Liputan6.com, Jakarta - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) diperkirakan menjadi salah satu pendorong pertumbuhan investasi dan pengeluaran pemerintah pada kuartal III 2026. Kedua program tersebut berpotensi meningkatkan aktivitas ekonomi, terutama pada sektor penyediaan makanan dan minuman serta konstruksi.
Dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), Denni Puspa Purbasari, menilai kontribusi kedua program tersebut terlihat dari pertumbuhan lapangan usaha yang berkaitan dengan pelaksanaan MBG dan KDMP.
Advertisement
“Sementara itu untuk investasi dan pengeluaran pemerintah, saya yakin ada pengaruh MBG dan KDMP di keduanya,” ujar Denni kepada Liputan6.com, Kamis (5/11/2026).
Menurut Denni, perkembangan tersebut tercermin dalam data PDB berdasarkan lapangan usaha. Sektor penyediaan makanan dan minuman serta konstruksi mencatat pertumbuhan tinggi seiring aktivitas yang berkaitan dengan kedua program pemerintah tersebut.
"Ini juga terlihat pada PDB dari sisi lapangan usahanya, di mana yang tumbuh tinggi adalah sektor yang terkait dengan kedua program ini, yaitu penyediaan makanan dan minuman serta konstruksi,” jelasnya.
Dorongan MBG dan KDMP terhadap investasi berpotensi muncul melalui pembangunan fasilitas pendukung dan peningkatan kebutuhan sarana operasional. Sementara itu, pengeluaran pemerintah untuk menjalankan program tersebut dapat meningkatkan permintaan barang dan jasa serta menggerakkan aktivitas usaha di berbagai daerah.
Denni juga menyoroti pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,47% pada kuartal III 2026 yang berada di luar perkiraannya. Konsumsi rumah tangga sebagai kontributor terbesar PDB masih tumbuh di atas 5% secara tahunan (year-on-year/yoy), meskipun sejumlah indikator menunjukkan tekanan daya beli.
Di sisi lain, kredit konsumsi pada September 2026 hanya tumbuh 4,86% yoy, lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 7,3%. Pertumbuhan upah nominal buruh, karyawan, dan pegawai pada Agustus 2026 juga hanya mencapai 2,7%, sedangkan inflasi mencapai 3,2% yoy.
Pertumbuhan Ekonomi RI 5,47%, Restoran hingga MBG Jadi Pendorong
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,47 persen secara tahunan (year-on-year) pada kuartal III 2026. Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga masih menjadi motor penggerak utama yang menopang kinerja perekonomian nasional pada periode tersebut.
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Moh. Edy Mahmud, mengungkapkan bahwa konsumsi rumah tangga memberikan kontribusi sumber pertumbuhan terbesar, yakni sebesar 2,62 persen.
Selain konsumsi rumah tangga, pertumbuhan ekonomi juga ditopang oleh Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi dengan sumber pertumbuhan sebesar 1,91 persen. Sementara itu, konsumsi pemerintah menyumbang sumber pertumbuhan sebesar 0,62 persen.
"Jika dilihat dari sumber pertumbuhannya pada triwulan III 2026, konsumsi rumah tangga masih menjadi sumber pertumbuhan terbesar yaitu 2,62 persen. Selain itu, pertumbuhan ekonomi triwulan III 2026 juga ditopang oleh komponen PMTB dengan sumber pertumbuhan 1,91 persen dan konsumsi pemerintah sebesar 0,62 persen," ujar Edy dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (5/11/2026).
Edy memaparkan, kuatnya konsumsi rumah tangga sejalan dengan peningkatan mobilitas masyarakat yang mendorong aktivitas ekonomi di berbagai sektor.
Pertumbuhan konsumsi rumah tangga tertinggi tercatat pada kelompok pengeluaran restoran dan hotel yang melonjak 6,59 persen. Peningkatan ini dipicu oleh maraknya konsumsi makanan jadi di rumah makan dan restoran.
Selain itu, kelompok pengeluaran transportasi dan komunikasi juga tumbuh tinggi sebesar 5,83 persen. Kinerja ini didorong oleh mobilitas masyarakat yang tinggi serta maraknya penyelenggaraan berbagai acara pertunjukan seni dan kegiatan olahraga.
Investasi dan Program Makan Bergizi Gratis Ikut Menopang
Di samping konsumsi masyarakat, komponen investasi (PMTB) turut menjadi pilar penopang pertumbuhan ekonomi nasional. Pertumbuhan PMTB tertinggi dicatatkan oleh subkomponen kendaraan yang melesat 12,96 persen, baik dari kendaraan produksi dalam negeri maupun impor.
Kinerja PMTB ini berbanding lurus dengan peningkatan realisasi investasi yang dirilis Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), yakni tumbuh 7,59 persen.
Sementara itu, konsumsi pemerintah ikut bertumbuh seiring berjalannya realisasi belanja negara di berbagai lini program.
"Pertumbuhan konsumsi pemerintah didorong oleh peningkatan realisasi belanja pegawai, terutama gaji dan tunjangan ASN. Selain itu, ada kenaikan realisasi belanja barang dan jasa yang diserahkan langsung kepada masyarakat, di antaranya melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG)," pungkas Edy.