Ancaman Bom Palsu Kembali Kacaukan Penerbangan di Eropa

Gelombang kedua ancaman bom palsu dalam sepekan memaksa sejumlah pesawat dialihkan, sementara lainnya mendapat pengawalan jet tempur.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 06 November 2026, 09:24 WIB
Pesawat Airbus A320 milik Aer Lingus berada di pangkalan udara militer Evreux, Prancis, Kamis (5/11/2026), setelah penerbangannya dari Dublin menuju Roma dialihkan ke Prancis menyusul laporan ancaman bom terhadap sejumlah penerbangan di Eropa. (Dok. AP Photo/Thomas Padilla)

Liputan6.com, Paris - Gelombang ancaman bom palsu mengganggu hampir 30 penerbangan penumpang di berbagai wilayah Eropa pada Kamis (5/11/2026).

Reuters melaporkan bahwa hingga Jumat (6/11), belum ada pihak yang dipastikan bertanggung jawab atas ancaman tersebut. Rangkaian insiden ini terjadi di tengah tuduhan sejumlah pejabat Eropa bahwa Rusia berada di balik aksi sabotase dan "serangan hibrida", yakni tindakan yang kerap dilakukan dengan biaya relatif rendah, sulit ditelusuri pelakunya, serta tidak sampai memicu respons militer secara langsung.

Denmark, Polandia, dan Rumania, yang terdampak gangguan penerbangan pada Kamis, sebelumnya secara langsung menuduh Moskow berada di balik serangan hibrida. Jerman menyalahkan Rusia atas serangan terhadap Bandara Leipzig pada Agustus, sedangkan Inggris mengaitkan Iran dengan dugaan rencana serangan terhadap pangkalan udara Amerika Serikat (AS).

Baik Rusia maupun Iran membantah tuduhan keterlibatan dalam serangan tersebut.

Kepala perusahaan keamanan penerbangan Dyami, Eric Schouten, mengatakan bahwa sebagian besar negara yang terdampak merupakan pendukung Ukraina dalam perang melawan invasi Rusia.

Sementara itu, para analis perusahaan konsultan risiko penerbangan Osprey Flight Solutions menilai keterkaitan ancaman bom dengan kampanye serangan hibrida Rusia di Eropa sebagai kemungkinan yang realistis.

Meski demikian, mereka mengingatkan bahwa penyebab lain tidak dapat dikesampingkan, termasuk tindakan individu yang didorong persoalan pribadi maupun aksi yang meniru insiden sebelumnya.

Seorang sumber di lingkungan bandara Italia mengatakan kepada Reuters bahwa sebuah email berjudul "Threat report" atau "Laporan Ancaman" dikirim ke sejumlah alamat milik maskapai, pengelola bandara, dan penyedia layanan bandara di Fiumicino, Roma, serta Malpensa, Milan.

Email yang mengatasnamakan "pejuang Male State" itu mengklaim bahwa bahan peledak telah ditempatkan di pesawat yang datang dari Helsinki dan Dublin, serta akan meledak dalam waktu 60 menit.

Reuters melaporkan bahwa pendiri gerakan antifeminis Male State asal Rusia, Vladislav Pozdnyakov, membantah keterlibatan kelompok tersebut. Pozdnyakov, yang mendirikan Male State pada 2016, menyatakan kelompok itu sudah tidak ada lagi dan pihak yang menggunakan namanya untuk melakukan provokasi di Eropa bertindak atas kepentingan sendiri.

Reuters belum dapat memastikan secara independen siapa pengirim email tersebut. Hingga kini, belum ada bukti yang mengonfirmasi keterlibatan Male State dalam rangkaian ancaman bom itu.

Sejumlah Pesawat Dialihkan dan Dikawal Jet Tempur

Para penumpang memeriksa informasi penerbangan mereka di Bandara Internasional Leonardo da Vinci, Fiumicino, dekat Roma, Italia, Kamis (5/11/2026), setelah sebuah penerbangan dari Dublin menuju Roma dialihkan ke Prancis menyusul laporan ancaman bom terhadap sejumlah penerbangan di Eropa. (Dok. AP Photo/Gregorio Borgia)

Salah satu penerbangan terdampak adalah Aer Lingus EI402 dari Dublin, Irlandia, menuju Roma, Italia. Pesawat Airbus A320 tersebut dialihkan ke pangkalan udara Evreux, sekitar 100 kilometer sebelah barat Paris, Prancis, dan mendarat dengan selamat.

Menurut data situs pelacakan penerbangan Flightradar24, pesawat sempat berputar di kawasan Evreux setelah menyatakan kondisi darurat saat berada di udara.

Reuters, mengutip kantor Perdana Menteri Prancis Sebastien Lecornu, melaporkan bahwa jet tempur dikerahkan untuk mencegat dan mengawal pesawat tersebut setelah pilot dinilai tidak bekerja sama sebagaimana yang diharapkan otoritas.

Namun, Aer Lingus membantah keterangan tersebut dan menegaskan bahwa maskapai beserta pilotnya telah bekerja sama sepenuhnya dengan pihak berwenang Prancis.

Di Italia, AFP melaporkan bahwa penerbangan Finnair dari Helsinki menuju Roma mendapat pengawalan jet tempur sebelum mendarat dengan selamat. Pesawat kemudian diperiksa oleh tim penjinak bom.

Penerbangan Finnair lainnya dari Helsinki menuju Wina, Austria, yang dioperasikan maskapai carter Jettime, turut menerima ancaman serupa, tetapi tetap mendarat di tujuan semula.

Sementara itu, Reuters melaporkan bahwa penerbangan maskapai Polandia LOT dari Warsawa mendarat dengan selamat di Bandara Brussels, Belgia, setelah muncul laporan mencurigakan.

Di Bulgaria, tiga pesawat yang berangkat dari Kopenhagen, Madrid, dan London menerima ancaman bom. Dua penerbangan pertama mendarat dengan selamat di Sofia, sedangkan pesawat dari London dialihkan ke Plovdiv, kota terbesar kedua di negara tersebut.

Menurut laporan media Bulgaria, Angkatan Udara setempat mengerahkan jet tempur untuk mengawal pesawat-pesawat tersebut.

Otoritas Spanyol menyatakan bahwa tiga penerbangan terdampak ancaman bom palsu di Bandara Madrid pada Kamis pagi. Namun, aparat keamanan memastikan tidak ada bahaya setelah melakukan pemeriksaan.

Di Republik Ceko, kepolisian melaporkan empat pesawat tujuan Praha menerima ancaman bom. Meskipun menilai kemungkinan ancaman itu benar-benar terjadi tergolong rendah, polisi tetap mengaktifkan prosedur pengamanan.

"Meski demikian, kami tidak meremehkan ancaman tersebut. Karena itu, seluruh langkah pengamanan yang diperlukan telah diaktifkan dengan dampak seminimal mungkin terhadap penumpang dan operasional bandara," demikian pernyataan kepolisian melalui platform X.

Kantor berita CTK kemudian melaporkan, dengan mengutip juru bicara kepolisian, bahwa tidak ditemukan bahan peledak di keempat pesawat yang telah mendarat di Praha.

Di Rumania, badan intelijen setempat menyatakan bahwa penerbangan Wizz Air dari Milan menuju Bukares menerima ancaman bom, tetapi berhasil mendarat dengan selamat.

Adapun kantor berita Italia ANSA melaporkan peringatan bom terhadap dua penerbangan tujuan Bandara Malpensa di Milan. Kedua pesawat tersebut telah mendarat dengan selamat.

 

Ancaman Berulang, Pakar Soroti Pola Gangguan di Eropa

Rangkaian ancaman bom terhadap penerbangan di Eropa telah berlangsung sejak awal pekan. Pada Selasa (3/11), sedikitnya tujuh penerbangan dan sebuah kapal pesiar menerima ancaman serupa.

Reuters melaporkan bahwa gelombang ancaman pada hari tersebut sempat menyebabkan penutupan sementara sebuah bandara di Warsawa dan pengerahan pesawat Angkatan Udara Italia di Roma.

Menurut AFP, pemeriksaan menyeluruh tidak menemukan bahan peledak di pesawat-pesawat yang terdampak. Maskapai bertarif rendah asal Irlandia, Ryanair, menjadi salah satu yang paling terdampak, dengan empat penerbangannya menerima ancaman bom.

Dua penerbangan tujuan Warsawa turut menjadi sasaran, masing-masing pesawat SAS Scandinavian Airlines dari Kopenhagen dan LOT dari Bandara Heathrow, London.

Ancaman terhadap penerbangan tersebut muncul berdekatan dengan serangan siber yang melumpuhkan sistem pendingin di sejumlah supermarket di beberapa negara Eropa.

Sejumlah pakar menduga ancaman bom palsu mungkin menjadi bagian dari pola gangguan serupa yang relatif murah untuk dilakukan, sulit ditelusuri pelakunya, tetapi dapat menimbulkan kerugian ekonomi.

CEO perusahaan keamanan siber penerbangan Cyviation, Eliran Almog, mengatakan kepada Reuters bahwa ancaman yang terjadi berulang kali dapat bertujuan mengganggu operasional sekaligus mengamati bagaimana maskapai, pengelola bandara, dan otoritas nasional merespons situasi darurat.

"Ancaman terhadap penerbangan ini terjadi pada periode yang sama dengan serangan siber terhadap sistem pendingin supermarket di seluruh Eropa," kata Almog.

"Berbagai layanan penting mengalami gangguan yang menimbulkan kerugian ekonomi dan dapat mengikis kepercayaan masyarakat."

Meski rangkaian insiden tersebut memperlihatkan pola gangguan terhadap layanan penting, belum ada bukti yang memastikan bahwa ancaman bom dan serangan siber di Eropa dilakukan oleh pihak yang sama.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya