Asal-usul Kartu Kredit, Berawal dari Komunitas Makan Malam

Dari lempengan logam hingga chip digital, begini perjalanan kartu kredit mengubah gaya hidup dan sistem pembayaran dunia.

oleh Idris Rusadi PutraDiterbitkan 03 November 2026, 13:30 WIB
Jangan Jadikan Kartu Kredit Dana Darurat. (rupixen/Unsplash)

Liputan6.com, Jakarta - Pada tahun 1951, sebuah gagasan baru mendadak jadi sorotan. Saat itu, ada sekitar 42.000 anggota Diners’ Club yang bisa menikmati malam di pusat kota tanpa perlu membawa uang tunai. Mereka cukup menorehkan tanda tangan di lembar tagihan, lalu membayarnya sebulan kemudian.

Bagi orang-orang pada masa itu, pengalaman tersebut terasa sangat ajaib. Namun bergeser 65 tahun kemudian, kemudahan ini sudah menjadi hal biasa. Hari ini, mayoritas warga Amerika Serikat mengantongi kartu kredit di dompet mereka. Lantas, bagaimana selembar kartu plastik bisa membentuk gaya hidup global seperti sekarang?

Mengutip Majalah Time, Selasa (3/11/2026), jauh sebelum kartu fisik diciptakan, ide tentang 'kartu kredit' sebenarnya sudah muncul pada 1888 dalam novel karya Edward Bellamy berjudul Looking Backward. Bellamy membayangkan dunia masa depan yang adil, di mana setiap warga negara memiliki kartu berisi jatah kredit tahunan dari negara. Meski konsepnya lebih mirip kartu debit modern, Gagasan Bellamy menjadi salah satu gambaran awal mengenai konsep kartu pembayaran, meskipun sistem yang dibayangkannya lebih menyerupai kartu debit modern.

Namun jika dirunut lebih jauh, tradisi utang-piutang konsumen sebenarnya bermula dari masyarakat agraris. Ekonom keuangan, Lewis Mandell menjelaskan bahwa para petani sejak lama terbiasa meminjam uang untuk membeli benih dan peralatan, lalu baru melunasinya saat musim panen tiba.

Ketika zaman berkembang dan toko-toko besar mulai bermunculan di wilayah perkotaan, para pemilik toko tak lagi bisa mengandalkan ingatan untuk mengenali pelanggan langganan. Toko-toko kelas atas pun mulai menerbitkan koin atau lempengan identifikasi khusus. Meski hanya bisa digunakan di satu toko tertentu, inilah cikal bakal kredit konsumen modern.

Revolusi Charga-Plate hingga Kartu Bank Pertama

Anak muda juga perlu tahu apa bedanya kartu kredit Visa dan MasterCard.

Memasuki awal abad ke-20, inovasi terus bermunculan. Western Union menerbitkan lempengan logam (metal money) pada 1914 bagi pelanggan terpilih agar bisa menunda pembayaran. Langkah ini disusul oleh perusahaan minyak yang mengeluarkan kartu serupa untuk layanan di SPBU mereka. 

Tak lama kemudian, hadir Charga-plate sebuah kartu logam berembos yang memudahkan kasir mencetak data pelanggan ke atas kertas transaksi. Tren ini sangat digemari toko serba ada (department store).

Langkah besar berikutnya terjadi pada 1946 ketika John C. Biggins dari Flatbush National Bank merilis sistem Charg-It. Ini adalah kartu bank pertama yang memungkinkan warga di kawasan Brooklyn berbelanja di berbagai toko lokal, lalu menagihkan pembayarannya ke pihak bank.

Era Diners’ Club dan Gesekan Kartu Plastik

Dibalik kemudahan dari kartu kredit. (unsplash.com/@cardmapr)

Titik balik industri ini terjadi pada 1950 lewat kehadiran Diners’ Club yang didirikan oleh Frank X. McNamara dan Ralph Schneider. Berbeda dengan pendahulunya, Diners’ Club adalah perusahaan kartu independen pertama yang bisa diterima di berbagai jaringan restoran dan toko mitra. 

Berawal dari 200 anggota di 14 restoran New York, Diners’ Club meledak menjadi 42.000 anggota hanya dalam waktu satu tahun, dengan nilai transaksi menembus US$ 500.000 per bulan. Kehadiran Diners Club menjadi tonggak penting perkembangan kartu pembayaran yang dapat digunakan di berbagai tempat usaha.

Persaingan pun memanas. American Express yang populer dengan cek perjalanannya meluncurkan kartu kredit pada 1958. Pada tahun yang sama, Bank of America membagikan 60.000 kartu BankAmericard (cikal bakal Visa) secara massal di California.

Inovasi tak berhenti di situ. Bahan kartu yang semula kertas atau logam mulai digantikan oleh plastik pada akhir 1950-an. Pada era 1960-an, IBM mengembangkan pita magnetik (magnetic stripe) di bagian belakang kartu, sebuah ide cerdas yang kabarnya terwujud setelah istri seorang insinyur menyarankan untuk menempelkan pita tersebut menggunakan setrika!

Kini, teknologi terus berkembang pesat. Pita magnetik perlahan digantikan oleh chip yang lebih aman, sementara dompet digital seperti Apple Pay mulai menggeser penggunaan kartu fisik.

Apakah kartu kredit plastik akan segera punah dan menjadi kenangan sejarah? Lewis Mandell menyikapi prediksi tersebut dengan santai.

"Banyak orang merasa umur kartu kredit plastik tidak akan lama lagi," ujar Lewis Mandell yang merupakan perintis penelitian di bidang literasi keuangan (financial literacy) dan sejarah industri kartu kredit.

"Tapi lucunya, ramalan seperti itu sudah sering kita dengar sejak 50 tahun lalu."

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya