Harga Perak Antam Hari Ini 6 November 2026 Turun Rp 300

Harga perak dunia melemah pada Jumat, (6/11/2026). Begini gerak harga perak PT Aneka Tambang Tbk (Antam).

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 06 November 2026, 10:19 WIB
Harga perak (Ilustrasi perak-silver by AI)

Liputan6.com, Jakarta - Harga perak PT Aneka Tambang Tbk (Antam) melemah pada perdagangan Jumat, (6/11/2026). Harga perak Antam hari ini mengikuti harga perak dunia.

Mengutip laman logammulia.com, harga perak Antam hari ini turun Rp 300 menjadi Rp 35.550 per gram. Pada perdagangan sebelumnya, harga perak Antam dipatok Rp 35.850 per gram.

Lalu bagaimana harga perak dunia?

Mengutip tradingeconomics.com, harga perak dunia turun 0,06% menjadi US$ 51,75.

Pada Jumat, harga perak diperdagangkan di kisaran US$ 52 per ons dan mencatatkan kenaikan mingguan sekitar 5% menyusul kemenangan telak Partai Demokrat dalam pemilihan paruh waktu (midterm elections) di Amerika Serikat. Pasar memperkirakan Partai Demokrat akan berupaya mengakhiri konflik di Iran, yang berpotensi menurunkan harga minyak, meredakan tekanan inflasi, serta mengurangi kemungkinan kenaikan suku bunga yang lebih agresif.

Para investor juga mengantisipasi pemerintahan yang terpecah (divided government) dapat menghambat agenda fiskal Presiden Donald Trump, sehingga membatasi pengeluaran dan pinjaman pemerintah sekaligus meredam kekhawatiran inflasi lebih lanjut.

Di sisi lain, aksi jual di pasar ekuitas global kian intensif di tengah kekhawatiran Partai Demokrat mungkin akan menerapkan regulasi yang lebih ketat terhadap industri kecerdasan buatan (artificial intelligence) dan membatasi ekspansi pusat data.

Hal ini memicu aksi jual pada logam mulia demi mendapatkan likuiditas. Namun, tekanan tersebut diimbangi oleh meningkatnya permintaan terhadap obligasi sebagai aset aman (safe-haven), yang mendorong penurunan imbal hasil (yield) dan pada gilirannya mendukung permintaan terhadap aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding assets), seperti perak.

Harga Emas Dunia

Ilustrasi harga emas dunia. (Gambar by AI)

Sebelumnya, harga emas dunia mencapai level tertinggi dalam lebih dari dua minggu pada Kamis, 5 November 2026. Kenaikan harga emas terjadi seiring melemahnya dolar Amerika Serikat (AS) dan imbal hasil obligasi pemerintah AS atau treasury, setelah penurunan harga minyak meredakan kekhawatiran inflasi. Pada saat yang sama, investor menantikan data ketenagakerjaan AS yang krusial sebagai petunjuk mengenai kebijakan suku bunga.

Mengutip CNBC, Jumat, (6/11/2026), harga emas di pasar spot naik 1% menjadi US$ 4.100,27 per ons pada pukul 14.05 waktu setempat, setelah sempat menyentuh level tertinggi di US$ 4.146,63 per ons. Level ini terakhir kali terlihat pada 20 Oktober 2026.

Pada Rabu, harga emas melonjak hampir 3,4%, kenaikan harian tertajam sejak 19 Agustus. Sepanjang minggu ini, harga emas telah naik lebih dari US$ 250 dari level terendah dalam satu tahun sebesar US$ 3.869,85 yang tercatat pada Jumat.

Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember ditutup naik 1% pada level US$ 4.113,50 per ons.

Dolar AS berada di level terendahnya sejak 30 September, yang membuat emas, yang dihargai dalam mata uang dolar AS menjadi lebih terjangkau bagi pemegang mata uang lain. Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun berada di level terendah dalam hampir dua bulan.

"Bukan berarti ekspektasi kenaikan suku bunga telah hilang sepenuhnya saat ini," ujar Direktur High Ridge Futures, David Meger.

"Dengan melemahnya harga energi, muncul harapan bahwa kekhawatiran inflasi akan mereda, sehingga kebutuhan untuk menaikkan suku bunga di masa mendatang mungkin berkurang,” ia menambahkan.

 

Harga Minyak

Harga Minyak Dunia. Foto: Freepik/Artphoto_studio

Harga minyak mentah Brent tetap berada di bawah US$ 100 per barel setelah anjlok hampir 9% pada sesi sebelumnya. Penurunan ini dipicu oleh harapan perolehan suara yang kuat bagi Partai Demokrat dalam pemilihan umum AS dapat mengurangi risiko eskalasi lebih lanjut terkait konflik yang melibatkan Iran.

Menurut perangkat FedWatch dari CME, para pelaku pasar saat ini melihat peluang sebesar 66% bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunga pada Desember.

Suku bunga yang lebih tinggi meningkatkan biaya peluang (opportunity cost) dalam memegang emas, yang merupakan aset tanpa imbal hasil. Para investor juga tengah menantikan laporan non-farm payrolls (data ketenagakerjaan di luar sektor pertanian) Amerika Serikat yang akan dirilis pada Jumat, sebagai petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan bank sentral.

"Data ketenagakerjaan belakangan ini cukup fluktuatif, dan harga emas bisa saja rentan jika angka yang muncul lebih kuat dari perkiraan. Hal ini kemungkinan akan mengonfirmasi kenaikan suku bunga pada bulan Desember yang memang sudah sangat diantisipasi," ujar pedagang logam independen, Tai Wong.

Sementara itu, bank sentral Polandia telah mencapai target cadangan emas sebesar 700 metrik ton target yang sebelumnya telah ditetapkan sekaligus membuka peluang untuk melakukan pembelian lebih lanjut.

Di sektor logam lainnya, harga perak di pasar spot tidak mengalami perubahan di angka US$ 52,23 per ons, harga platinum naik 1,6% menjadi US$ 1.520,75, dan harga paladium meningkat 3,8% menjadi US$ 1.042,24.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya