Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada perdagangan Selasa (3/11/2026). Pergerakan mata uang Garuda masih dibayangi sejumlah sentimen global, mulai dari pemilihan umum paruh waktu di AS hingga ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah.
Rupiah ditutup di level 18.160 per dolar AS. Posisi tersebut melemah 4 poin atau 0,02 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di 18.156 per dolar AS.
Advertisement
Kondisi berbeda terlihat pada kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI). Kurs referensi tersebut justru menguat ke level 18.148 per dolar AS dari posisi sebelumnya 18.161 per dolar AS.
Analis mata uang sekaligus Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuabi, menilai perhatian pelaku pasar saat ini tertuju pada pemilihan umum paruh waktu atau midterm elections di Amerika Serikat yang berlangsung pada 3 November 2026.
“Saat ini perhatian pasar akan tertuju pada pemilihan umum paruh waktu AS pada tanggal 3 November,” ucapnya.
Mengutip Anadolu, pemilu paruh waktu AS pada 3 November 2026 digelar untuk memilih 35 anggota Senat dan seluruh 435 anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Pemilihan anggota legislatif dan gubernur juga berlangsung di sejumlah negara bagian.
Selain agenda politik tersebut, pasar juga menantikan serangkaian data ekonomi AS. Informasi tersebut dinilai penting untuk memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed).
Perkembangan Konflik AS dan Iran
Sejumlah data yang menjadi perhatian pasar antara lain laporan lowongan kerja atau JOLTS Job Openings yang dijadwalkan rilis pada Selasa (3/11/2026). Selanjutnya, data perubahan tenaga kerja versi ADP atau ADP Employment Change dan indeks ISM Services PMI akan diumumkan pada Rabu (4/11/2026).
Pelaku pasar juga menantikan laporan ketenagakerjaan AS atau Nonfarm Payrolls (NFP) yang dijadwalkan rilis pada Jumat (6/11/2026). Rangkaian data tersebut menjadi salah satu acuan untuk membaca kondisi ekonomi AS dan prospek kebijakan moneter The Fed.
Sentimen lain yang turut membayangi pasar valuta asing berasal dari perkembangan konflik AS dan Iran. Mengutip laporan The Wall Street Journal, AS disebut telah menyerang Pulau Qeshm milik Iran dengan tujuan mencegah negara tersebut memiliki keleluasaan menyerang kapal-kapal komersial di Selat Hormuz.
Sebelumnya, pada Senin (2/11/2026), Presiden AS Donald Trump menyampaikan keraguan mengenai kemungkinan melanjutkan ancaman serangan militer terhadap Iran. Ia juga menyebut kesepakatan dengan Teheran masih mungkin tercapai.
Di sisi lain, komunikasi antara Iran dan AS untuk mengakhiri perang disebut masih berlangsung.
“Pernyataan ini muncul setelah serangkaian pembicaraan antara Iran dan pihak penengah dari Qatar berakhir dengan usulan yang telah diubah, namun belum menghasilkan terobosan berarti. Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menyatakan bahwa Pemimpin Tertinggi Ayatollah Mojtaba Khamenei telah memberikan wewenang tertentu kepada pemerintah untuk melakukan pembicaraan damai,” ungkap Ibrahim.