Liputan6.com, Jakarta - Empat pelajar Jakarta Intercultural School berhasil mengembangkan Loop, sebuah platform pelacak sampah. Inovasi ini pun meraih Gold Award dan IFIA Best Inventors' Award dalam ajang Korea International Youth Olympiad (KIYO 4i) 2026 di Seoul, Korea Selatan, pada Juli lalu.
Platform Loop menjadi bentuk kepedulian keempat pelajar tersebut terhadap lingkungan. Keempat pelajar tersebut adalah Scrapmint, Winston Tedja, Jiaming Sun, Kathan Lau, dan Junyoung Kwak
Advertisement
Tidak berhenti pada prestasi internasional, aplikasi yang mereka kembangkan juga diakuisisi oleh NextLoop, perusahaan pengelolaan sampah yang beroperasi di Indonesia, dengan nilai transaksi Rp 200 juta.
Menariknya, keempat pelajar tersebut memutuskan untuk mengembalikan seluruh hasil akuisisi untuk mendukung berbagai inisiatif lingkungan dan aksi iklim di Indonesia dan Korea Selatan.
Ide mengembangkan Loop berangkat dari persoalan yang sering luput dari perhatian: setelah dibuang, ke mana sebenarnya sampah pergi?. Melalui Loop, tim Scrapmint mengembangkan platform yang memungkinkan proses perpindahan sampah atau chain of custody dicatat dan ditelusuri, mulai dari sumber sampah hingga fasilitas pengolahan akhir.
Dengan demikian, setiap pengiriman sampah memiliki rekam jejak yang dapat diperiksa. “Selama ini kita hanya tahu sampah dibuang, tapi tidak tahu ke mana perginya. Loop kami buat supaya setiap kantong sampah punya jejak yang bisa diperiksa, dari tempat sampah sampai ke fasilitas daur ulang,” ujar Winston Tedja, salah satu pendiri Scrapmint.
Inovasi tersebut kemudian dipresentasikan dalam KIYO 4i 2026 di Seoul, sebuah ajang internasional yang mempertemukan inovator muda dari berbagai negara. Loop berhasil meraih Gold Award sekaligus IFIA Best Inventors' Award, menjadi pengakuan atas solusi yang dikembangkan oleh keempat pelajar tersebut.
Memilih Mengembalikan Hasil Akuisisi untuk Lingkungan
Bagi para pendiri Scrapmint, keberhasilan Loop diakuisisi bukanlah akhir dari perjalanan inovasi mereka. Dari total Rp 200 juta hasil akuisisi, Rp 100 juta dialokasikan untuk mengolah sampah yang dikumpulkan di salah satu pusat perbelanjaan di ibukota menjadi produk yang dapat dimanfaatkan kembali oleh masyarakat.
Hasilnya berupa bangku dan tempat sampah dari material daur ulang. Inisiatif ini diharapkan dapat memperlihatkan secara langsung bagaimana sampah yang dikelola dengan benar dapat diubah menjadi produk yang memiliki nilai guna.
Sementara itu, Rp 100 juta lainnya didonasikan untuk mendukung komunitas penggerak aksi iklim di Indonesia dan Korea Selatan. Komitmen tersebut juga membawa mereka mendapatkan Certificate of Distinction dari Korea Climate and Environment Network (KCEN), sebuah jaringan yang diketuai bersama oleh Menteri Iklim, Energi, dan Lingkungan Korea Selatan. Selain menerima penghargaan, para anggota Scrapmint berkesempatan mengikuti pelatihan lapangan yang berfokus pada dukungan bagi masyarakat dan wilayah rentan terhadap dampak perubahan iklim.
“Di Korea kami melihat bahwa adaptasi iklim bukan hanya urusan pemerintah. Ada data, ada relawan, dan warga tahu harus berbuat apa saat cuaca ekstrem datang. Itu yang ingin kami bawa pulang ke Indonesia,” tutur Junyoung Kwak, Bendahara Scrapmint.
Belajar Langsung dari Persoalan Lingkungan di Lapangan
Di luar pengembangan Loop, keempat pelajar ini juga aktif menjalankan berbagai kegiatan yang berfokus pada pengelolaan sampah, riset, dan edukasi lingkungan. Sejak April 2025, mereka telah membangun kemitraan dengan sembilan properti komersial di Jakarta untuk mendorong pemilahan dan pengelolaan sampah yang lebih bertanggung jawab.
Melalui program #MulaiDariSini, mereka memberikan pelatihan kepada para penyewa (tenant) mengenai cara memilah dan mendaur ulang sampah dengan benar. Program tersebut dijalankan bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta dan Korea Environmental Industry & Technology Institute (KEITI).
Berdasarkan data program, sekitar 80 persen sampah yang terkumpul dari properti-properti tersebut berhasil dialihkan dari tempat pembuangan akhir (TPA) menuju fasilitas daur ulang dan pengolahan sampah menjadi energi.
Di bidang riset, Scrapmint juga mengeksplorasi pemanfaatan sampah menjadi produk bernilai tambah. Salah satu inisiatifnya adalah bekerja sama dengan produsen pakan dan daging unggas di Indonesia untuk mengembangkan larva Black Soldier Fly (BSF) sebagai alternatif sumber protein untuk pakan unggas.
Mengajak Generasi Muda Terlibat
Di Jakarta Intercultural School, Scrapmint juga mengembangkan program edukasi sebaya (peer-to-peer) yang mengajak siswa terlibat langsung dalam daur ulang plastik. Bersama Olah Plastic, mereka mengadakan lokakarya yang mengajarkan siswa memilah, mencacah, dan mengolah botol plastik bekas menjadi produk baru menggunakan mesin cetak injeksi.
Ke depan, keempat pendiri berharap Loop dapat terus dikembangkan untuk mendukung pengelolaan sampah yang lebih bertanggung jawab. Perjalanan mereka menunjukkan bahwa usia muda bukanlah penghalang untuk berinovasi dan menghadirkan perubahan nyata bagi lingkungan.