Liputan6.com, Washington, DC - Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) JD Vance secara terbuka menunjukkan perbedaan sikap dengan Presiden Donald Trump terkait perang melawan Iran pada Rabu (4/11/2026), menyusul kekalahan besar Partai Republik dalam pemilu paruh waktu AS.
Sikap tersebut mengindikasikan upaya Vance mengambil jarak dari Trump setelah para pemilih menunjukkan penolakan terhadap kebijakan presiden. Langkah ini muncul ketika Vance sendiri menghadapi pertanyaan mengenai ambisi politiknya.
Advertisement
Vance sebelumnya menyatakan akan memutuskan setelah pemilu apakah dirinya akan mencalonkan diri sebagai presiden pada 2028.
Dalam unggahan panjang di media sosial, Vance menyalahkan perang melawan Iran yang tidak populer sebagai penyebab kekalahan telak Partai Republik.
"Jika Anda ingin berpendapat bahwa perang melawan Iran memang layak dilakukan, meskipun akibatnya Partai Republik kehilangan kendali atas Senat selama enam tahun ke depan, silakan saja," tulis Vance.
Namun, Trump justru berulang kali membela perang tersebut sebagai langkah yang diperlukan. Ia mempertahankan sikap itu sepanjang kampanye, dalam sejumlah wawancara ketika hasil pemilu mulai diketahui, hingga kembali menegaskannya pada Rabu pagi.
Saat mengajak wartawan secara mendadak meninjau pembangunan aula dansa di Gedung Putih, Trump mengatakan, "Urusan Iran itu memang harus kami lakukan dan kami akan terus melakukannya."
Trump mengaku telah berbicara dengan Vance pada Rabu pagi. Ketika ditanya mengenai unggahan wakil presidennya, Trump menyebutnya "bagus".
"Saya tahu bagaimana perasaannya mengenai hal itu," kata Trump. Ia kemudian menambahkan, "Menurut saya, itu tidak masalah."
Trump mengakui bahwa dirinya sejak awal mengetahui perang tersebut akan berdampak pada hasil pemilu paruh waktu. Meski demikian, ia tetap membela keputusannya.
Vance selama ini dikenal sebagai pendukung kebijakan yang membatasi keterlibatan militer AS di luar negeri. Ketika Trump memulai perang melawan Iran, Vance tidak menunjukkan dukungan yang terlalu kuat. Ia bahkan sempat menjadi tokoh utama dalam upaya mengakhiri pertempuran, meskipun langkah tersebut gagal.
Pemilih AS Menunjukkan Penolakan terhadap Perang Iran
Sekitar enam dari 10 pemilih menilai keputusan AS mengambil tindakan militer terhadap Iran sebagai langkah yang salah, menurut AP Voter Poll, survei terhadap lebih dari 100.000 pemilih di Amerika Serikat.
Sebagian besar pemilih yang tidak puas dengan perang tersebut memberikan suara kepada kandidat Partai Demokrat dalam pemilihan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) AS.
Namun, survei itu menunjukkan bahwa perang Iran bukanlah persoalan utama yang menentukan pilihan sebagian besar pemilih.
Hanya sekitar sepertiga pemilih yang menyebut perang Iran sebagai faktor yang sangat menentukan pilihan mereka dalam pemilu Kongres AS. Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan sekitar separuh pemilih yang menganggap biaya hidup atau korupsi pemerintah sebagai faktor yang sangat menentukan.
Hampir seluruh pemilih yang mendukung kandidat Partai Demokrat dalam pemilihan DPR AS menilai keputusan berperang melawan Iran sebagai langkah yang salah. Sebaliknya, sekitar delapan dari 10 pemilih pendukung kandidat Partai Republik menganggap keputusan tersebut tepat.
Vance merupakan mantan anggota Korps Marinir AS yang pernah bertugas di Irak. Ia sebelumnya mengkritik perang di negara tersebut dan, setelah menjabat wakil presiden, menyatakan bahwa pemerintahan Trump tidak akan mengirim pasukan ke dalam konflik berkepanjangan tanpa batas waktu yang jelas, seperti yang pernah terjadi pada masa lalu.
Ketika Trump memulai perang melawan Iran pada musim semi lalu, Vance terlihat jarang memberikan pernyataan mengenai konflik tersebut. Sikap diamnya cukup mencolok karena ia selama ini dikenal sebagai politikus yang vokal dan kerap membela Trump dengan keras.
Pada musim panas, Vance sempat menyampaikan pandangan bahwa perang tersebut sepadan dengan pengorbanannya.
"Jika kita berhasil mengubah Timur Tengah, pada dasarnya semua ini sepadan dengan pengorbanannya," kata Vance dalam wawancara dengan pembawa acara podcast konservatif Megyn Kelly.
Vance Sebut Penyebab Kekalahan Partai Republik Sudah Jelas
Setelah Partai Demokrat merebut kendali atas DPR dan Senat dalam pemilu Selasa (3/11), Vance menyatakan melalui unggahannya bahwa "alasan sebenarnya kekalahan kita sudah jelas bagi hampir semua orang".
Partai Demokrat bahkan berhasil mengalahkan kandidat Partai Republik di sejumlah wilayah yang selama ini menjadi basis kuat partai tersebut, termasuk daerah-daerah yang dimenangkan Trump dengan selisih suara besar pada pemilu dua tahun sebelumnya.
Menurut Vance, sejumlah pemilih yang biasanya mendukung Partai Republik beralih memberikan suara kepada Partai Demokrat karena perang Iran, tingginya biaya hidup, anggapan bahwa kepentingan Amerika tidak lagi menjadi prioritas, serta hubungan AS dengan Israel.
Dalam persoalan hubungan dengan Israel, Vance sebelumnya telah menunjukkan pandangan yang berbeda dari Trump.
Berbeda dengan Trump, Vance menolak mendukung Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk kembali terpilih. Pada musim panas lalu, ia bahkan secara terbuka mengecam sejumlah anggota pemerintahan Israel yang menentang upaya Trump menyelesaikan perang dengan Iran.
Selain persoalan Iran dan Israel, Vance tampaknya mulai mengambil jarak dari kebijakan pengetatan imigrasi pemerintahan Trump yang menuai penolakan.
Padahal, selama ini Vance dikenal sebagai pendukung kuat kebijakan imigrasi pemerintahan tersebut.
"Saya terbuka terhadap gagasan bahwa kita perlu mengubah cara penegakan hukum, misalnya dengan lebih memusatkan perhatian kepada perusahaan yang mempekerjakan pekerja ilegal," tulis Vance.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa dirinya menolak usulan dari politikus mana pun yang ingin memberikan amnesti kepada orang-orang yang tinggal di AS tanpa izin resmi.