Liputan6.com, Jakarta - Di tengah kondisi ekonomi yang penuh tantangan dan ketidakpastian, kebutuhan terhadap perlindungan finansial melalui asuransi justru semakin penting. FWD Syariah menilai asuransi seharusnya menjadi kebutuhan primer masyarakat, bukan sekadar kebutuhan sekunder atau tersier.
Direktur Utama Perusahaan Asuransi Indonesia FWD Syariah, Ade Bungsu, mengatakan kebutuhan proteksi tidak bergantung pada baik atau buruknya kondisi ekonomi. Bahkan, ketika perekonomian sedang tertekan, asuransi dapat menjadi salah satu penopang keuangan masyarakat.
Advertisement
“Justru saya lihat bahwa dalam situasi ekonomi buruk, proteksi itu menjadi tulang punggung,” ucap Ade dalam acara peresmian FWD Syariah, Rabu (4/11/2026).
Ia mengajak masyarakat membayangkan risiko kehilangan pekerjaan yang terjadi bersamaan dengan musibah lainnya. Tanpa perlindungan asuransi, kondisi tersebut berpotensi semakin membebani keuangan keluarga.
Karena itu, Ade menilai perlu ada peningkatan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya asuransi.
“Kita perlu meningkatkan awareness atau pemahaman mengenai asuransi. Jadi asuransi itu tidak ditempatkan sebagai kebutuhan tersier atau sekunder, bahkan harusnya kebutuhan primer,” ungkapnya, sembari menambahkan, asuransi akan memberi proteksi pada masa-masa sulit.
Ade mencontohkan situasi seperti pandemi Covid-19 yang sebelumnya sulit diprediksi. Ketika wabah terjadi, ekonomi dan pasar saham ikut mengalami tekanan sehingga masyarakat membutuhkan perlindungan untuk menghadapi dampaknya.
Pentingnya Edukasi dan Literasi
Ade menambahkan, edukasi dan literasi asuransi perlu terus diperkuat agar semakin banyak masyarakat memahami manfaat perlindungan finansial. Menurut dia, asuransi tidak selalu identik dengan biaya mahal karena tersedia beragam pilihan produk yang dapat disesuaikan dengan kemampuan calon nasabah.
“Makanya pemahaman bahwa edukasi, literasi, sangat penting, bagaimana semakin banyak masyarakat yang terproteksi. Jadi enggak menilai bahwa asuransi itu selalu dikaitkan dengan hal yang mahal.”
Ia juga melihat kondisi ekonomi yang menantang tetap membuka peluang bagi industri asuransi untuk memperluas perlindungan kepada masyarakat.
“Jadi misalkan dalam kondisi ekonomi seperti sekarang ada juga opportunity. Kita melihat setiap situasi ekonomi pasti ada kesempatan untuk unsur proteksi masuk,” kata dia.
Ade memandang industri asuransi memiliki peran penting sebagai salah satu penopang perekonomian dalam jangka panjang. Dengan masa perlindungan yang bisa berlangsung 10 tahun, 20 tahun, bahkan seumur hidup, asuransi dapat menjadi aset cadangan untuk menghadapi berbagai risiko ekonomi.
“Itulah kenapa, negara maju itu semakin besar jaminan, angka aset asuransi semakin kuat, karena pendanaan jangka panjangnya kuat,” ucap Ade.
Ia menambahkan, “Itu adalah salah satu tolak ukur negara maju, bahwa punya dana pensiun, punya asuransi aset jangka panjang itu sangat menguntungkan.”
Asuransi Berbasis Syariah
Pandangan serupa disampaikan Islamic Content Creator Habib Husein Ja’far. Ia menilai kondisi ekonomi yang tidak menentu justru menjadi alasan masyarakat membutuhkan asuransi.
“Karena in this economy, makanya kita pakai asuransi,” kata Habib Husein.
Menurut dia, melalui asuransi berbasis syariah, risiko dapat ditanggung bersama dengan mengedepankan prinsip ta'awun, gotong royong, dan saling peduli.
“Karena kita sadar bahwa kayaknya nggak bisa nih, kalau yang nanggung kita sendiri. Harus kita bagi tanggung jawabnya, bagi kepeduliannya bersama dengan orang lain,” ujar dia.
Habib Husein menegaskan, manfaat asuransi tidak hanya berkaitan dengan perlindungan, tetapi juga membantu masyarakat mengelola pengeluaran ketika menghadapi risiko.
“Kalau tidak pakai asuransi, apalagi in this economy, semuanya akan ribet dan mahal,” tegasnya.