Rupiah Tembus 18.000, UMKM Diminta Rela Untung Tipis Ketimbang Gulung Tikar

Asosiasi UMKM menuturkan, pelaku usaha menurunkan profit agar mampu bertahan.

oleh Immanuel ChristianDiterbitkan 04 November 2026, 14:01 WIB
Pekerja memasarkan produk secara online produk sepatu sandal yang akan di bengkel kerja Patris di kawasan Katulampa, Bogor, Senin, 24 Agustus 2026. (KLY/ Arie Basuki)

Liputan6.com, Jakarta - Pelemahan nilai tukar rupiah hingga menembus 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) berpotensi menekan keuntungan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Kenaikan biaya bahan baku impor dan penurunan daya beli masyarakat membuat pelaku usaha harus menghadapi tekanan dari sisi produksi maupun penjualan.

Sekretaris Jenderal Asosiasi UMKM Indonesia (Akumindo), Edy Misero, meminta pelaku UMKM menahan kenaikan harga jual dengan mengurangi margin keuntungan agar konsumen tetap mampu membeli produk mereka.

"Yang tadinya misalnya profit-nya bisa 15%, kenapa dengan kita mengurangi profit menjadi 8% atau 9%? Tidak apa-apa, karena 8% atau 9% itu masih mampu membuat kita bertahan,” ujar Edy saat dihubungi Liputan6.com, Rabu (4/11/2026).

Menurut Edy, pelemahan rupiah memberikan tekanan ganda kepada UMKM. Kenaikan kurs dolar AS membuat biaya bahan baku impor meningkat, sedangkan penurunan daya beli masyarakat berpotensi menghambat penjualan produk.

Karena itu, Edy meminta pelaku UMKM menjaga keberlangsungan usaha meskipun harus menerima keuntungan lebih rendah. Strategi tersebut dinilai lebih baik daripada menaikkan harga jual secara agresif dan kehilangan konsumen.

Di sisi lain, pelemahan rupiah membuka peluang bagi UMKM yang bergerak di sektor ekspor dan pariwisata. Kedua sektor tersebut berpotensi memperoleh penerimaan dalam dolar AS, sementara sebagian biaya operasional menggunakan rupiah.

“UMKM yang bekerja di sektor ekspor dan pariwisata tetap terbuka peluangnya untuk mendapatkan profit yang lebih baik. Bagaimana dengan pelaku UMKM yang lain? Pelaku UMKM yang lain itu harus tetap survive,” kata Edy.

 

Pemerintah Dimina Beri Kemudahan Akses Modal

Pekerja memasarkan produk secara online produk sepatu sandal yang akan di bengkel kerja Patris di kawasan Katulampa, Bogor, Senin, 24 Agustus 2026. (KLY/ Arie Basuki)

Edy juga menilai UMKM dapat menjadi alternatif sumber penghasilan bagi masyarakat yang kehilangan pekerjaan akibat pemutusan hubungan kerja (PHK). Masyarakat dapat beralih dari pekerja menjadi pelaku usaha untuk mempertahankan pendapatan keluarga.

Namun, keberlangsungan UMKM tidak hanya bergantung pada kemampuan pelaku usaha. Edy meminta masyarakat meningkatkan pembelian produk lokal agar permintaan terhadap produk dalam negeri tetap terjaga di tengah tekanan ekonomi.

Dia juga meminta pemerintah memberikan kemudahan akses modal kerja dan perizinan bagi UMKM. Selain itu, pemerintah perlu menjalankan ketentuan alokasi minimal 40% belanja pemerintah untuk produk dalam negeri.

“Kalau UMKM-nya ambruk, ekonomi Indonesia akan ambruk. Dan itu yang tidak kita mau. Kita tidak mau Indonesia collapse,” pungkas Edy.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya