Harga Minyak Anjlok, Rupiah Menguat ke 18.149 per Dolar AS

Analis prediksi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) akan menguat terbatas pada Selasa, (3/11/2026).

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 03 November 2026, 10:22 WIB
Teller menghitung mata uang Rupiah di Jakartal. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melesat pada pembukaan perdagangan Selasa, (3/11/2026). Analis memprediksi, rupiah terhadap dolar AS naik terbatas dipengaruhi koreksi harga minyak dunia.

Mengutip Antara, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS naik tujuh poin atau 0,04% menjadi 18.149 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di 18.156 per dolar AS.

“Rupiah diperkirakan masih berfluktuatif dalam rentang ketat dengan potensi menguat terbatas didukung oleh penurunan harga minyak mentah dunia yang cukup besar oleh harapan pembicaraan damai Timteng (Timur Tengah),” ujar Analis Doo Financial Lukman Leong.

Mengutip Anadolu, minyak mentah Brent turun US$ 105 per barel untuk pertama kalinya sejak awal Oktober per Senin, 2 November 2026 dengan penurunan hampir 8% seiring meredanya kekhawatiran mengenai gangguan pasokan minyak berkat diplomasi antara AS dan Iran.

Minyak mentah Brent, yang menjadi acuan internasional, diperdagangkan pada harga US$ 104,43 per barel pada pukul 17.00 GMT, turun 7,94%. West Texas Intermediate (WTI), minyak acuan Amerika Serikat, turun US$ 7,62 per barel atau 7,32% menjadi US$ 96,50 per barel.

Menurut kantor berita pemerintah Iran, IRNA, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Mojtaba Khamenei telah menyetujui upaya pemerintah untuk menegosiasikan pengakhiran konflik.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan pada Senin, 2 November 2026, Wakil Menteri Luar Negeri Kazem Gharibabadi telah bertukar pesan dengan pihak Washington melalui mediator Qatar di Doha. Baghaei menyatakan, pembukaan kembali Selat Hormuz akan menuntut Amerika Serikat untuk mencabut blokade angkatan lautnya terhadap Iran.

 

Prediksi Rupiah

Ilustrasi rupiah dan dolar AS (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan pada Sabtu, 31 Oktober 2026, Presiden AS Donald Trump lebih memilih penyelesaian melalui jalur diplomasi dan belum memutuskan apakah akan memerintahkan serangan baru terhadap Iran.

Di samping itu, investor disebut masih berhati-hati di tengah pekan ini yang padat data ekonomi dan mengantisipasi pemilu legislatif paruh waktu AS pada bulan ini.

“Data AS di antaranya data pekerjaan Jolt dan NFP serta data ISM, dari domestik investor menantikan data PDB (Produk Domestik Bruto) kuartal III Indonesia pada hari Kamis. PDB YoY (year on year) Indonesia diperkirakan 5,2%, turun dari 5,29%, sedangkan QoQ (quarter over quarter) tumbuh 1,3%, lebih rendah dari 3,73% sebelumnya,” ujar Lukman.

Pergerakan rupiah juga masih dipengaruhi sentimen di pasar ekuitas yang masih lemah.

Berdasarkan faktor-faktor tersebut, rupiah diprediksi berkisar 18.100-18.200 per dolar AS.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya