Promosi agresif, pertumbuhan jumlah nasabah, dan perluasan jaringan memang dapat meningkatkan popularitas sebuah bank. Namun, indikator tersebut tidak otomatis mencerminkan kualitas aset maupun kecukupan modalnya.

Dalam kasus Ueno, persoalan utama justru ditemukan pada praktik pemberian kredit, pencatatan keuangan, serta kemampuan modal bank dalam menyerap potensi kerugian.

Krisis tersebut juga memicu penyelidikan terhadap sejumlah pejabat bank dan pemerintah. Jaksa menelusuri dugaan pelanggaran kepercayaan dan percobaan penipuan yang melibatkan pengurus serta pihak terkait.

Sebanyak 27 pejabat dan pihak yang berkaitan dengan bank telah menghadapi dakwaan. Enam eksekutif diperintahkan ditahan sambil menunggu persidangan, sementara dua lainnya menjalani tahanan rumah.

Kasus Ueno memperlihatkan bahwa keberhasilan menarik nasabah harus berjalan seiring dengan tata kelola, transparansi laporan keuangan, dan pengawasan yang efektif.

Tanpa pengendalian risiko yang memadai, pertumbuhan pesat justru dapat memperbesar dampak ketika sebuah bank mengalami kegagalan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya