Dulu Rebutan dengan Beyonce-Jay Z, Bos Minecraft Lego Rumah Rp 1,27 Triliun Tanpa Cuan!

Pencipta Minecraft Markus "Notch" Persson menjual mansion mewah di Beverly Hills seharga Rp 1,27 triliun di tengah lesunya pasar dan isu pajak California.

oleh Rachel AuliaDiterbitkan 05 November 2026, 20:00 WIB
Funny Minecraft jokes that will leave you laughing out loud. (Photo: Mojang)

Liputan6.com, Jakarta - Miliarder asal Swedia sekaligus pencipta gim ikonik Minecraft, Markus "Notch" Persson, akan menjual rumah mewah di Beverly Hills, Amerika Serikat (AS). Menariknya, rumah tersebut dilego seharga US$ 70 juta atau sekitar Rp 1,27 triliun (asumsi kurs Rp 18.159 per dolar AS)—angka yang sama persis saat ia beli pada 2014.

Mansion megah seluas 2.071 meter persegi yang terletak di kawasan elit Trousdale Estates ini dulunya sempat menghebohkan publik. Pasalnya, demi meminang properti ini, Persson berhasil mengalahkan penawaran dari pasangan penyanyi ternama, Beyonce dan Jay-Z.

Pembelian fantastis tersebut terjadi hanya beberapa bulan setelah Persson menjual Mojang, studio di balik kesuksesan Minecraft, kepada Microsoft senilai US$ 2,5 miliar atau sekitar Rp 45 triliun.

Namun kini, sang miliarder memutuskan untuk mengubah aset megahnya tersebut kembali menjadi dana tunai.

ika properti ini berhasil laku sesuai harga penawaran, transaksi ini akan mencatatkan rekor sebagai penjualan rumah termahal di Beverly Hills sepanjang tahun ini, sekaligus menjadi yang termahal kedua di wilayah Los Angeles County.

Agen real estat dari Christie's International, Aaron Kirman dan Katia De Los Reyes, membeberkan bahwa Persson menjual properti tersebut lantaran sudah jarang menghabiskan waktu di Los Angeles. Kirman juga mengakui bahwa pasar properti mewah di AS saat ini sedang lesu.

"Kami tidak lagi mematok harga yang terlalu muluk-muluk," jelasnya dikutip dari Yahoo Finance, Kamis (5/11/2026).

Mansion yang awalnya sempat ditawarkan seharga US$ 85 juta (sekitar Rp 1,54 triliun) oleh developer Bruce Makowsky ini dibekali fasilitas super mewah. Mengutip Forbes, hunian ini memiliki ruang khusus permen senilai US$ 200.000 (Rp 3,62 miliar), gudang anggur berkapasitas 2.500 botol, bioskop pribadi 18 kursi, hingga lift mobil bergaya galeri.

Tak berhenti di situ, Persson bahkan sempat merogoh kocek jutaan dolar lagi untuk merenovasi rumah tersebut dengan menambahkan studio rekaman serta klub malam pribadi yang dilengkapi bilik DJ, bar, dan lantai dansa.

Isu Pajak Miliarder California

Waktu penjualan properti ini memicu spekulasi karena bertepatan dengan momen politik penting di California. Para pemilih di negara bagian tersebut tengah memberikan suara untuk Proposisi 40, yakni aturan pajak satu kali sebesar 5% atas kekayaan bersih para miliarder yang berstatus sebagai penduduk California per 1 Januari 2026.

Wacana pajak ini sebelumnya telah memicu eksodus para konglomerat dari California. Pendiri Google, Larry Page, dilaporkan pindah ke Miami, sementara Sergey Brin memilih pindah ke Nevada. Begitu pula dengan pendiri Uber, Travis Kalanick, yang memboyong domisilinya ke Austin. Bos Meta, Mark Zuckerberg, juga dikabarkan telah mengatur strategi khusus untuk meminimalisasi dampak aturan ini.

Kendati demikian, tidak ada bukti langsung bahwa penjualan rumah Persson didorong oleh motivasi menghindari pajak. Aturan tersebut sejatinya mengecualikan aset real estat yang dimiliki langsung atas nama individu. Pihak agen juga menegaskan bahwa keputusan penjualan ini sama sekali tidak berkaitan dengan pemungutan suara tersebut.

 

Luluh dan Ketagihan Pakai AI

Selain urusan properti, Persson belakangan ini juga menjadi perbincangan hangat imbas perubahan drastis sikapnya terhadap teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Pada awal tahun ini, ia sempat melayangkan kritik pedas terhadap penggunaan AI dalam penulisan program (coding) dan menyebut para pendukungnya sebagai pihak yang tidak kompeten.

Namun, pria yang ditaksir mengantongi kekayaan bersih US$ 1,5 miliar atau sekitar Rp 27,19 triliun ini akhirnya mengambil langkah balik arah.

Akibat kesulitan mendapatkan programmer berbakat, ia mulai mencoba menggunakan bantuan AI pada Juli lalu. Puncaknya pada September, ia secara terbuka mengaku telah sepenuhnya menikmati teknologi tersebut (vibe coding).

"Saya akui, saya menikmati vibe coding (menulis kode dengan bantuan AI). Sepertinya saya sempat sedikit salah menilai," tulis Persson lewat akun X (Twitter) pribadinya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya