Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah Kabupaten Lumajang menetapkan status keadaan tanggap darurat bencana hidrometeorologi terhitung sejak Senin (2/11/2026). Langkah cepat ini diambil menyusul rentetan bencana alam berupa tanah longsor dan banjir yang menerjang sejumlah wilayah.
Bupati Lumajang Indah Amperawati menegaskan, penetapan status darurat ini merupakan bentuk kesiapsiagaan penuh pemerintah daerah dalam menghadapi potensi bencana susulan.
Advertisement
"Langkah itu menjadi bagian dari kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana akibat cuaca ekstrem, termasuk banjir dan tanah longsor," ujar Indah, Rabu (4/11/2026).
Fokus utama Pemkab Lumajang saat ini tertuju pada keselamatan warga di sekitar aliran lahar Gunung Semeru. Mengingat banjir lahar sempat menerjang kawasan Besuk Kobokan, pemerintah memastikan kondisi warga di sekitar lokasi terpantau aman. Meski demikian, ia tetap mengimbau masyarakat untuk tidak lengah.
"Saya meminta warga tetap meningkatkan kewaspadaan karena curah hujan masih tinggi," tuturnya,
Tragedi memilukan di Desa Tamanayu, Kecamatan Pronojiwo di mana seorang ayah dan anaknya tewas akibat tertimbun longsor menjadi pengingat pahit akan bahaya nyata dari peralihan musim (pancaroba) menuju musim hujan.
Sementara itu, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lumajang, Isnugroho, memaparkan bahwa dampak bencana hidrometeorologi kali ini meluas setidaknya di enam kecamatan. Wilayah tersebut meliputi Kecamatan Jatiroto, Tempursari, Pasirian, Pronojiwo, Senduro, dan Candipuro.
Ia mencontohkan kondisi di Kecamatan Tempursari, di mana akses jalan di Desa Purorejo sempat terputus akibat terjangan banjir lahar Semeru. Peristiwa ini sempat mengisolasi 117 kepala keluarga (KK). Selain itu, terjangan banjir juga merusak tiga teras rumah warga dan membuat 10 rumah lainnya berada di ambang risiko ambruk.
"Saat ini akses bagi warga yang sebelumnya terisolasi sudah mulai terbuka kembali," jelas Isnugroho.
Warga diminta segera menjauh dari lokasi dan berkoordinasi dengan petugas, jika mendapati tanda-tanda pergerakan tanah atau kondisi lereng yang membahayakan, terutama saat hujan deras turun dengan intensitas tinggi.
"Kewaspadaan kolektif dinilai menjadi kunci utama untuk menekan risiko jatuhnya korban jiwa dan melindungi keselamatan keluarga di tengah ancaman cuaca ekstrem," tutupnya.